Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sejak lama dikenal sebagai lembaga pendidikan yang berorientasi pada pembentukan tenaga kerja terampil. Berbeda dengan sekolah menengah umum, SMK menekankan keseimbangan antara teori dan praktik, sehingga lulusannya benar-benar siap menghadapi tuntutan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Harapan besar dititipkan kepada lulusan SMK: mereka bukan hanya menguasai keterampilan teknis, tetapi juga mampu beradaptasi dengan dinamika industri yang terus berkembang.
Salah satu jurusan di SMK yang memiliki kontribusi signifikan terhadap dunia industri, khususnya sektor otomotif, adalah Teknik Kendaraan Ringan (TKR). Jurusan ini melatih siswa untuk memahami, merawat, serta memperbaiki berbagai sistem yang ada pada kendaraan modern. Di dalamnya terdapat mata pelajaran Perawatan Kelistrikan Kendaraan Ringan (PKKR) yang berperan penting dalam membekali siswa dengan kompetensi kelistrikan otomotif. Materi yang diajarkan mencakup dasar-dasar teori hingga keterampilan praktik, dengan tujuan agar siswa tidak hanya tahu cara kerja sistem, tetapi juga mampu menganalisis dan melakukan perbaikan.
Salah satu materi yang cukup menantang sekaligus aplikatif dalam PKKR adalah Sistem Central Lock. Materi ini sangat relevan dengan kebutuhan dunia otomotif modern, mengingat sistem penguncian sentral sudah menjadi fitur standar pada sebagian besar kendaraan. Keberadaan sistem ini bukan hanya untuk kenyamanan pengguna, tetapi juga untuk keamanan kendaraan. Dengan menguasai materi ini, siswa TKR akan memiliki nilai tambah yang nyata ketika terjun ke dunia kerja, karena mereka mampu menjelaskan, memasang, maupun memperbaiki sistem central lock yang sering kali mengalami masalah di lapangan.
Namun, dalam praktiknya, pembelajaran PKKR kerap menemui kendala. Latar belakang siswa yang beragam menciptakan perbedaan dalam gaya belajar. Ada siswa yang lebih mudah memahami konsep jika langsung berhadapan dengan praktik, tetapi ada pula yang lebih nyaman mencerna penjelasan guru atau memanfaatkan media visual seperti video dan diagram. Kompleksitas materi sistem kelistrikan, ditambah dengan perbedaan gaya belajar tersebut, sering kali membuat siswa kesulitan menghubungkan teori dengan praktik. Di sinilah strategi pembelajaran yang tepat menjadi kunci agar semua siswa dapat mencapai kompetensi yang diharapkan.
Salah satu strategi yang dianggap relevan dan efektif adalah scaffolding. Konsep ini berasal dari teori Zone of Proximal Development (ZPD) yang diperkenalkan oleh psikolog Lev Vygotsky. Teori ini menekankan bahwa siswa dapat mencapai tingkat perkembangan yang lebih tinggi apabila mendapat dukungan dari orang yang lebih berpengalaman. Bantuan yang diberikan dalam scaffolding bukanlah sesuatu yang permanen. Ia bersifat sementara dan akan dikurangi sedikit demi sedikit hingga siswa mampu mandiri. Seperti perancah pada bangunan, scaffolding menopang proses pembelajaran sampai bangunan kemandirian itu kokoh berdiri.
Bentuk-bentuk scaffolding dalam pembelajaran sangat beragam. Ada scaffolding kognitif, berupa pertanyaan pemantik, penjelasan konsep, atau penyederhanaan istilah teknis agar lebih mudah dipahami. Ada juga scaffolding material, seperti jobsheet, video pembelajaran, wiring diagram, hingga bahan ajar digital yang membantu siswa memahami alur sistem kelistrikan. Scaffolding sosial tercermin dalam kerja sama antar siswa maupun interaksi intensif antara guru dan siswa. Selain itu, scaffolding struktural hadir dalam bentuk prosedur kerja yang sistematis ketika praktik di bengkel. Tidak kalah penting, scaffolding evaluatif berbentuk refleksi, kuis interaktif, maupun evaluasi diri yang mendorong siswa mengukur sejauh mana pencapaiannya.
Dalam konteks pembelajaran PKKR, scaffolding sangat relevan. Siswa dituntut untuk menguasai teori kelistrikan sekaligus keterampilan teknis dalam praktik. Tanpa bantuan yang tepat, banyak siswa yang akan tertinggal karena kesulitan mengaitkan teori dengan praktik nyata. Melalui scaffolding, guru dapat memberikan tahapan-tahapan yang jelas sehingga siswa lebih mudah mengikuti alur, misalnya dari sekadar mengenali komponen, memahami fungsi, hingga melakukan perbaikan sistem central lock secara mandiri. Strategi ini juga sesuai dengan karakteristik pembelajaran vokasi yang menuntut keterampilan berpikir kritis, ketelitian, serta kerja sama tim.
Penerapan scaffolding dalam materi sistem central lock biasanya dilakukan dalam beberapa tahapan. Tahap pertama adalah stimulus atau pembukaan. Di tahap ini, guru membangkitkan rasa ingin tahu siswa dan menghubungkan materi dengan pengetahuan awal mereka. Pertanyaan sederhana seperti “Mengapa kendaraan modern membutuhkan sistem central lock?” mampu mendorong siswa berpikir kritis sekaligus menyadari relevansi materi yang akan dipelajari.
Tahap berikutnya adalah pemahaman konsep. Pada tahap ini, guru menyediakan berbagai bahan ajar berupa artikel, modul, video pembelajaran, dan wiring diagram. Siswa diminta untuk membaca, mendiskusikan, serta membuat rangkuman pemahaman mereka. Diskusi kelompok menjadi media scaffolding sosial yang efektif karena siswa dapat saling bertukar pendapat dan memperkuat pemahaman.
Setelah itu, pembelajaran dilanjutkan dengan tahap aplikasi, yaitu praktik langsung menggunakan trainer central lock. Jobsheet digunakan sebagai panduan langkah demi langkah. Siswa diarahkan untuk mengidentifikasi komponen, mengukur tegangan dan arus menggunakan multimeter, hingga menyusun rangkaian kelistrikan. Dalam tahap ini, guru memberikan arahan sekaligus ruang bagi siswa untuk bereksperimen dan mencoba.
Tahap refleksi kemudian dilakukan setelah praktik. Siswa diminta untuk mempresentasikan hasil kerja mereka. Presentasi ini menjadi ajang scaffolding sosial dan evaluatif karena siswa mendapatkan umpan balik dari guru maupun teman. Kuis interaktif dapat ditambahkan untuk mengukur pemahaman individu secara lebih spesifik. Refleksi semacam ini sangat penting karena membuat siswa menyadari kelebihan dan kekurangan mereka.
Tahap terakhir adalah pelepasan scaffolding, di mana siswa mulai dilatih mandiri. Pada tahap ini, mereka diberi kesempatan untuk melakukan troubleshooting atau perbaikan kerusakan sistem central lock tanpa bantuan jobsheet detail. Guru hanya bertindak sebagai pengamat, memberi arahan singkat jika benar-benar diperlukan. Setelah selesai, siswa menyusun laporan praktik sebagai bukti kemandirian sekaligus latihan komunikasi tertulis yang profesional.
Strategi scaffolding terbukti memberikan berbagai manfaat. Pertama, aspek pengetahuan siswa meningkat karena mereka memahami konsep dasar dengan lebih baik. Kedua, keterampilan praktik mereka berkembang melalui latihan yang sistematis. Ketiga, sikap kerja mereka terbentuk: disiplin, teliti, dan mampu bekerja sama. Keempat, mereka belajar mandiri, tidak selalu bergantung pada instruksi guru. Kelima, semua itu pada akhirnya meningkatkan kesiapan mereka untuk memasuki dunia industri, karena mereka terbiasa menghadapi tantangan, bekerja sama dalam tim, dan menyelesaikan masalah secara profesional.
Lebih dari sekadar strategi pembelajaran, scaffolding juga berperan dalam membentuk karakter siswa. Dengan terbiasa menjalani proses bertahap, siswa belajar bahwa keberhasilan tidak datang secara instan. Mereka menyadari pentingnya usaha, kesabaran, dan ketekunan. Nilai-nilai ini sangat relevan dengan dunia kerja yang nyata, di mana tantangan akan selalu hadir dan hanya bisa diatasi dengan sikap profesional.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa strategi scaffolding merupakan pendekatan efektif dalam pembelajaran PKKR kelas XII TKR pada materi sistem central lock. Melalui pemberian dukungan bertahap, siswa mampu berkembang dari ketergantungan menuju kemandirian. Mereka tidak hanya menguasai teori dan keterampilan teknis, tetapi juga membentuk sikap kerja profesional yang dibutuhkan dunia industri. Jika strategi ini terus diterapkan dan dikembangkan, maka SMK akan semakin mampu mencetak lulusan yang benar-benar siap kerja, tidak hanya sebagai teknisi terampil, tetapi juga sebagai tenaga profesional yang cerdas, mandiri, dan berkarakter.
“Ciptakan Inovasi, Tebarkan Manfaat”
“SMK Negeri 10 Semarang, dari Semarang untuk Indonesia”
Penulis: Saefudin Umar, Mahasiswa Lantip 5 Unnes, Mapel PKKR
Penyunting: Tim Humas dan Literasi

Beri Komentar