Sekolah sebagai lembaga pendidikan memiliki tujuan utama untuk mendidik para siswa dalam rangka mengembangkan potensi diri mereka. Tidak hanya menyampaikan materi pelajaran akademis, namun juga membentuk karakter dan akhlak yang baik. Namun, dalam kenyataannya, sekolah sering kali tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga dapat menjadi arena bagi berbagai masalah sosial, salah satunya adalah bullying.
Mutu Sekolah dan Proses Pembelajaran
Mutu suatu sekolah sangat dipengaruhi oleh kualitas proses pembelajaran yang berlangsung di dalamnya. Sebagai pusat pendidikan, sekolah tidak hanya bertanggung jawab untuk mengajarkan pengetahuan, tetapi juga untuk membimbing siswa agar mampu mengembangkan potensi diri, melatih kemampuan sosial, serta menanamkan nilai-nilai moral yang baik. Hal ini sesuai dengan pandangan John Dewey, seorang filsuf pendidikan terkenal, yang berpendapat bahwa pendidikan harus berfokus pada perkembangan individu dan pembentukan karakter sosial yang baik dalam masyarakat.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, fenomena bullying semakin menjadi perhatian di banyak sekolah. Beberapa siswa mengalami berbagai bentuk intimidasi, baik itu secara verbal, emosional, bahkan fisik. Bullying bukan hanya merusak suasana belajar, tetapi juga bisa meninggalkan dampak psikologis yang sangat besar pada korban, termasuk depresi hingga tindakan bunuh diri.
Jenis dan Dampak Bullying
Bullying di sekolah dapat terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari intimidasi verbal seperti ejekan atau penghinaan, hingga kekerasan fisik yang dapat menyebabkan cedera serius. Bahkan, dalam kasus yang lebih ekstrem, bullying dapat menyebabkan hilangnya nyawa akibat kekerasan langsung. Dampak yang lebih parah lagi adalah gangguan kesehatan mental pada korban yang sering merasa terisolasi, tidak dihargai, dan kehilangan rasa percaya diri.
Menurut Dan Olweus, seorang psikolog Norwegia yang dikenal sebagai pelopor dalam penelitian tentang bullying, bullying adalah suatu perilaku agresif yang dilakukan dengan sengaja untuk menyakiti atau merendahkan seseorang yang lebih lemah. Olweus menekankan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan penuh kasih sayang sebagai langkah preventif dalam mengatasi masalah bullying.
Strategi Mencegah Bullying di Sekolah
Sekolah harus berperan aktif dalam mencegah dan menangani bullying. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil oleh sekolah, khususnya SMK N 10 Semarang, untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan nyaman bagi para siswanya:
Pertama, Menjadi Guru yang Jeli dan Peka. Guru perlu memiliki kepekaan lebih terhadap perubahan perilaku siswa. Hal ini penting, karena sering kali perilaku bullying tidak terlihat secara langsung. Guru harus mampu membaca tanda-tanda awal bullying, terutama yang dilakukan secara halus melalui ejekan atau sindiran. Paulo Freire, seorang pendidik asal Brasil, pernah menekankan pentingnya guru untuk menjadi fasilitator yang peka terhadap kondisi sosial dan psikologis siswanya. Sebagai pendidik, guru harus bisa menciptakan hubungan yang saling percaya agar siswa merasa nyaman melaporkan kejadian bullying.
Kedua, Mengawasi Tanda-Tanda Awal Bullying. Sebagai seorang guru, memang tidak mudah untuk mengawasi banyak siswa dalam waktu bersamaan. Namun, hal ini bukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan. Guru perlu memperhatikan perilaku-perilaku kecil yang seringkali dianggap remeh, seperti cemoohan, pelecehan verbal, atau bahkan sikap mengucilkan teman. Sebagaimana dikatakan oleh Albert Bandura, seorang psikolog yang mengembangkan teori pembelajaran sosial, perilaku bullying dapat diperoleh melalui proses observasi dan imitasi, yang dapat dicegah dengan menciptakan lingkungan yang lebih positif dan mendukung.
Ketiga, Tanggapi dengan Serius dan Penuh Kepedulian. Ketika ada indikasi bullying, penting bagi guru untuk merespons dengan serius. Tanggapan ini bukan hanya untuk melindungi korban, tetapi juga untuk memberi pesan kepada pelaku bahwa perilaku mereka tidak bisa diterima. Guru harus mampu menegaskan bahwa bullying adalah bentuk kekerasan psikologis yang dapat merusak masa depan seseorang, dan ada konsekuensi serius bagi pelaku. Dalam hal ini, Lev Vygotsky, seorang ahli pendidikan Rusia, menekankan pentingnya peran interaksi sosial dalam perkembangan anak, sehingga guru dan teman sebaya memiliki pengaruh besar dalam membentuk perilaku anak.
Keempat, Menciptakan Ruang Kelas yang Aman. Ruang kelas yang aman tidak hanya sebatas tempat untuk belajar, tetapi juga tempat di mana siswa merasa dihargai dan diterima. Dalam konteks ini, Maria Montessori, seorang tokoh pendidikan terkemuka, mengajarkan bahwa pendidikan harus menghormati keunikan individu dan memungkinkan siswa untuk berkembang dalam lingkungan yang mendukung. Menciptakan ruang kelas yang aman melibatkan rasa saling menghormati dan empati antar sesama siswa. Dengan adanya suasana yang saling mendukung, siswa akan lebih berani melaporkan jika mereka menjadi korban atau saksi bullying.
Kelima, Melibatkan Orang Tua dalam Penanganan Bullying. Bullying bukan hanya masalah di sekolah, tetapi juga di rumah. Oleh karena itu, sangat penting untuk melibatkan orang tua dalam setiap langkah penanganan kasus bullying. Guru harus mengkomunikasikan kejadian bullying secara transparan kepada orang tua pelaku dan korban, dengan tujuan agar orang tua juga bisa ikut bertanggung jawab dalam membimbing anak-anak mereka. Jean Piaget, seorang tokoh besar dalam psikologi pendidikan, mengajarkan bahwa interaksi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat sangat berpengaruh pada perkembangan anak. Oleh karena itu, kolaborasi yang baik antara sekolah dan orang tua akan menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi anak.
SMK N 10 Semarang dan sekolah lainnya memiliki peran besar dalam menciptakan lingkungan yang bebas dari bullying. Upaya untuk mencegah bullying tidak hanya bergantung pada guru, tetapi juga melibatkan semua pihak, termasuk siswa, orang tua, dan masyarakat. Dengan menerapkan langkah-langkah konkret, seperti menciptakan ruang kelas yang aman, mengawasi tanda-tanda awal bullying, dan melibatkan orang tua, kita dapat membangun sekolah yang lebih positif, penuh kasih sayang, dan bebas dari intimidasi. Mari bersama-sama kita ciptakan suasana sekolah yang nyaman, aman, dan mendukung perkembangan setiap individu tanpa adanya bullying.
“Ciptakan Inovasi, Tebarkan Manfaat”
“SMK Negeri 10 Semarang, dari Semarang untuk Indonesia”
Penulis: Elmina Ita Kusumawardani, S.Pd, M.Si., Guru Bimbingan dan Konseling
Penyunting: Tim Humas dan Literasi

Bullying, adanya ketidak nyamanan dalam pergaulan dilingkungan sekolah yang harus dihindari, hebat Bu Elmina, ayo semangat terus menghilangkan Bullying di SMK N 10 SMG 💪💪💪
Beri Komentar