Info Sekolah
Sabtu, 13 Apr 2024
  • Keluarga Besar SMKN 10 Semarang Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1445 H #SMKN 10 Semarang lolos SMK Pusat Keunggulan Reguler Lanjutan tahun 2024

Metode Example Non-Example Tingkatkan Ketrampilan Berpikir Kritis dalam Memecahkan Masalah

Diterbitkan :

Selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di masa Pandemi Covid 19, Peserta Didik hampir tidak pernah dituntut untuk menyampaikan pendapat pribadinya secara kritis.  Tugas-tugas mandiri yang diberikan untuk menyiasati durasi jam pelajaran yang singkat, biasanya dikerjakan oleh Peserta Didik dengan browsing internet. Penulis sering menemukan jawaban yang seragam didalam 1 kelas, karena Peserta Didik hanya menyalin dari sumber yang sama di internet. Saat pembelajaran tatap muka dimulai, hal ini menjadi kendala karena Peserta Didik kurang mampu menganalisa permasalahan dengan kritis. Jawaban-jawaban yang diberikan tidak menyentuh inti permasalahan bahkan melenceng sama sekali dari topik.

Untuk mengatasi kendala tersebut di atas, saat mengajar di kelas XI KKB 1 di SMK Negeri 10 Semarang  dengan tema Mensyukuri Anugerah Allah lewat Perkembangan IPTEK   yang merupakan materi Pendidikan Agama Kristen dalam kompetensi dasar 5.1 yaitu Mengakui bahwa perkembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, seni, dan teknologi  adalah anugerah Allah, Penulis menggunakan strategi pembelajaran berbasis komunikasi yaitu metode Example non Example. Metode pembelajaran ini memberikan contoh berupa gambar yang bermuatan masalah untuk dianalisis kemudian dideskripsikan dan disimpulkan oleh Peserta Didik (Komalasari 2017). Tujuan digunakannya metode ini adalah untuk mendorong Peserta Didik berpikir kritis dengan menganalisa contoh-contoh dalam gambar-gambar atau foto tentang perkembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan, sehingga Peserta Didik dapat mempelajari dan menguasai konsep-konsep materi pelajaran.

Pertama-tama Penulis mempersiapkan gambar-gambar bertema perkembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang dirancang sedemikian rupa agar Peserta Didik dapat menganalisis gambar dan menyampaikannya dalam bentuk deskripsi singkat. Pada saat tatap muka gambar-gambar itu diletakkan terbalik secara melingkar, sementara Peserta Didik yang telah dibagi dalam beberapa kelompok duduk melingkar mengelilingi gambar-gambar tersebut. Selanjutnya Penulis mempersilahkan tiap kelompok mengambil 3 gambar dan mengamatinya dengan seksama sehingga Peserta Didik memahami detail setiap gambar, disamping itu Penulis juga memberikan petunjuk untuk menganalisa masalah dalam gambar dan mendiskusikan dampak dan jalan keluarnya. Selain itu Penulis juga mendorong tiap kelompok untuk menemukan permasalahan di sekitar mereka dan mendiskusikan cara mengatasinya secara Kristiani. Setelah waktu diskusi yang ditentukan habis, Peserta Didik diberi kesempatan untuk mempresentasikan hasilnya. Pemaparan hasil diskusi Peserta Didik,  akan menjadi dasar bagi Penulis dalam menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai.

Saat diskusi berlangsung Penulis menemukan kenyataan bahwa Peserta Didik memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap gambar contoh (example) dan terlibat aktif dalam diskusi kelompok. Mereka juga terlibat dalam proses discovery atau penemuan yang mendorong mereka untuk membangun konsep perkembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan secara progresif melalui pengalaman dari example non example yang merupakan kelebihan metode ini (Shoimin2017). Selain itu Peserta Didik juga melakukan proses penemuan masalah-masalah kongkrit dalam kehidupan mereka di luar contoh dalam gambar (non example), dan mampu memaparkan sikap yang harus mereka ambil secara Kristiani untuk menyikapi permasalahan tersebut.

Memang metode Example non Example ini masih menyisakan persoalan pada beberapa siswa yang tidak percaya diri dan pemalu dalam menyampaikan pendapatnya, namun kesenjangan ini dapat diatasi dengan memberikan bimbingan khusus pada para Peserta Didik tersebut. Salah satu cirri menonjol dari generasi yang saat ini ada di jenjang SMK adalah kesenjangan ketrampilan dari generasi sebelumnya,  karena itu guru sebagai fasilitator harus terus berupaya secara intensif untuk mentranfer ketrampilan interpersonal dalam berdialog dan berdiskusi serta berpikir kritis.

“SMK Negeri 10 Semarang, dari Semarang untuk Indonesia”

Penulis: Carmela Yuliawati, S.Th., Guru Mapel Pendidikan Agama Kristen

Editor: Tim Humas

Artikel ini memiliki

1 Komentar

Elmina Ita Kusumawardani
Kamis, 15 Jun 2023

Sip…

Balas

Beri Komentar