Info Sekolah
Rabu, 28 Feb 2024
  • SMKN 10 Semarang Meraih Juara 2 Lomba Inovasi Sekolah Tahun 2023

Metode “Peer Tutoring” Meningkatkan Pembelajaran “Technical Drawing”

Diterbitkan :

Technical Drawing/gambar teknik pada awalnya dipraktikan oleh Leonardo Da Vinci pada abad 15 sampai abad 16, sehingga beliau dijuluki sebagai Bapak Gambar Teknik. Pada akhir abad 16, Gaspard Monge yang seorang ahli matematika dari Perancis menemukan sebuah sistem menggambar dengan menggunakan dua bidang proyeksi yang saling tegak lurus. Pada tahun itu proyeksi ini begitu terkenal dan sering digunakan untuk menggambar perancangan bangunan kapal maupun peralatan perang.

Abad 18, James Watt seorang ilmuan dari Inggris dengan penemuan mesin uapnya mengakibatkan terjadinya revolusi didalam proses produksi pada pabrik yang sebelumnya menggunakan tenaga manusia dan hewan, maka diperlukanlah sebuah “bahasa komunikasi” antara perencana dengan pelaksana yang dimana bahasa itu harus singkat dan jelas., maka digunakanlah “Gambar Teknik” untuk membantu pemahaman oleh kedua belah pihak.

Pengertian gambar teknik menurut beberapa tokoh :

  1. Gambar teknik adalah bahasa yang dipergunakan antara perancang dan pelaksana. (FH. Homan dan Ir. Sutomo Wongsocitro)
  2. Engineering graphic is the combination of these arts and science of drawing applicable of the solution of engineering problems. (James S.Rising dan Maurice W.Almfedt)
  3. Engineering drawing is the graphic language used into the industrial world by engineers and designers to express and record the ideas and information necessary for the building of machines and structures. (Thomas E.French dan Charles I.Fierck)
  4. Technical drawing is a graphic language that is used universally by engineers to describe the shape and size of structures and mechanism (Warren I. Luzadder)

Dapat disimpulkan bahwa gambar teknik harus dapat dimengerti antara perancang gambar dengan pelaksana gambar dalam bentuk yang singkat dan jelas, dan tidak meninggalkan aspek seni gambarnya (keindahan gambarnya).

Autocad, Solid Works, Autodesk Inventor dan lainnya adalah contoh aplikasi untuk mendukung pembuatan gambar teknik baik 2 dimensi dan 3 dimensi (3D) yang pada awalnya gambar teknik dilakukan di meja-meja gambar dengan kertas secara manual.

Kompetensi gambar teknik meliputi :

  1. Menggunakan peralatan dan kelengkapan gambar teknik,
  2. Memahami bentuk dan fungsi garis pada gambar teknik
  3. Memahami huruf, angka dan etiket gambar teknik
  4. Memahami gambar konstruksi geometris berdasarkan bentuk konstruksi,
  5. Menerapkan sketsa gambar benda 3D sesuai aturan proyeksi pictorial,
  6. Menerapkan sketsa gambar benda 2D sesuai aturan proyeksi orthogonal,
  7. Menganalisis gambar potongan berdasar jenis potongan,
  8. Menerapkan pembuatan ukuran sesuai fungsi dan pandangan utama gambar teknik,
  9. Memahami pemberian ukuran berantai, sejajar, kombinasi, berimpit, koordinat dan ukuran khusus,
  10. Mengevaluasi hasil sketsa gambar benda 2D dan 3D standard proyeksi orthogonal.

Belajar mengajar merupakan satu rangkaian yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. “Kegiatan pembelajaran” yang dilakukan Guru merupakan salah satu penentu keberhasilan proses belajar Siswa. Siswa akan belajar dengan lebih baik dan bermakna apabila kegiatan pembelajaran yang dipilih oleh Guru relevan dan mendukung aktivitas belajar Siswa. Kegiatan belajar mengajar sudah selayaknya berfokus pada Siswa yang belajar (student oriented) bukan peran Guru yang dominan. Hal ini perlu sama-sama disadari oleh kedua belah pihak baik Guru maupun Siswa, Guru hanya bertindak sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar mengajar yang bertugas membuat desain pembelajaran sedangkan Siswa merupakan subjek belajar yang harus benar-benar aktif dan sungguh-sungguh mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Praktek nyata yang terjadi selama ini, Guru hanya menikmati tugasnya mengajar, menyiapkan materi pembelajaran, menjelaskan materi dengan metode ceramah dan sesekali tanya jawab kemudian memberikan soal latihan untuk dikerjakan Siswa. Guru merasa penjelasannya sudah bisa diterima Siswa ketika tidak ada pertanyaan yang diajukan oleh Siswa dan terkadang Guru merasa aman dengan hal tersebut. Guru lebih sering mengabaikan faktor perbedaan latar belakang antara Siswa dan Guru.

Salah satu metode dalam pembelajaran kooperatif adalah metode tutor sebaya (peer tutoring). Inti dari metode tutor sebaya (peer tutoring) adalah Guru memberdayakan Siswa yang mempunyai daya serap tinggi terhadap materi yang dijelaskan Guru untuk membantu Siswa lain yang daya serapnya rendah. Siswa yang berperan sebagai tutor terlebih dahulu dibekali oleh materi yang akan dibahas dalam kegiatan belajar mengajar.Pembekalan ini dapat dilakukan di dalam maupun di luar jam pelajaran. Siswa yang berperan sebagai tutor bertugas membantu temannya yang mengalami kesulitan melalui proses diskusi setelah mendapatkan pembekalan dari Guru pengajar. Peran Guru pada proses ini adalah mengawasi kelancaran pelaksanaan metode dengan mengamati, mencatat perkembangan proses, memberikan pengarahan serta evaluasi proses untuk selanjutnya digunakan sebagai dasar perbaikan pada proses selanjutnya.

Menurut Susilowati (2009:3-28), tutor sebaya adalah seorang murid membantu belajar murid lainnya dengan tingkat kelas yang sama. Metode tutor sebaya dilakukan dengan cara memberdayakan kemampuan Siswa yang memiliki daya serap tinggi, Siswa tersebut mengajarkan materi kepada teman-temannya yang belum paham sehingga memenuhi ketuntasan belajar semuanya. Jadi, diharapkan dengan adanya tutor sebaya, peserta didik yang kurang aktif menjadi aktif. Dalam kelas tutor sebaya, tugas Guru adalah sebagai fasilitator, mediator, motivator dan evaluator. Sedangkan tugas tutor adalah membantu temannya yang mengalami kesulitan belajar, karena hubungan antara teman sebaya umumnya lebih dekat dibandingkan hubungan Guru – Siswa (Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, 2004:184).

Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran menggunakan metode tutor sebaya adalah :

(1) memilih tutor dengan syarat termasuk dalam peringkat 10 terbaik berdasarkan nilai rapor atau nilai evaluasi sebelumnya dan dapat menguasai materi,

(2) membagi Siswa menjadi beberapa kelompok berdasarkan tingkat kecerdasan Siswa (ada yang pandai, sedang dan kurang),

(3) tutor memberikan bimbingan dan membahas soal yang berhubungan dengan materi yang diajarkan,

(4) mengisi lembar observasi selama proses pembelajaran berlangsung, dan

(5) melaksanakan evaluasi belajar secara individu.

Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi tutor sebaya antara lain, berprestasi baik, dapat diterima atau disetujui oleh Siswa yang mendapat bantuan sehingga Siswa leluasa bertanya, dapat menerangkan dengan jelas bahan pengajaran yang dibutuhkan oleh Siswa, berkepribadian ramah, lancar berbicara, luwes dalam bergaul, tidak sombong dan memiliki jiwa penolong serta memiliki daya kreatifitas yang cukup untuk membimbing temannya (Suharsimi Arikunto, 1988:62- 63).

Beberapa kiat yang bisa dilaksanakan untuk menjadi tutor yang baik yaitu mau terus belajar dan memperluas wawasan, rajin mencari informasi tambahan, menyisipkan humor dalam memberikan materi, kreatif mencari alat bantu serta pandai menghidupkan suasana (Muladi Wibowo, 2004:9).

Harapannya dengan Pembelajaran metode Tutor Sebaya ( Peer Tutoring) mempunyai kelebihan ganda yaitu Siswa yang belum memahami materi mendapat bantuan lebih efektif untuk memahaminya sedangkan bagi tutor merupakan kesempatan untuk mengembangkan diri. Pembelajaran Tutor Sebaya  dapat meningkatkan hasil belajar Siswa dapat dilihat dari meningkatnya antusisme dan semangat Siswa dalam kegiatan belajar mengajar, meningkatnya pemahaman Siswa terhadap materi pelajaran serta meningkatnya kecakapan sosial Siswa sebagai hasil dari proses kerja sama dan diskusi selama kegiatan belajar mengajar.

“SMK Negeri 10 Semarang, dari Semarang untuk Indonesia”

Penulis: Johan Hanifah, S.Pi., Guru Produktif TKR

Editor: Tim Humas

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar