Info Sekolah
Rabu, 28 Feb 2024
  • SMKN 10 Semarang Meraih Juara 2 Lomba Inovasi Sekolah Tahun 2023

Mengungkapkan Sikap Keteladanan Tokoh dalam Teks Biografi

Diterbitkan :

Biografi berasal dari bahasa Yunani “bios” yang berarti hidup dan graphein yang berarti menulis. Sehingga biografi dapat diartikan sebagai tulisan kehidupan. Dilansir dari Encyclopedia Britannica, biografi adalah karya sastra nonfiksi yang berisikan perjalanan hidup seseorang yang disertai dengan bukti lisan, tertulis, gambar, maupun hanya bentuk ingatan dari tokoh tersebut dan orang-orang disekitarnya. Biografi merupakan bentuk sejarah perjalanan hidup seseorang, baik tokoh yang masih hidup maupun yang telah lama meninggal. Cara mengungkapkan sikap-sikap keteladanan dalam teks biografi adalah dengan menuliskan sikap-sikap teladan tokoh tersebut. 

Berikut hal-hal yang bisa dipaparkan: (1) karakter teladan tokoh tersebut, (2) tujuan hidupnya, (3) bagaimana ia memperjuankan tujuan tersebut, (4) bagaimana caranya menghadapi dan memecahkan masalah dalam menggapai tujuannya, (5) sikap-sikap serta pemikirannya yang dapat menginspirasi banyak orang.

Sebagai contoh biografi dari RA.Kartini. Kartini saat itu menganggap wanita pribumi banyak yang tidak memiliki pendidikan layak sehingga tidak mengenal baca tulis. Mereka juga sering mendapat perlakuan diskriminasi jenis kelamin. Selain itu, wanita pribumi juga kerap tidak mendapatkan persamaan hak, kebebasan berpendapat, dan kesetaraan hukum. Itulah beberapa alasan Kartini yang bercita-cita ingin memajukan wanita Indonesia.

Contoh di atas dapat kita ambil sikap keteladanan dari RA. Kartini tidak membangkang, ia rela berkorban dan meredam ego untuk tetap patuh terhadap orang tuanya. Disamping itu ia juga tetap berusaha untuk menggapai cita-citanya. Menghormati orang lain berarti kita bisa menghargai mereka. Rela berkorban juga berarti kita lebih mementingkan kepentingan bersama dibanding pribadi

6 Sifat Teladan Kartini yang Dapat Kita Amalkan:

  1. Cerdas & Berwawasan Luas.Walaupun berhenti sekolah setelah umur 12 tahun dan dipingit, Kartini tetap semangat mempelajari hal-hal baru saat di rumah. Lewat kotak bacaan langganan ayahnya (leestrommel), ia memperkaya wawasan lewat buku, koran, dan majalah dari dalam maupun luar negeri. Bacaannya juga berbagai tema dari sosial, politik, hingga sastra.
  2. Memiliki Tekad yang Bulat & Pantang Menyerah. Saat bersekolah, ia kerap dicemooh dari guru-guru orang Belanda karena ia perempuan dan mempunyai kulit berwarna. Walaupun begitu, ia tetap rajin dan semangat belajar untuk berusaha maju menyamakan diri dengan kepintaran anak-anak Belanda lain.
  3. Patuh & Menghormati Orang Tua. Pandangan Kartini sangat berbeda dengan orang tuanya. Pertama saat ia diharuskan berhenti sekolah dan dipingit di rumah hanya untuk menunggu lelaki datang menikahinya. Lalu saat ia dilarang pergi ke Belanda atau Batavia untuk mengenyam pendidikan, dan terakhir saat ia dijodohkan oleh orang tuanya. Walaupun begitu, ia tetap menghormati sikap dan menerima keputusan orang tuanya.
  4. Berani dan Optimis Terkukang adat, perbedaan pendapat dengan orang tua atau masyarakat, tak menjadikan Kartini berhenti mencari cara untuk memperluas wawasan. Sikapnya yang berani mendobrak berbagai aturan, serta optimis bahwa apa yang dilakukannya bisa berdampak besar, membuktikan dengan hasil di mana sekarang wanita Indonesia sudah bisa mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki.
  5. Sederhana dan Rendah Hati. Lahir sebagai keturunan bangsawan, tak menjadikan dirinya sombong atau hidup berfoya-foya. Bahkan ia menolak perilaku para bangsawan lain yang menggunakan status dan derajat mereka untuk menindas kaum di bawahnya. Ia malah senang bergaul dan berteman dengan siapa saja.
  6. Berjiwa Sosial dan Penuh Kasih Sayang. Kartini sangat peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Beliau mengajar pada anak-anak kecil yang tak seburuntung dirinya, untuk tetap mendapatkan pendidikan. Beliau pun selalu memandang bahwa manusia diciptakan untuk saling menyayang dan mengasihi.Sifat perhatian ini bisa kita terapkan dengan memperhatikan hal-hal kecil di sekitar kita, dan meningkatkan rasa empati dengan sesama, agar orang-orang juga ikut bahagia.

“SMK Negeri 10 Semarang, dari Semarang untuk Indonesia”

Penulis: Dra.Warni., Guru Mapel Bahasa Indonesia

Editor: Tim Humas

Artikel ini memiliki

3 Komentar

Johan h
Selasa, 11 Jul 2023

Smkn 10 semarang jaya.. Terus berkarya..

Balas
Dra.Warni
Selasa, 11 Jul 2023

Terus berkarya utk kemajuan sekolah tercinta
.Mantap .👍👍👍

Balas
landung jati ismoyo
Senin, 17 Jul 2023

betul sekali ,sudah harus ,memberikan contoh tokoh – tokoh yang sukses dan berhasil supaya siswa punya semangat ,niat dan motivasi .

Balas

Beri Komentar