Info Sekolah
Sabtu, 28 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

Guru BK se-Jawa Tengah Ikuti Webinar Dukungan Psikologis Murid Disabilitas Mental, Tekankan Peran Inklusif Sekolah

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG — Upaya meningkatkan kualitas layanan pendidikan inklusif terus diperkuat melalui penguatan kapasitas guru. Ratusan Guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMA/SMK negeri dan swasta se-Jawa Tengah mengikuti Webinar Dukungan Psikologis Guru dan Akomodasi Layak bagi Murid Penyandang Disabilitas Mental yang diselenggarakan secara daring pada Sabtu, 28 Februari 2026. Kegiatan yang berlangsung pukul 08.30 hingga 11.30 WIB melalui Zoom Meeting tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman guru mengenai bentuk dukungan psikologis bagi murid dengan disabilitas mental sekaligus penerapan akomodasi layak di lingkungan sekolah.

Webinar ini diikuti peserta dari berbagai daerah di Jawa Tengah, mencerminkan tingginya kebutuhan akan pengetahuan praktis dalam menangani murid dengan kebutuhan khusus, khususnya disabilitas mental. Dalam sesi pembukaan, panitia menekankan bahwa guru BK memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam mendeteksi, mendampingi, serta memastikan terpenuhinya hak belajar setiap murid secara adil dan manusiawi.

Materi yang disampaikan dalam webinar menyoroti pentingnya pendekatan individual, lingkungan belajar yang inklusif, serta kolaborasi lintas pihak untuk mendukung perkembangan optimal murid penyandang disabilitas mental. Para peserta juga diajak memahami konsep akomodasi layak, yakni penyesuaian yang diperlukan agar murid dapat mengakses pendidikan tanpa hambatan yang tidak perlu.

Salah satu peserta, Elmina, Guru BK SMK Negeri 10 Semarang, menegaskan bahwa dukungan guru merupakan faktor kunci bagi keberhasilan murid dengan disabilitas. Menurutnya, guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendamping psikologis yang memahami kondisi unik setiap anak.

“Dukungan guru sangat penting bagi murid dengan disabilitas untuk membantu mereka mencapai potensi maksimal mereka,” ujar Elmina saat sesi diskusi. Ia menjelaskan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan guru adalah mengenali kebutuhan individu setiap murid agar bantuan yang diberikan tepat sasaran.

Elmina menambahkan bahwa sekolah perlu menciptakan akademi yang inklusif dengan melibatkan murid penyandang disabilitas dalam seluruh kegiatan kelas. “Mereka harus diberi kesempatan yang sama untuk berpartisipasi, bukan dipisahkan,” katanya.

Selain itu, pemanfaatan teknologi bantuan juga dinilai sangat membantu proses belajar. Perangkat lunak pembaca layar, alat bantu dengar, maupun aplikasi pembelajaran adaptif dapat mempermudah murid dalam memahami materi. Guru juga didorong mengembangkan strategi pembelajaran yang beragam, baik visual, auditori, maupun kinestetik, agar sesuai dengan karakteristik belajar masing-masing murid.

Menurut Elmina, kolaborasi dengan orang tua dan tenaga profesional seperti psikolog atau terapis okupasi tidak kalah penting. “Guru tidak bisa bekerja sendiri. Dukungan keluarga dan tenaga ahli sangat menentukan keberhasilan pendampingan,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman, termasuk penyediaan fasilitas ramah disabilitas serta budaya sekolah yang penuh empati. Kesadaran seluruh warga sekolah terhadap kebutuhan dan kemampuan murid dengan disabilitas harus terus dibangun agar tidak terjadi stigma maupun diskriminasi.

Dengan dukungan yang tepat, Elmina meyakini murid penyandang disabilitas mental mampu berkembang secara optimal, baik secara akademik maupun sosial. “Mereka bisa meningkatkan prestasi belajar, keterampilan sosial, kepercayaan diri, bahkan kemandirian jika didukung dengan benar,” katanya.

Para narasumber dalam webinar juga menegaskan bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar kebijakan, melainkan komitmen moral untuk memastikan setiap anak memperoleh kesempatan yang sama. Guru didorong untuk lebih peka terhadap tanda-tanda kesulitan emosional maupun perilaku yang mungkin dialami murid.

Selama kegiatan berlangsung, peserta aktif mengajukan pertanyaan terkait penanganan kasus nyata di sekolah, mulai dari kecemasan berlebih, gangguan konsentrasi, hingga kesulitan interaksi sosial. Diskusi interaktif tersebut menunjukkan bahwa tantangan di lapangan cukup kompleks dan membutuhkan pendekatan multidisipliner.

Panitia berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan agar kompetensi guru dalam menangani murid berkebutuhan khusus semakin meningkat. Selain itu, webinar ini diharapkan mampu mendorong sekolah-sekolah di Jawa Tengah untuk lebih serius menerapkan prinsip inklusivitas.

Dengan meningkatnya pemahaman guru mengenai dukungan psikologis dan akomodasi layak, diharapkan tidak ada lagi murid yang tertinggal karena kondisi disabilitas mental yang dimiliki. Pendidikan yang ramah dan inklusif diyakini menjadi kunci dalam mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berempati dan menghargai keberagaman.

Webinar ini menjadi bukti bahwa transformasi pendidikan inklusif tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada kesiapan dan kepedulian para pendidik di lapangan. Bagi para guru BK yang mengikuti kegiatan tersebut, pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat langsung diterapkan di sekolah masing-masing demi masa depan murid yang lebih baik.

Penulis : Nur Kholifah, Staf Tata Usaha SMK Negeri 10 Semarang

Artikel ini memiliki

2 Komentar

Elmina Ita K. S.Pd, M.Si
Sabtu, 28 Feb 2026

Tetep semangat guru BK Indonesia

Balas
DYAH RIEFKA MAHARANI APRILIA KARTINI
Sabtu, 28 Feb 2026

Semoga guyup rukun saklawase guru BK Se – Indonesia ….sukses Dan terus berkarya….semangatt….🫶🙏

Balas

Beri Komentar