Info Sekolah
Jumat, 23 Feb 2024
  • SMKN 10 Semarang Meraih Juara 2 Lomba Inovasi Sekolah Tahun 2023

Keterbatasan Tak Menyurutkan Semangat Siswa untuk Belajar Alkitab

Diterbitkan :

Pendidikan Agama adalah hak asasi bagi setiap Siswa di sekolah. Hal ini secara konstitusional diatur dalam UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003, bab V pasal 12 ayat (1) a., yang menyatakan bahwa “Setiap Siswa pada setiap satuan Pendidikan berhak mendapatkan Pendidikan Agama sesuai dengan Agama yang di anutnya dan diajarkan oleh pendidik yang se-Agama”.

Peraturan dan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah menunjukkan posisi Pendidikan Agama dalam pembangunan bangsa yaitu sebagai wujud usaha mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pembangunan karakter yang diperoleh dari Pendidikan keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Menurut Kementerian Agama riset memberikan hasil bahwa masih banyak siswa yang tidak mendapatkan layanan Pendidikan Agama seperti dalam peraturan perundang-undangan nasional.

Secara umum, layanan sarana dan prasarana khususnya untuk kegiatan belajar mengajar (KBM) Pendidikan Agama Kristen (PAK) di institusi Pendidikan masih dalam proses pengembangan dan pemenuhan sesuai kebutuhan, meskipun sudah memiliki Guru PAK. Mengingat pentingnya proses pembelajaran PAK untuk pembentukan karakter bagi Siswa yang ber-Agama Kristen, maka perlu adanya kolaborasi dan kerjasama untuk pemenuhan saran dan prasarana, sehingga Siswa dapat menerima materi pembelajaran secara maksimal (Balitbang dan Diklat Kemenag RI, 2017).

PAK menjadi wadah bagi Siswa yang ber-Agama Kristen untuk mempelajari dan merenungkan Alkitab, serta sebagai bagian untuk mempersiapkan Siswa menjadi generasi yang berkarakter Kristus dan dapat berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara. PAK juga memiliki peran dalam membentuk Siswa memiliki kepribadian dan mental yang siap menapaki dunia yang lebih luas setelah lulus dalam menghadapi berbagai persaingan dan tantangan dunia pekerjaan (Herawati Kristina, 2016).

Belajar Alkitab menurut Iman Kristen

Pengajaran Alkitab bagi anak-anak merupakan suatu keharusan yang dilakukan oleh Orangtua   kepada   anak-anaknya.  Di dalam kitab Ulangan 6:6-7 tertulis “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk dirumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun”.

Ayat tersebut menyampaikan dengan jelas suatu perintah bahwa anak-anak harus mendapat ajaran dan didikan supaya menjadi generasi penerus yang mengasihi Allah dan tidak menyimpang dari perintah-perintahNya. Firman Tuhan itu seperti pelita, artinya orang yang belajar Firman Tuhan dengan segenap hati akan mendapat petunjuk atau pencerahan dalam menjalani kehidupan yang benar dan berkenan dihadapan Allah (Ndruru, Sokhiziduhu, 2019). Hal inilah yang menjadi salah satu tujuan PAK di sekolah, yaitu untuk mendampingi para Siswa mengerti Firman Tuhan, sehingga mereka mampu untuk mempraktikannya dalam kehidupan di sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Iris V Cully (2011), mengatakan bahwa kegiatan dari Pendidikan Kristen adalah untuk membentuk para Siswa dalam segala karakter Allah. Konsep ini perlu dipahami tidak hanya oleh Guru namun juga oleh Siswa, bahwa untuk menjadi pemimpin bangsa di masa mendatang mereka perlu diperlengkapi dengan benih-benih didikan yang benar dan sesuai dengan Firman Tuhan, sehingga mereka tidak menjadi serupa dengan dunia, Kitab Roma 12:2; melainkan dapat menjadi garam dan terang bagi dunia, Kitab Matius 5:13-16 (Harefa Desetina, et, al. 2019).

Menembus “keterbatasan” berfokus pada tujuan

Keterbatasan sarana dan prasarana dalam proses pembelajaran PAK, hendaknya tidak menjadi penghalang bagi para Siswa untuk belajar mendalami Firman Tuhan dan membangun persekutuan di sekolah. Siswa Kristen perlu memahami bahwa keterbatasan tidak menjadi alasan untuk bermalas-malasan dalam belajar Firman Tuhan. Perlu diingat kembali bahwa tujuan yang sebenarnya adalah anak-anak Tuhan dipanggil dan dipilih untuk menjadi pewaris kerajaan Sorga, yaitu keselamatan hidup kekal selama-lamanya.

Oleh sebab itu, setiap nasihat, didikan dan pengertian akan Firman Tuhan yang diterima oleh anak-anak di usia muda sangat penting bagi pertumbuhan rohani mereka dikemudian hari. Ada banyak cara yang tetap bisa dilakukan meskipun ketersediaan fasilitas, sarana atau prasarana di sekolah sangat minim untuk mendukung pelaksanaan belajar mendalami Alkitab, diantaranya adalah:

  1. Memanfaatkan akses internet. Saat ini internet menjadi pintu untuk membuka berbagai Melalui internet orang-orang dapat belajar banyak hal baru, termasuk dalam hal mendalami Alkitab. Memang, Alkitab adalah sumber utama untuk segala hikmat dan pengetahuan, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan internet dan media sosial dapat membantu Siswa untuk melihat, mengerti, memahami pesan-pesan Firman Tuhan yang disampaikan anak-anak Tuhan melalui media sosial. Keberadaan sekolah yang bisa mengakses internet akan sangat mendukung proses belajar PAK di sekolah, misalnya; berdiskusi mencari tokoh Alkitab, membuka kesaksian-kesaksian hidup orang yang dilawat Tuhan, belajar sejarah Alkitab serta pengetahuan teologi lainnya (Sihotang Hermanto, 2020).
  2. Membangun persekutuan doa/komsel. Selain PAK, Siswa Kristen perlu membangun persekutuan doa diluar waktu khusus PAK di sekolah. Persekutuan doa atau komunitas sel (komsel) adalah kegiatan yang meliputi belajar Firman Tuhan bersama, berdoa, memuji Tuhan, dan  Para  Siswa  dapat membagikan cerita hidupnya atau pergumulannya kepada teman-temannya kemudian diakhiri dengan saling mendoakan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk membangun persahabatan, kekeluargaan, serta mempererat hubungan saudara seiman. Dalam Alkitab, Allah juga menghendaki umatNya untuk bersekutu, sebab itu sekolah juga dapat mengambil peran sebagai wadah atau rumah bagi pertumbuhan rohani anak-anak Tuhan. Kegiatan ini pun tidak memerlukan banyak fasilitas, kegiatan ini dapat dilakukan di ruangan atau dapat dilakukan secara terbuka/outdoor. Semua pasti bisa dilakukan apabila ada usaha dan komitmen untuk mewujudkannya (Hutahaean Hasahatan, et, al 2021).
  3. Forum Group Discussion (FGD). Forum Group Discussion (FGD) adalah kegiatan diskusi yang dilakukan oleh beberapa orang atau suatu kelompok untuk menemukan tujuan tertentu. FGD dapat dilakukan di sekolah untuk mendalami suatu tema pembelajaran. FGD dapat dilakukan melalui games, tebak-tebakan, atau metode lainnya yang dapat meningkatkan keseruan belajar bersama. FGD dapat dilakukan dengan fasilitas-fasilitas sederhana seperti kertas, spidol, google form kuis online yang dapat diperoleh dengan mudah. Tujuan FGD adalah untuk mencipatkan antusias Siswa dalam belajar dan menggali informasi, melatih Siswa dalam mengungkapkan pendapat serta melakukan presentasi (Hutagalung, Jonter 2018).

 

“SMK Negeri 10 Semarang, dari Semarang untuk Indonesia”

Penulis: Ribka Tri Muryani, S.Th., Guru Mapel Pendidikan Agama Kristen

Editor: Tim Humas

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar