Info Sekolah
Jumat, 23 Feb 2024
  • SMKN 10 Semarang Meraih Juara 2 Lomba Inovasi Sekolah Tahun 2023

Pembelajaran Produk Kewirausahaan Dengan Model Core

Diterbitkan :

Materi pembelajaran kejuruan diambil dari kehidupan nyata di masyarakat sehari-hari. Materinya kompleks, sering dianggap sebagai pelajaran yang sederhana, tetapi sulit dan membosankan. Sehingga Siswa kurang antusias, daya kreativitasnya rendah bahkan Siswa acuh tak acuh. Hal ini dimungkinkan karena strategi pembelajaran guru dan penyampaian materi yang kurang menarik, metode yang kurang beragam, sehingga Siswa bosan dan mempengaruhi hasil belajar (HB).

Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar Siswa dan menghindari adanya situasi DDCH (Duduk, Dengar, Catat dan Hapalkan) antara lain dengan menggunakan model pembelajaran CORE. CORE merupakan singkatan dari Connecting, Organizing, Reflecting, Extending. Model CORE merupakan model pembelajaran dengan metode diskusi, yang di dalamnya terkandung unsur mengemukakan pendapat, tanya jawab antar Siswa, dan sanggahan. Menurut Harmsem, elemen-elemen ini digunakan untuk menghubungkan informasi lama dengan yang baru, mengatur materi serbaguna, mencerminkan keseluruhan karya dan mengembangkan lingkungan belajar.

Connecting berarti menghubungkan. Hal ini perlu diterapkan kepada Siswa, karena dengan adanya koneksi yang baik, maka Siswa akan mengingat informasi dan menggunakan pengetahuan metakognitifnya untuk menghubungkan dan menyusun ide-idenya. Organizing digunakan oleh Siswa untuk mengorganisasikan informasi-informasi yang diperolehnya. Untuk membantu proses pengorganisasian informasi yang didapat Siswa bisa dilakukan dengan cara diskusi kelompok. Reflecting merupakan tahap saat Siswa memikirkan secara mendalam terhadap konsep yang dipelajarinya. Siswa menyimpulkan dengan bahasa sendiri tentang apa yang mereka peroleh dari pembelajaran yang didapatkan. Extending adalah tahap saat Siswa dapat menggeneralisasikan pengetahuan yang mereka peroleh selama proses belajar mengajar berlangsung. Pengetahuan deklaratif dan procedural Siswa diperluas dengan cepat sehingga mereka meneliti tentang jawaban atas pertanyaan yang mereka miliki, pengetahuan metakognitif meningkat sehingga mereka melakukan strategi berdiskusi untuk memperoleh informasi sesame temannya dan guru serta mencoba untuk menjelaskan temuannya kepada teman-temannya di kelas.

Adapun contoh pelaksanaan pembelajaran model CORE di SMK Negeri 10 Semarang adalah sebagai berikut: Pertama, guru mengelompokkan Siswa secara heterogen dan memilih satu Siswa yang memiliki peluang lebih baik untuk berperan sebagai moderator. Kedua, guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan materi yang berkaitan dengan strategi penjualan produk. Ketiga, Siswa diminta untuk mencari informasi lebih mendalam tentang produk-produk yang akan dijual, bisa berupa produk barang atau jasa.

Untuk berpartisipasi, Siswa harus mengingat dan menggunakan konsep yang mereka buat untuk menghubungkan dan mengatur ide (Connect). Keempat, moderator mengarahkan kelompok kelompok Siswa untuk mengorganisasikan pengetahuan yang diperoleh, misalnya konsep mana yang diketahui, konsep mana yang dicari, dan hubungan antar konsep yang ditemukan pada connecting, untuk menciptakan pengetahuannya sendiri (konsep baru) (Organizing). Kelima, Siswa meninjau kembali informasi yang diperoleh untuk melangkah ke tahap selanjutnya (Reflecting). Keenam, Siswa memperluas pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dengan menggunakan konsep yang diperoleh dalam situasi baru atau dalam konteks yang berbeda sebagai penerapan konsep yang dipelajari (Extending). Ketujuh, Siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompok, kelompok lain menanggapi, Kedelapan  guru memberikan refleksi dan konfirmasi.

Penerapan model CORE menghindarkan Siswa dari kebosanan karena Siswa dapat mengontak materi sebelumnya dan aktif dalam pembelajaran, melatih daya ingat Siswa terhadap konsep/pengetahuan, melatih berpikir kritis Siswa terhadap masalah dan memberi kesempatan Siswa untuk memperluas pembelajarannya sehingga Siswa didorong untuk berpartisipasi dalam pembelajaran langsung. Dalam diskusi, Siswa saling berlomba mengingat dan mengacu pada materi/praktik sebelumnya untuk mengkomunikasikan konsep dan ide baru, Siswa harus aktif dan kreatif untuk memperluas pengetahuan dan keterampilannya. Kegiatan perluasan pengetahuan dengan model CORE memberikan kesempatan kepada Siswa untuk belajar lebih santai, mendorong tanggung jawab, kerjasama, kompetisi yang sehat dan partisipasi dalam pembelajaran, sehingga meningkatkan hasil belajar.

“SMK Negeri 10 Semarang, dari Semarang untuk Indonesia”

Penulis: Dra. Rodhatin, M.Si., Guru Mapel PKK (PKKWU)

Editor: Tim Humas

Artikel ini memiliki

1 Komentar

Elmina Ita Kusumawardani
Jumat, 7 Jul 2023

Belajar usaha mandiri…

Balas

Beri Komentar