SEMARANG-Alhamdulillah Sholat berjamaah Dhuhur Hari Kamis, 26 Februari 2026 ini telah dilaksanakan dengan hikmat dengan Imam Muhammad Miftahur Rofi’i, S.Pd dan Penceramah Nasi’in Syamsul Huda, S.Pd. dengan Tema Fadhilah Ibadah Puasa di 3 fase Bulan Ramadhan, Semoga kita semua termasuk orang orang yg beruntung. Kegiatan ibadah tersebut berlangsung khusyuk di tengah suasana gerimis yang turun sejak siang hari, menambah keteduhan spiritual bagi para jamaah yang memadati masjid.
Sholat Dhuhur berjamaah itu dipimpin langsung oleh Imam Muhammad Miftahur Rofi’i, S.Pd, yang dengan suara tenang dan tartil memandu jamaah menunaikan rukun-rukun sholat. Seusai sholat, tausiyah disampaikan oleh Nasi’in Syamsul Huda, S.Pd, yang mengangkat tema tentang fadhilah ibadah puasa dalam tiga fase Bulan Ramadhan.
Dalam pembukaannya, Nasi’in mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. “Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang masih memberikan kita nikmat iman, islam, dan kesehatan sehingga dapat bertemu kembali dengan bulan suci Ramadhan. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, suri tauladan terbaik yang telah mengajarkan kita bagaimana menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan penuh cahaya,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia menegaskan bahwa Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, melainkan madrasah ruhaniyah yang mendidik umat Islam untuk mencapai derajat takwa. Menurutnya, para ulama membagi perjalanan spiritual Ramadhan menjadi tiga fase, yakni sepuluh hari pertama sebagai fase rahmat, sepuluh hari kedua sebagai fase maghfirah, dan sepuluh hari terakhir sebagai fase pembebasan dari api neraka.
“Saudaraku sekalian, mari kita renungkan bersama, di fase manakah hati kita saat ini berada?” ucapnya retoris, membuat suasana masjid hening dan penuh perenungan.
Pada fase pertama, sepuluh hari awal Ramadhan disebut sebagai fase Rahmat atau kasih sayang Allah SWT. Ia mengutip hadis riwayat Abu Hurairah yang menyebutkan bahwa awal Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka. “Di fase ini Allah seolah memanggil kita untuk kembali. Hati yang keras dilunakkan, air mata taubat lebih mudah mengalir. Jangan sampai kita melewati fase emas ini hanya dengan rasa lapar biasa tanpa merasakan hangatnya kasih sayang Ilahi,” tegasnya.
Memasuki fase kedua, lanjutnya, umat Islam berada dalam suasana Maghfirah atau pengampunan. Menurut Nasi’in, fase ini merupakan momentum membersihkan dosa-dosa yang telah menumpuk melalui taubat nasuha dan memperbanyak istighfar. “Ini adalah momen cuci gudang amal buruk. Perbanyak membaca Astaghfirullahal ‘Adzim, minta maaf kepada orang tua, pasangan, dan teman-teman. Jangan biarkan ada hak sesama manusia yang belum terselesaikan,” katanya.
Ia menekankan bahwa ampunan Allah SWT sangat luas, namun harus disertai kesungguhan memperbaiki diri. Jamaah pun diimbau untuk memanfaatkan malam-malam ganjil dengan qiyamul lail dan doa yang tulus agar lembaran dosa dihapuskan.
Sementara itu, pada fase ketiga atau sepuluh hari terakhir Ramadhan, Nasi’in menyebutnya sebagai puncak pendakian spiritual. Fase ini dikenal dengan istilah Itqun Minan Nar, yakni pembebasan dari api neraka. Di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.
“Di fase ini kita harus lebih bersungguh-sungguh. Rasulullah SAW mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah dan membangunkan keluarganya. Jangan sampai kita lengah di detik-detik terakhir Ramadhan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan doa yang diajarkan kepada Aisyah RA untuk dibaca pada malam-malam akhir Ramadhan. “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni. Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai maaf, maka maafkanlah aku. Doa ini hendaknya menjadi senjata utama kita dalam meraih ampunan dan pembebasan,” katanya.
Kegiatan sholat berjamaah dan tausiyah tersebut tidak hanya menjadi rutinitas ibadah, melainkan juga sarana refleksi diri bagi para jamaah. Beberapa jamaah tampak larut dalam suasana haru, terlebih ketika penceramah mengingatkan agar tidak termasuk golongan orang yang merugi karena bertemu Ramadhan namun tidak memperoleh ampunan.
“Ketiga fase ini adalah paket lengkap pendidikan jiwa. Namun, paket ini tidak otomatis kita dapatkan tanpa kesungguhan. Ia harus direbut dengan jihad melawan hawa nafsu,” tegas Nasi’in menutup tausiyahnya.
Dengan berakhirnya kegiatan tersebut, jamaah meninggalkan masjid dengan wajah teduh dan penuh harap. Gerimis yang masih turun seakan menjadi simbol kesejukan rahmat yang diharapkan turun menyertai langkah mereka. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang beruntung, yang mampu meraih rahmat di awal Ramadhan, mendapatkan maghfirah di pertengahannya, dan memperoleh pembebasan dari api neraka di penghujungnya.






Users Today : 416
Users Yesterday : 915
This Month : 33297
This Year : 77776
Total Users : 728858
Views Today : 1190
Total views : 3797121
Who's Online : 26





Beri Komentar