Dalam banyak ruang kelas Sejarah hari ini, proses belajar seringkali terjebak dalam narasi tunggal yang didominasi oleh metode ceramah. Guru berdiri di depan menceritakan rentetan peristiwa kronologis, sementara siswa sibuk mencatat demi mengejar ketuntasan kurikulum yang padat. Sejarah akhirnya dianggap sebagai mata pelajaran “hafalan” yang membosankan. Di balik efisiensi penyampaian materi ini, muncul masalah mendasar: siswa kehilangan keterhubungan emosional dan intelektual dengan masa lalu bangsanya.
Dampak negatif dari pembelajaran yang terlalu teacher-centered sangat nyata. Siswa yang memiliki minat baca tinggi mungkin merasa tidak tertantang jika hanya mendengarkan poin-poin yang ada di buku teks. Sebaliknya, siswa yang kesulitan memvisualisasikan masa lalu atau memiliki keterbatasan literasi akan merasa terasing dari diskusi. Tanpa ruang untuk bertanya “mengapa” dan “bagaimana”, Sejarah kehilangan daya tariknya sebagai ilmu yang kritis.
Transformasi kelas Sejarah bukan hanya soal mengganti buku dengan video, melainkan mengubah pendekatan agar lebih adaptif. Dalam satu kelas, kemampuan literasi siswa pasti beragam. Ada siswa yang mampu menganalisis sumber primer seperti arsip atau surat kabar lama dengan cepat. Namun, ada juga siswa yang membutuhkan bantuan visual atau narasi yang lebih sederhana untuk memahami konteks sebuah peristiwa.
Ketimpangan ini harus dijembatani. Jika guru terus memaksakan satu kecepatan yang sama, siswa yang tertinggal akan merasa minder dan menganggap Sejarah tidak relevan bagi hidup mereka. Lingkungan belajar harus ditransformasi menjadi ruang yang inklusif, di mana setiap siswa merasa aman untuk mengemukakan pendapatnya mengenai suatu peristiwa sejarah tanpa takut salah.
Langkah konkret untuk memulai perubahan ini dapat diawali dengan pelaksanaan asesmen diagnostik yang dilakukan secara konsisten sebelum memasuki topik sejarah yang baru. Melalui kuis singkat atau diskusi pemantik mengenai suatu peristiwa, guru dapat memetakan keragaman pemahaman awal serta minat siswa terhadap periode sejarah tertentu. Data yang diperoleh dari asesmen ini kemudian menjadi fondasi bagi guru untuk menerapkan diferensiasi instruksional, di mana siswa yang sudah memiliki kemampuan analisis tinggi dapat diarahkan untuk membedah sumber primer seperti arsip atau surat kabar lama, sementara siswa yang masih berada di level pemahaman dasar didampingi melalui bantuan visual seperti infografis kronologis atau video naratif.
Kesinambungan proses ini diperkuat dengan penerapan strategi blended learning yang mengintegrasikan interaksi tatap muka dengan fleksibilitas platform digital. Dengan menyediakan repositori materi seperti peta digital, dokumenter, dan e-book di ruang daring, siswa mendapatkan kesempatan untuk mengeksplorasi materi sesuai dengan kecepatan baca dan gaya belajar masing-masing tanpa harus merasa terintimidasi oleh kecepatan kawan sejawatnya. Guru kemudian memanfaatkan waktu di dalam kelas bukan untuk mendikte teks, melainkan untuk mendalami diskusi kelompok yang lebih personal, memantau perkembangan setiap individu, dan memberikan umpan balik langsung terhadap kendala yang dihadapi siswa dalam memahami konteks sejarah yang kompleks.
Integrasi teknologi tersebut mencapai puncaknya ketika guru mengimplementasikan Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning) yang menghubungkan narasi sejarah dengan realitas di sekitar siswa. Siswa tidak lagi sekadar menghafal tahun, melainkan terjun langsung melakukan penelitian sejarah lisan dengan mewawancarai tokoh lokal atau memproduksi konten kreatif seperti dokumenter pendek mengenai situs bersejarah di lingkungan mereka. Proyek kolektif semacam ini menciptakan ruang bagi setiap siswa untuk berkontribusi sesuai bakatnya (baik dalam aspek riset literasi, pengambilan gambar, maupun narasi), sehingga sejarah dirasakan sebagai pengalaman yang hidup dan inklusif bagi seluruh peserta didik.
Penting bagi guru Sejarah untuk membangun budaya umpan balik. Melalui refleksi di akhir pelajaran, siswa diajak mengungkapkan perasaan mereka: “Bagian mana dari peristiwa ini yang paling menyentuh perasaanmu?” atau “Apa kesulitanmu dalam memahami konflik ini?”. Refleksi ini bukan hanya membantu guru memperbaiki metode mengajar, tetapi juga memanusiakan siswa sebagai subjek pembelajar.
Jika transformasi ini dilakukan, peran guru Sejarah akan bergeser secara fundamental: dari seorang “penutur dongeng masa lalu” menjadi seorang fasilitator yang membantu siswa mengonstruksi pemahaman sejarah mereka sendiri. Hasilnya bukan sekadar nilai ujian yang tinggi, melainkan tumbuhnya kesadaran sejarah dan kemampuan berpikir kritis yang akan dibawa siswa hingga mereka dewasa.
Transformasi ini adalah perjalanan untuk menjadikan Sejarah sebagai cermin bagi siswa untuk melihat diri mereka dan masa depan dengan lebih jernih.
Penulis : Janto, S.Pd, Guru Sejarah SMK Negeri 10 Semarang

Istimewa…
Istimewa…
Mantap
Mantaaabb’s ………
Darii seorang “penutur dongeng masa lalu” menjadi seorang fasilitator yang membantu siswa mengonstruksi pemahaman sejarah. Luar biasa.
Ketika siswa dilibatkan sebagai subjek pembelajaran, sejarah hidup kembali di ruang kelas
Alhamdulillah semoga menjadikan KBM di kelas lebih bersemangat seperti dulu saat ada CBSA .
Pelajaran sejarah akan membantu merefleksi menumbuhkan rasa kesadaran dan berfikir kritis.
Metode ceramah memiliki kekurangan yaitu sumber informasi hanya berpusat pada guru, diera digitalisasi informasi mudah didapat, referensi dapat diakses dengan mudah, cepat dan up to date, sehingga peran guru tidak hanya sebagian pengajar tetapi juga sebagai fasilitator yang dapat menampung berbagai macam pendapat dan ide pikiran . Pembelajaran PjBL merupakan metode untuk mengolah berbagai ide,cara penyelesaian dari bermacam-macam karakter siswa, metode Pjbl lebih efektif dari pada ceramah, dikarenakan memposisikan siswa sebagai obyek pembelajaran
Pembelajaran Sejarah perlu berpihak pada siswa agar lebih bermakna dan kritis.
Mantap dan istimewa
Luar biasa🔥
One of the inspiring thinking statement
Bravo pak Janto👍
Sangat menginspirasi
Setuju sekali dengan artikel ini. Transformasi pembelajaran sejarah memang seharusnya tidak lagi hanya fokus pada transfer pengetahuan kronologis, tetapi juga pada pengembangan kemampuan berpikir kritis dan empati sejarah. Menjadikan siswa sebagai subjek dalam kelas sejarah adalah kunci agar mereka memahami bahwa masa lalu adalah cermin untuk masa depan. Langkah maju yang luar biasa!
Beri Komentar