SEMARANG — Mengawali pagi Sayyidul Ayyam Jumat, 27 Februari 2026, keluarga besar SMK Negeri 10 Semarang menggelar kegiatan keagamaan berupa salat Dhuha berjamaah dan kuliah tujuh menit (kultum) sebagai ungkapan syukur karena kembali dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah. Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hari di lingkungan sekolah tersebut diikuti oleh jajaran guru, tenaga kependidikan, serta para siswa dengan suasana khidmat dan penuh kekhusyukan.
Acara diawali dengan pembukaan dan lantunan basmalah, “Bismillahirrahmanirrahim,” yang menandai dimulainya rangkaian kegiatan spiritual pagi itu. Pihak sekolah menyebut momentum menjelang Ramadhan sebagai waktu yang tepat untuk memperkuat nilai keimanan sekaligus menanamkan karakter religius kepada peserta didik. Dalam kesempatan tersebut, salat Dhuha berjamaah dipimpin oleh Imam Bapak Muslim Anwar, S.Ag., yang juga merupakan guru Pendidikan Agama Islam di sekolah tersebut.
Usai pelaksanaan salat, kegiatan dilanjutkan dengan kultum yang disampaikan oleh Ustadz Sudjatmiko, S.Pd., M.Si. Dalam ceramah singkatnya, ia mengangkat tema “Syukur” sebagai landasan utama dalam menyambut bulan suci. Ustadz Sudjatmiko menekankan bahwa rasa syukur bukan sekadar ucapan, melainkan harus tercermin dalam perilaku sehari-hari, terutama dalam memanfaatkan nikmat kesehatan, waktu, dan kesempatan untuk beribadah.
“Kita patut bersyukur karena Allah masih memberikan umur dan kesehatan sehingga dapat kembali bertemu dengan Ramadhan tahun ini. Tidak semua orang mendapat kesempatan yang sama,” ujar Sudjatmiko di hadapan jamaah.
Ia juga mengingatkan bahwa rasa syukur akan mendatangkan keberkahan dan ketenangan hidup. Menurutnya, sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan akhlak dan spiritualitas. “Jika siswa terbiasa bersyukur sejak dini, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat, sabar, dan tidak mudah mengeluh,” tambahnya.
Suasana haru dan khidmat tampak menyelimuti peserta kegiatan. Para siswa mengikuti rangkaian acara dengan tertib, sebagian tampak mencatat poin-poin penting dari ceramah yang disampaikan. Pihak sekolah menilai antusiasme tersebut sebagai indikator meningkatnya kesadaran spiritual di kalangan peserta didik.
Salah seorang guru yang hadir, Muslim Anwar, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin yang diperkuat menjelang Ramadhan. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sebagai bagian dari pembinaan karakter religius di sekolah kejuruan tersebut. “Kami ingin siswa tidak hanya unggul secara kompetensi, tetapi juga memiliki akhlak yang baik dan rasa syukur yang tinggi,” katanya.
Kepala sekolah melalui pernyataan yang disampaikan panitia juga mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan dengan lancar. Menurut pihak sekolah, momentum Jumat pagi menjelang Ramadhan merupakan waktu yang sangat tepat untuk refleksi diri sekaligus mempererat kebersamaan warga sekolah. “Semoga kita semua termasuk hamba-hamba Allah yang pandai bersyukur,” demikian pesan yang disampaikan kepada seluruh peserta.
Selain sebagai bentuk persiapan spiritual menyambut Ramadhan, kegiatan ini juga diharapkan mampu menciptakan suasana sekolah yang religius dan kondusif. Nilai-nilai kebersamaan, kedisiplinan, dan kepedulian sosial disebut sebagai tujuan jangka panjang dari program pembinaan keagamaan yang rutin digelar.
Para siswa yang diwawancarai usai kegiatan mengaku merasa lebih tenang dan termotivasi setelah mengikuti salat Dhuha dan kultum. Mereka berharap kegiatan semacam ini dapat terus dilakukan, tidak hanya menjelang Ramadhan tetapi juga sepanjang tahun ajaran. “Rasanya hati jadi lebih siap menyambut puasa,” ujar salah satu siswa.
Dengan berakhirnya rangkaian acara pada pagi hari itu, keluarga besar SMKN 10 Semarang menegaskan komitmennya untuk terus menanamkan nilai syukur sebagai fondasi kehidupan. Momentum pertemuan dengan Ramadhan 1447 Hijriah dimaknai bukan sekadar peristiwa tahunan, melainkan kesempatan berharga untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah.
Kegiatan pagi tersebut ditutup dengan doa bersama agar seluruh warga sekolah diberikan kesehatan, kekuatan iman, serta kemampuan untuk menjalankan ibadah Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Suasana kebersamaan yang tercipta menjadi gambaran bahwa pendidikan karakter berbasis spiritual masih menjadi bagian penting dalam dunia pendidikan, khususnya di lingkungan sekolah kejuruan.
Penulis : Muhammad Suparjo, Guru PAI SMK Negeri 10 Semarang

Beri Komentar