Info Sekolah
Minggu, 19 Mei 2024
  • Keluarga Besar SMKN 10 Semarang Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1445 H #SMKN 10 Semarang lolos SMK Pusat Keunggulan Reguler Lanjutan tahun 2024

Model STAD, Siswa Semakin Senang Belajar Sejarah

Diterbitkan :

Mata pelajaran sejarah merupakan bagian dari ilmu sosial yang mempunyai peranan penting dalam rangka menumbuhkan rasa nasionalisme. Hal ini karena sejarah merupakan kajian ilmu yang menjelaskan tentang peristiwa masa lampau yang disertai dengan fakta-fakta yang jelas. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan pada KD KD 3.2_ _Corak Kehidupan masa Praaksara Indonesia di Kelas X TO1 SMKN 1 Semarang ditemukan beberapa permasalahan. Antara lain pembelajaran cenderung ceramah, pelaksanaan pembelajaran cenderung kurang melibatkan potensi dan peran serta siswa, serta perhatian siswa terhadap materi pelajaran sejarah belum terfokuskan disebabkan kondisi pembelajaran yang monoton dan searah.

Kondisi tersebut menjadikan nilai rata-rata yang masih rendah yaitu 55,68. Nilai rata-rata yang rendah menunjukkan belum tercapainya ketuntasan belajar siswa, tingkat ketuntasan klasikal siswa juga masih rendah yaitu sekitar 41 persen dari jumlah siswa. Diperlukan strategi pembelajaran yang mendorong siswa berperan aktif dalam berkompetisi dan memiliki keterampilan bekerja sama dalam mengembangkan sikap demokratis yang diperlukan dalam pembelajaran. Salah satunya dengan strategi Pembelajaran Kooperatif.

Pembelajaran kooperatif denganmodel Student Teams Achievement Division (STAD) menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok yang heterogen untuk saling membantu satu sama lain dalam belajar dengan menggunakan berbagai metode pembelajaran kooperatif dan prosedur kuis. Kunandar, (2011: 370) menjelaskan para siswa di dalam kelas dibagi dalam beberapa kelompok, masing-masing terdiri atas 4 atau 5 anggota kelompok. Setiap kelompok mempunyai anggota heterogen. Tiap anggota kelompok menggunakan lembar kerja akademik, kemudian saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusi antar sesama anggota kelompok. Secara individual ataukelompok, tiap minggu atau dua minggu dilakukan evaluasi guru untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap bahan akademik yang telah dipelajari.

Dalam pelaksanaan kegiatan, siswa dibimbing untuk belajar Sejarah secara kooperatif learning dengan model Student Teams- Achievement Divi-sions (STAD). Langkah- langkah yang dilakukan adalah: membentuk kelompok heterogen dengan jumlah maksimal 4-6 orang, serta Guru membagikan LKS kepada setiap kelompok sebagai bahan yang akan dipelajari siswa. Dalam kegiatan kelompok ini, para siswa bersama-sama mendiskusikan masalah yang dihadapi. Kegiatan ini dapat menambah daya tarik tersendiri, sehingga siswa semakin senang belajar Sejarah.

Keadaan mendorong peningkatan hasil belajar siswa. Nilai rata-rata dan persentase ketuntasan belajar sudah meningkat dari data awal yaitu dari 55,68 menjadi 68,4 dengan nilai KKM 70 dan ketuntasan secara klasikal dari 41persen menjadi 57,3 persen. Pada tindakan berikutnya nilai ratarata dan persentase ketuntasan belajar sudah meningkat dari sebelumnya yaitu dari nilai rata- rata 68,4 menjadi 86,72 dengan nilai KKM 70 dan ketuntasan secara klasikal dari 57,3 persen menjadi 85,91 persen. Pembelajaran sejarah melalui model pembelajaran Student Teams-Achievement Divisions (STAD) dapat meningkatkan hasil belajar siswa. 

Penulis : Siti Peni Lestari, S.Pd Guru Sejarah SMKN 1 Semarang (Peserta Pelatihan Menulis Artikel Ilmiah Populer SMKN 10 Semarang).

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar