Info Sekolah
Sabtu, 22 Jun 2024
  • SMKN 10 Semarang siap menerima siswa baru dengan delapan jurusan sebanyak 540 siswa#SMKN 10 Semarang membuka jurusan baru Manajemen Logistik

Pembelajaran Berdiferensiasi Bagi Siswa Dan Guru Untuk Mendukung Pengalaman Belajar Bermakna Di SMKN 10 Semarang

Diterbitkan :

Murid terlahir dengan keadaan beragam karakteristik dan keunikannya masing-masing. Kebutuhan belajar mereka tentu saja harus bisa terlayani dengan sebaik-baiknya, begitu juga dengan guru. Sebagai seorang guru dan pemimpin pembelajaran, dalam menerapkan merdeka belajar harus bisa menjadi fasilitator dalam belajar dan pengembangan kompetensi guru. Oleh karena itu, guru dan kepala sekolah harus bisa memastikan bahwa setiap murid dan guru mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar dengan cara terbaik yang sesuai untuk mereka. Melalui penerapan pembelajaran berdiferensiasi, murid dan guru tidak hanya akan dapat memaksimalkan potensi mereka, tapi mereka juga akan dapat belajar tentang berbagai nilai-nilai kehidupan yang penting. yang akan berkontribusi terhadap perkembangan diri mereka secara lebih holistik atau utuh. 

Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang berakar pada pemenuhan kebutuhan murid baik dari segi kesiapan belajar, minat, atau profil belajarnya dan bagaimana guru merespon kebutuhan belajar tersebut. Menurut Tomlinson (2000) juga dikatakan bahwa pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha menyesuaikan pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa diferensiasi tidak berarti bahwa guru harus dapat memenuhi kebutuhan semua individu setiap saat dan setiap waktu. Guru diharapkan dapat menggunakan berbagai pendekatan belajar sehingga sebagian besar murid menemukan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Bagaimana pembelajaran berdiferensiasi dapat dilakukan di kelas? Tentu saja memerlukan strategi khusus dalam penerapannya dengan menggunakan tiga strategi yaitu diferensiasi konten, proses, dan produk. Penjabarannya adalah sebagai berikut:

  1. Diferensiasi konten, yaitu apa yang kita ajarkan kepada murid sebagai tanggapan dari kesiapan belajar murid, minat, atau profil belajarnya (visual, auditori, kinestetik) atau bahkan bisa kombinasi dari ketiganya
  2. Diferensiasi proses, yaitu bagaimana murid akan memaknai materi yang akan dipelajari baik secara mandiri atau kelompok dengan menyediakan kegiatan berjenjang, adanya pertanyaan pemandu atau tantangan, membuat agenda individual murid, memvariasikan waktu, mengembangkan kegiatan bervariasi, dan menggunakan pengelompokan yang fleksibel.
  3. Diferensiasi produk, yaitu berupa tagihan yang kita harapkan dari murid dengan memberikan tantangan atau keragaman variasi dan memilih produk apa yang diminatinya.

Indikator keberhasilan suatu pembelajaran berdiferensiasi adalah siswa merasa nyaman dalam belajar, adanya peningkatan keterampilan baik segi hard skill atau softskill, dan adanya kesuksesan belajar dari seorang murid yaitu murid mampu merefleksikan diri kemampuannya dimulai dari titik awal pembelajaran sampai peningkatan diri selama proses pembelajaran dan pada akhir pembelajaran. Pembelajaran berdiferensiasi ini bukan berarti mencapai tujuan akhir siswa harus mencapai KKM yang diharapkan tetapi melalui pembelajaran ini akan ada pergeseran penambahan nilai ke arah yang lebih baik. Misalkan seorang murid kemampuannya di bawah rata-rata kelas, yaitu awalnya mendapatkan nilai 30 setelah melalui proses pembelajaran berdiferensiasi ini meningkat menjadi nilai 50, berarti ada kemajuan belajar anak sehingga tidak bisa seorang guru memaksakan murid mendapat target KKM sesuai yang diharapkan. Begitu juga dengan kemampuan murid di atas rata-rata kelas misalkan mendapat nilai 85 setelah melalui pembelajaran berdiferensiasi mendapatkan nilai 100 berarti setelah mendapatkan pengayaan ada kemajuan yang pesat sehingga dapat dikatakan sukses dalam belajar.

Begitu pula dengan guru, sesuai konsep pembelajaran berdiferensiasi setiap guru harus mendapatkan kesempatan yang sama dalam mengembangkan kompetensinya baik kompetensi teknis maupun pedagogik karena guru merupakan pemimpin pembelajaran. pengelola pendidikan harus mendukung pengembangan kompetensi guru sesuai minat, profil, dan gaya belajar guru agar hasil dari peningkatan kompetensi guru bisa langsung dibawa ke kelas dan murid bisa langsung merasakan dampak dari peningkatan kompetensi guru untuk mewujudkan pembelajaran yang unggul dan berkompeten.

Oleh karena seorang guru harus menunjukkan sikap kreatif, percaya diri, mau mencoba, dan berani mengambil resiko dalam menerapkan berbagai ide strategi pembelajaran berdiferensiasi. Semua hal ini bisa dilakukan dimulai dengan mengubah mind set atau pola pikir sebagai seorang guru bahwa harus bisa menghargai murid yang beragam, menggali berbagai minat murid, dan mencoba menyediakan sumber informasi yang dimiliki oleh sekolah untuk mengelola pembelajaran. Manajemen kelas yang efektif dan lingkungan belajar yang mendukung juga sangat dibutuhkan dalam menciptakan pembelajaran berdiferensiasi sehingga semua kebutuhan belajar murid dapat terlayani secara optimal.

“SMKN 10 Semarang, dari Semarang untuk Indonesia”

Penulis : Sonalita Wiguna, S. Pd.

Editor : Tim Humas

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar