Info Sekolah
Senin, 02 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

Menguatkan Iman dan Karakter Siswa Kristen dan Katolik Melalui Ibadah Jumat Rutin Sebagai Wujud Pembinaan Rohani di Lingkungan Sekolah Negeri

Diterbitkan :

Pendidikan pada hakikatnya tidak hanya bertujuan mencerdaskan peserta didik secara intelektual, tetapi juga membentuk manusia seutuhnya yang tangguh secara spiritual, emosional, dan sosial. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memiliki tanggung jawab besar dalam menanamkan nilai-nilai karakter, religiusitas, dan kemanusiaan sejak dini. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, remaja sebagai generasi penerus bangsa tidak cukup hanya dibekali ilmu pengetahuan, tetapi juga perlu diperkuat dalam hal spiritualitas agar mampu memiliki dasar hidup yang kokoh. Dalam konteks sekolah negeri yang inklusif dan multikultural, keberagaman agama di lingkungan sekolah justru menjadi peluang untuk menghadirkan ruang pembinaan rohani yang mendidik, membangun toleransi, dan memperkuat identitas iman peserta didik.

SMK Negeri 10 Semarang hadir sebagai salah satu sekolah negeri yang memberikan perhatian serius terhadap hal tersebut. Dengan latar belakang siswa yang beragam, baik dari sisi sosial, budaya, maupun agama, sekolah ini berkomitmen menghadirkan suasana belajar yang harmonis. Salah satu bentuk nyata dari komitmen itu adalah pelaksanaan ibadah Jumat rutin bagi siswa Kristen dan Katolik. Kegiatan ini dilaksanakan secara konsisten setiap pekan dan menjadi wadah penting bagi siswa untuk memperkuat iman sekaligus menginternalisasi nilai-nilai moral yang bersumber dari ajaran agama. Lebih dari sekadar rutinitas keagamaan, ibadah Jumat rutin ini merupakan bagian dari strategi pembinaan rohani yang diarahkan untuk mendampingi siswa dalam pertumbuhan spiritual dan karakter.

Ibadah Jumat bagi siswa Kristen dan Katolik di SMK Negeri 10 Semarang menjadi momen istimewa di tengah rutinitas belajar yang padat. Pada kesempatan ini, siswa berhenti sejenak dari hiruk pikuk aktivitas akademik untuk memasuki ruang doa, perenungan, dan pujian. Suasana yang tercipta begitu berbeda, penuh kekhusyukan, namun juga dekat dengan kehidupan remaja. Doa bersama, pembacaan firman Tuhan, pujian rohani, serta renungan singkat yang disampaikan oleh guru agama Kristen atau Katolik memberikan pengalaman spiritual yang konsisten. Materi renungan biasanya tidak jauh dari kehidupan siswa sehari-hari, seperti persahabatan, tantangan dalam belajar, tanggung jawab di rumah, atau cara menghadapi tekanan sosial. Dengan demikian, ibadah bukan hanya ritual yang dilaksanakan karena kewajiban, melainkan menjadi pembelajaran hidup yang aplikatif dan membumi.

Kebiasaan mengikuti ibadah setiap pekan melatih siswa membangun disiplin spiritual. Mereka terbiasa meluangkan waktu untuk berdoa, membaca firman, dan merenungkan makna iman dalam kehidupan nyata. Konsistensi ini membuat iman siswa bertumbuh bukan sekadar sebagai pengetahuan, tetapi sebagai sikap hidup yang membentuk tindakan sehari-hari. Tidak sedikit siswa yang kemudian menjadi lebih tekun belajar, lebih sabar menghadapi masalah, dan lebih bijak dalam mengambil keputusan. Hal ini menunjukkan bahwa pembinaan rohani berkontribusi nyata dalam membentuk pribadi yang lebih matang secara spiritual maupun emosional.

Lebih jauh, pelaksanaan ibadah Jumat rutin juga berdampak positif terhadap pembentukan karakter siswa. Nilai-nilai Kristiani seperti kasih, kejujuran, kesabaran, pengampunan, dan kepedulian terhadap sesama ditanamkan dalam setiap ibadah. Nilai-nilai tersebut lambat laun menyatu dalam diri siswa dan tampak dalam interaksi mereka sehari-hari. Hasil observasi menunjukkan bahwa siswa yang rutin mengikuti ibadah cenderung lebih disiplin dalam waktu, lebih empati terhadap teman, serta aktif dalam kegiatan sosial sekolah. Mereka belajar untuk tidak hanya berfokus pada diri sendiri, tetapi juga peduli terhadap kebutuhan orang lain. Dari sini terlihat jelas bahwa ibadah bukan hanya membina sisi spiritual, tetapi juga memperkuat moralitas dan tanggung jawab sosial.

Di sisi lain, kehadiran kegiatan ibadah Jumat bagi siswa Kristen dan Katolik di SMK Negeri 10 Semarang menunjukkan wajah pendidikan inklusif yang sesungguhnya. Meskipun sekolah negeri ini mayoritas siswanya beragama Islam, sekolah tetap menyediakan ruang dan waktu bagi siswa Kristen dan Katolik untuk beribadah tanpa merasa terpinggirkan. Inilah bentuk nyata dari toleransi yang hidup, bukan hanya slogan. Siswa dari berbagai agama belajar bahwa keberagaman bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang harus dihormati. Keberadaan ibadah ini menjadi contoh konkret bagaimana sekolah dapat menciptakan ruang kebebasan beragama yang sehat dan harmonis.

Pelaksanaan ibadah Jumat rutin ini tentu tidak lepas dari peran besar sekolah dan guru sebagai fasilitator rohani. Pihak sekolah menunjukkan dukungan penuh dengan menyediakan ruang ibadah yang layak, mengatur jadwal kegiatan agar tidak bentrok dengan pelajaran utama, serta memberi kebebasan siswa untuk berpartisipasi dengan penuh kesadaran. Guru agama Kristen dan Katolik mengambil peran sentral dalam membimbing, mendampingi, dan menjadi teladan bagi siswa. Mereka bukan hanya pengajar dalam arti akademik, tetapi juga figur rohani yang dekat, dipercaya, dan menginspirasi. Kolaborasi ini membuktikan bahwa sekolah negeri sekalipun dapat menjadi tanah subur bagi pembinaan iman, selama ada kesadaran bersama akan pentingnya spiritualitas dalam pendidikan.

Dampak positif dari kegiatan ini tidak hanya dirasakan oleh siswa Kristen dan Katolik, tetapi juga oleh seluruh ekosistem sekolah. Suasana sekolah menjadi lebih harmonis, penuh rasa saling menghargai, dan toleran. Perbedaan tidak lagi dipandang sebagai jurang pemisah, melainkan sebagai sarana belajar hidup berdampingan secara damai. Dengan adanya ibadah Jumat rutin, siswa belajar secara langsung bagaimana hidup rukun dalam keberagaman, sebuah keterampilan sosial yang sangat penting di tengah masyarakat plural seperti Indonesia.

Kesimpulannya, pembinaan rohani melalui ibadah Jumat rutin bagi siswa Kristen dan Katolik di SMK Negeri 10 Semarang merupakan praktik pendidikan yang sangat berharga. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat iman secara personal, tetapi juga membentuk karakter moral, meningkatkan disiplin, menumbuhkan kepedulian sosial, serta menciptakan suasana sekolah yang inklusif dan toleran. Sekolah tidak hanya berhasil menjadi ruang belajar akademik, tetapi juga rumah yang mendampingi perkembangan spiritual peserta didik. Di tengah dinamika kehidupan remaja yang sarat tantangan, ibadah Jumat rutin ini hadir sebagai oase rohani yang meneguhkan langkah siswa untuk bertumbuh sebagai pribadi yang beriman, berkarakter, dan siap menghadapi kehidupan dengan sikap yang positif.

“Ciptakan Inovasi, Tebarkan Manfaat”

“SMK Negeri 10 Semarang, dari Semarang untuk Indonesia”

Penulis : Alvenia Clarista Arifin, Mahasiswa Lantip 5 Unnes, Mapel Bimbingan dan Konseling

Penyunting: Tim Humas dan Literasi

Artikel ini memiliki

1 Komentar

Elmina
Jumat, 25 Jul 2025

Semangat …belajar melayani

Balas

Beri Komentar