Info Sekolah
Minggu, 01 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

Pembentukan Karakter Siswa melalui Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMKN 10 Semarang

Diterbitkan :

Pembentukan karakter peserta didik merupakan salah satu tujuan utama pendidikan nasional yang tidak dapat ditawar. Pendidikan sejatinya tidak hanya berfungsi mencetak lulusan yang unggul secara akademik dan terampil secara vokasional, tetapi juga membentuk manusia seutuhnya—manusia yang berakhlak mulia, beretika, berkepribadian kuat, serta mampu berkomunikasi secara santun dan bertanggung jawab. Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Pemikiran ini menegaskan bahwa pendidikan karakter bukanlah pelengkap, melainkan inti dari proses pendidikan itu sendiri.

Di SMK Negeri 10 Semarang, semangat tersebut diwujudkan melalui upaya integratif dalam pembelajaran, salah satunya melalui mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sebagai sekolah menengah kejuruan yang menyiapkan peserta didik memasuki dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat, SMK Negeri 10 Semarang menyadari bahwa kecakapan teknis harus diiringi dengan karakter yang kuat. Dunia kerja tidak hanya membutuhkan tenaga terampil, tetapi juga pribadi yang jujur, komunikatif, disiplin, dan mampu bekerja sama.

Pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai karakter karena bahasa merupakan cerminan sikap, cara berpikir, dan kepribadian seseorang. Menurut ahli pendidikan karakter Thomas Lickona, karakter yang baik mencakup pengetahuan tentang kebaikan (moral knowing), perasaan mencintai kebaikan (moral feeling), dan tindakan nyata melakukan kebaikan (moral action). Ketiga aspek ini dapat tumbuh secara simultan melalui pembelajaran Bahasa Indonesia yang dirancang secara bermakna.

Melalui kegiatan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis, siswa dilatih untuk berpikir kritis, mengemukakan pendapat secara santun, menghargai perbedaan sudut pandang, serta bertanggung jawab atas gagasan yang disampaikan. Proses ini secara alami menumbuhkan nilai-nilai kejujuran, disiplin, kerja sama, toleransi, dan rasa percaya diri. Bahasa menjadi media latihan etika sosial, di mana siswa belajar bahwa setiap kata memiliki dampak dan setiap pendapat perlu disampaikan dengan tanggung jawab.

Di SMK Negeri 10 Semarang, pembelajaran Bahasa Indonesia yang berorientasi pada penguatan karakter diterapkan melalui berbagai aktivitas pembelajaran yang kontekstual. Dalam pembelajaran teks diskusi dan debat, misalnya, siswa dibiasakan untuk menyampaikan argumen secara logis, berbasis data, dan tetap menjunjung tinggi kesantunan berbahasa. Mereka diajak memahami bahwa perbedaan pendapat bukanlah sumber konflik, melainkan ruang untuk saling belajar. Aktivitas ini menumbuhkan karakter demokratis, toleran, dan keterampilan komunikasi efektif—kompetensi penting di dunia kerja dan kehidupan sosial.

Sementara itu, melalui pembelajaran teks sastra seperti cerpen, puisi, dan novel, siswa diajak menyelami nilai-nilai moral, empati, dan kemanusiaan. Sastrawan dan pendidik Horace menyatakan bahwa sastra memiliki fungsi dulce et utile—memberi keindahan sekaligus manfaat. Karya sastra menghadirkan cermin kehidupan yang memungkinkan siswa memahami berbagai persoalan manusia, merasakan emosi tokoh, dan merefleksikan nilai-nilai kehidupan. Dari sinilah tumbuh karakter empatik, peduli, dan berjiwa humanis.

Kegiatan menulis, seperti menulis laporan, teks prosedur, atau artikel opini, juga berkontribusi besar dalam pembentukan karakter. Siswa dilatih berpikir sistematis, objektif, dan bertanggung jawab terhadap kebenaran informasi yang disampaikan. Guru menekankan pentingnya keaslian karya sebagai wujud karakter integritas dan sikap anti plagiarisme. Hal ini sejalan dengan pandangan Paulo Freire yang menekankan pentingnya kesadaran kritis dan kejujuran intelektual dalam proses pendidikan. Selain itu, pembiasaan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan, menumbuhkan karakter disiplin sekaligus rasa bangga terhadap bahasa nasional sebagai identitas bangsa.

Peran guru Bahasa Indonesia sangatlah vital dalam proses ini. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan nilai-nilai karakter. Ki Hadjar Dewantara menekankan konsep ing ngarso sung tulodo, bahwa pendidik harus memberi contoh di depan. Keteladanan guru dalam bertutur kata, bersikap adil, menghargai pendapat siswa, serta menciptakan suasana kelas yang inklusif dan kondusif menjadi pembelajaran karakter yang paling nyata dan bermakna bagi peserta didik.

Dengan demikian, pembelajaran Bahasa Indonesia di SMK Negeri 10 Semarang tidak hanya berfungsi sebagai sarana peningkatan kompetensi literasi, tetapi juga sebagai wahana strategis pembentukan karakter peserta didik. Melalui pembelajaran yang bermakna, humanis, dan berorientasi pada nilai-nilai karakter, SMK Negeri 10 Semarang terus berkontribusi dalam mencetak generasi muda yang tidak hanya terampil dan siap kerja, tetapi juga berkarakter kuat, komunikatif, berintegritas, serta berkepribadian Indonesia—siap menghadapi tantangan dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat dengan sikap yang bermartabat dan bertanggung jawab.

“Ciptakan Inovasi, Tebarkan Manfaat”

“SMK Negeri 10 Semarang, dari Semarang untuk Indonesia”

Penulis: Dini Riyani, S.Pd., Guru Mapel Bahasa Indonesia

Penyunting: Tim Humas dan Literasi

Artikel ini memiliki

1 Komentar

Joko Suwignyo
Rabu, 31 Des 2025

Dasar untuk menuju sukses masa depan pribadi adalah pembentukan KARAKTER POSOTIF yang bisa diterima oleh lingkungan apapun orientasinya, Semangat Bu Dini 💪💪💪 jangan pernah berhenti membentuk karakter siswa SMK N 10 SMG melalui pelajaran Bahasa Indonesia !!!!!!!

Balas

Beri Komentar