Info Sekolah
Jumat, 27 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

Sholat Dhuha Berjamaah di SMK Negeri 10 Semarang, Bekal Spiritual Sambut Ramadhan 1447 H

Diterbitkan : - Kategori : Berita

Semarang – Suasana religius menyelimuti Aula SMK Negeri 10 Semarang pada Rabu, 25 Pebruari 2026. Sejak pagi hari, ratusan guru, karyawan dan siswa berkumpul untuk mengikuti kegiatan bertajuk Sholat Dhuha Berjamaah. Kegiatan yang dipusatkan di aula sekolah tersebut menjadi momentum pembinaan spiritual selama bulan suci Ramadhan.

Sholat Dhuha berjamaah itu dipimpin oleh Suhermawan selaku imam. Lantunan bacaan ayat suci Al-Qur’an yang menggema di aula menambah kekhusyukan jamaah yang terdiri atas seluruh civitas akademika SMK Negeri 10 Semarang. Barisan siswa tampak rapi berdampingan dengan para guru dan karyawan, mencerminkan kebersamaan tanpa sekat.

Usai pelaksanaan sholat, kegiatan dilanjutkan dengan kultum yang disampaikan oleh Nur Ahmad Abrori. Dalam ceramahnya, ia mengajak seluruh peserta untuk mempersiapkan diri menyambut Ramadhan dengan memperkuat pemahaman tentang hakikat puasa sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an.

“Puasa Ramadhan bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan sebuah perintah langsung dari Allah SWT yang tertuang indah dalam Al-Qur’an. Jika kita membuka mushaf, Allah SWT memberikan ‘manual book’ atau panduan lengkap mengenai puasa ini dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 hingga 187,” ujar Nur Ahmad Abrori di hadapan jamaah.

Ia menjelaskan bahwa ayat-ayat tersebut menjadi pondasi utama mengapa umat Islam berpuasa, bagaimana cara melaksanakannya, serta apa tujuan yang hendak dicapai. Mengutip QS. Al-Baqarah ayat 183, ia membacakan, “Yā ayyuhallażīna āmanụ kutiba ‘alaikumus-ṣiyāmu kamā kutiba ‘alallażīna ming qablikum la’allakum tattaqụn,” yang berarti, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Menurutnya, terdapat tiga poin penting dalam ayat tersebut. “Pertama, sasaran puasa adalah orang-orang beriman. Kedua, puasa adalah kewajiban, bukan pilihan. Ketiga, tujuan utamanya adalah agar kita bertakwa,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa makna takwa bukan sekadar simbol, melainkan perisai diri dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. “Tujuan puasa bukanlah lapar dan dahaga semata. Jika hanya lapar, kita bisa lapar di luar Ramadhan. Puasa adalah madrasah untuk melatih jiwa agar taat kepada Allah,” katanya.

Dalam penjelasannya mengenai ayat 184 dan 185, Nur Ahmad Abrori juga mengingatkan tentang kasih sayang Allah melalui adanya keringanan atau rukhshah bagi orang sakit dan musafir. “Allah Maha Pengasih. Bagi yang sakit atau dalam perjalanan, diperbolehkan tidak berpuasa dan menggantinya di hari lain. Bagi yang sangat berat berpuasa, seperti orang tua renta, ada kewajiban membayar fidyah. Ini menunjukkan bahwa Islam itu agama yang mudah, bukan untuk menyulitkan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa di akhir ayat tersebut, Allah memerintahkan umat-Nya untuk memperbanyak takbir dan tahmid sebagai wujud syukur atas petunjuk dan kemudahan yang diberikan.

Pada bagian lain kultumnya, ia mengutip ayat 186 yang berbunyi, “Wa iżā sa`alaka ‘ibādī ‘annī fa innī qarīb,” yang artinya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.” Menurutnya, ayat ini menjadi pengingat bahwa Ramadhan adalah momentum kedekatan spiritual antara hamba dan Sang Pencipta.

“Di bulan Ramadhan, pintu doa terbuka lebar. Puasa adalah momen intim antara hamba dan Tuhannya. Allah menjamin doa orang yang berpuasa akan dikabulkan,” tuturnya.

Ia juga menyinggung tentang i’tikaf sebagaimana disebutkan dalam ayat, “Wa antum ‘ākifūna fil-masājid.” Menurutnya, i’tikaf merupakan puncak pelatihan spiritual di bulan Ramadhan, di mana seorang hamba memfokuskan diri beribadah di masjid.

Sebagai penutup, Nur Ahmad Abrori mengajak seluruh peserta untuk meluruskan niat dalam berpuasa, menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat, memanfaatkan waktu dengan memperbanyak doa dan ibadah malam, serta mensyukuri nikmat kesehatan. “Pastikan puasa kita bukan karena ikut-ikutan, tapi karena perintah Allah untuk meraih takwa. Puasakan pula mata, telinga dan lisan kita,” pesannya.

Kegiatan Sholat Dhuha Berjamaah ini menjadi bagian dari upaya SMK Negeri 10 Semarang dalam membentuk karakter religius dan meningkatkan keimanan seluruh warga sekolah. Melalui kegiatan ini, diharapkan semangat menyambut Ramadhan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi benar-benar menjadi momentum perbaikan diri.

Acara ditutup dengan doa bersama agar seluruh guru, karyawan dan siswa diberikan kesehatan serta kesempatan untuk bertemu Ramadhan dalam keadaan terbaik. “Semoga Allah SWT mempertemukan kita dengan Ramadhan tahun ini dalam keadaan sehat wal afiat, menerima puasa kita, dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bertakwa,” pungkas Nur Ahmad Abrori, yang diamini oleh seluruh jamaah.

Penulis : Muhammad Yunan Setyawan, Waka Humas SMK Negeri 10 Semarang

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar