Info Sekolah
Minggu, 01 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

SMK Negeri 10 Semarang Menuju Organisasi Yang Matang di Roadmap 2026-2029

Diterbitkan :

Perubahan adalah satu-satunya hal yang benar-benar pasti dalam kehidupan. Sejak manusia dilahirkan hingga menutup usia, perubahan selalu hadir dalam berbagai bentuk, baik yang terasa kecil maupun yang mengguncang fondasi hidup. Dunia tidak pernah diam, teknologi terus bergerak, cara berpikir manusia berevolusi, dan kebutuhan masyarakat selalu bergeser mengikuti konteks zamannya. Dalam situasi seperti ini, menolak perubahan sama saja dengan memilih untuk tertinggal. Ketika seseorang, sebuah perusahaan, atau sebuah lembaga pendidikan bersikeras mempertahankan cara lama tanpa mau menyesuaikan diri, risiko ketinggalan zaman menjadi konsekuensi yang tak terelakkan. Relevansi konsep perubahan tidak hanya penting bagi individu yang ingin berkembang, tetapi juga krusial bagi organisasi bisnis dan lembaga pendidikan yang memikul tanggung jawab besar dalam menyiapkan masa depan.

Namun, perubahan hampir selalu datang dengan rasa tidak nyaman. Banyak orang merasa takut, ragu, bahkan cemas ketika dihadapkan pada sesuatu yang baru. Zona nyaman menjadi penjara tak kasatmata yang membuat seseorang enggan melangkah lebih jauh. Padahal, ketidaknyamanan sering kali merupakan tanda awal dari pertumbuhan. Contoh paling sederhana dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti memulai olahraga rutin atau mengubah pola makan menjadi lebih sehat. Pada awalnya, tubuh terasa pegal, kebiasaan lama terasa ditinggalkan, dan godaan untuk kembali ke pola lama begitu kuat. Akan tetapi, mereka yang mampu bertahan melewati fase awal biasanya akan merasakan manfaat besar di kemudian hari. Analogi ini menggambarkan bagaimana perubahan bekerja: menyakitkan di awal, namun menyehatkan dalam jangka panjang.

Sebuah kisah klasik dalam buku Who Moved My Cheese? karya Spencer Johnson dengan sangat apik menggambarkan respons manusia terhadap perubahan. Dalam cerita tersebut, terdapat dua tikus bernama Sniff dan Scurry serta dua kurcaci bernama Hem dan Haw yang hidup dalam sebuah labirin dan bergantung pada keju sebagai sumber kehidupan. Ketika keju yang biasa mereka nikmati tiba-tiba hilang, Sniff dan Scurry segera menyadari perubahan itu. Mereka tidak berlama-lama mengeluh atau menyalahkan keadaan, melainkan langsung bergerak mencari keju baru. Sebaliknya, Hem dan Haw awalnya menolak kenyataan. Mereka mengeluh, marah, dan berharap keju lama akan kembali. Haw pada akhirnya belajar menerima perubahan, berani keluar dari zona nyaman, dan menemukan keju baru, sementara Hem tetap terjebak dalam penolakan dan ketakutannya sendiri. Kisah ini menjadi refleksi yang sangat relevan tentang bagaimana sikap terhadap perubahan menentukan masa depan seseorang atau sebuah organisasi.

Menghadapi perubahan membutuhkan kunci-kunci tertentu agar tidak terjebak dalam ketakutan. Kesadaran sejak dini menjadi langkah pertama yang sangat penting. Prinsip “cium kejumu” mengajarkan kita untuk peka terhadap tanda-tanda perubahan sebelum dampaknya menjadi terlalu besar. Dunia selalu memberikan sinyal, baik melalui perubahan tren, teknologi, maupun kebutuhan pasar. Mereka yang mampu membaca sinyal ini akan memiliki waktu lebih banyak untuk bersiap. Setelah sadar, langkah berikutnya adalah berani beradaptasi dengan cepat. Melepaskan cara lama sering kali terasa berat, tetapi tanpa keberanian ini, peluang baru tidak akan pernah bisa diraih. Adaptasi bukan sekadar reaksi sesaat, melainkan proses berkelanjutan yang menuntut pembelajaran terus-menerus. Setiap pengalaman perubahan menyimpan pelajaran berharga yang patut dicatat, direfleksikan, dan dijadikan bekal menghadapi tantangan berikutnya. Di atas semua itu, menikmati proses perubahan menjadi sikap mental yang sangat menentukan. Ketika perubahan dipandang sebagai peluang, bukan ancaman, energi positif akan muncul dan membuka kemungkinan-kemungkinan baru yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Dunia bisnis memberikan banyak contoh nyata tentang bagaimana sikap terhadap perubahan menentukan nasib sebuah perusahaan. Fujifilm, misalnya, pernah berada di puncak kejayaan sebagai produsen film fotografi. Ketika era digital mulai menggerus pasar film, Fujifilm tidak menutup mata. Perusahaan ini melakukan transformasi besar-besaran dengan memanfaatkan kompetensi inti mereka di bidang kimia dan teknologi material untuk masuk ke industri baru seperti kesehatan, kosmetik, dan solusi digital. Berkat keberanian beradaptasi, Fujifilm berhasil bertahan dan bahkan tumbuh di era baru. Sebaliknya, Kodak yang juga raksasa fotografi justru menjadi contoh kegagalan adaptasi. Meskipun sebenarnya Kodak memiliki teknologi kamera digital sejak awal, keengganan untuk meninggalkan bisnis film membuat mereka terlambat merespons perubahan. Akibatnya, Kodak harus menghadapi kebangkrutan. Nokia pun mengalami nasib serupa. Pernah menjadi penguasa pasar ponsel dunia, Nokia terlalu percaya diri dengan posisinya dan gagal membaca perubahan lanskap teknologi smartphone. Ketika kompetitor menghadirkan inovasi berbasis ekosistem digital, Nokia tertinggal dan kehilangan relevansi. Di Indonesia, Bluebird sebagai perusahaan taksi konvensional menghadapi tantangan besar ketika taksi online muncul. Meski tidak mudah, upaya Bluebird untuk beradaptasi melalui aplikasi digital dan perbaikan layanan menunjukkan bahwa perubahan masih mungkin dilakukan jika ada kemauan. Semua kisah ini sejalan dengan pesan Charles Darwin yang terkenal, bahwa yang bertahan hidup bukanlah yang paling kuat atau paling cerdas, melainkan yang paling mampu beradaptasi.

Konsep siklus hidup perusahaan atau business life cycle membantu kita memahami dinamika perubahan dalam organisasi. Pada fase pertumbuhan atau growth, perusahaan biasanya ditandai dengan inovasi yang cepat, ekspansi agresif, dan budaya kerja yang dinamis. Energi organisasi terasa tinggi, ide-ide baru bermunculan, dan semangat untuk mencoba hal baru sangat kuat. Seiring waktu, perusahaan akan memasuki fase kematangan atau maturity. Pada tahap ini, organisasi sudah mapan, sistem dan prosedur tertata, serta reputasi telah terbentuk. Namun, di balik stabilitas tersebut tersembunyi risiko stagnasi akibat birokrasi yang kaku dan menurunnya semangat inovasi. Jika tidak diantisipasi, fase ini dapat berlanjut ke fase kemunduran atau decline, yang ditandai dengan penurunan pendapatan, hilangnya relevansi, dan kegagalan beradaptasi dengan perubahan lingkungan. 

Siklus hidup ini tidak hanya relevan bagi dunia bisnis, tetapi juga sangat relevan bagi lembaga pendidikan, termasuk sekolah. Sekolah yang berada pada fase pertumbuhan biasanya masih relatif baru, jumlah siswa meningkat, dan program-program inovatif terus dikembangkan untuk menarik minat masyarakat. Pada fase kematangan, sekolah telah memiliki reputasi yang kuat, lulusan dikenal, dan sistem berjalan stabil. Namun, seperti perusahaan, sekolah yang terlalu nyaman di fase ini berisiko mengalami stagnasi inovasi. Jika tidak waspada, sekolah dapat memasuki fase kemunduran yang ditandai dengan menurunnya jumlah pendaftar, lulusan yang tidak lagi relevan dengan kebutuhan dunia kerja, serta fasilitas dan metode pembelajaran yang usang. Dalam konteks inilah, transformasi menjadi kebutuhan mendesak, bukan pilihan.

Transformasi SMKN 10 Semarang dalam empat tahun terakhir menjadi contoh menarik tentang bagaimana sebuah sekolah berupaya bergerak menuju fase pertumbuhan yang baru. Sejak tahun 2022, perubahan luar biasa dilakukan secara sistematis dan terarah. Strategi lulusan yang dirumuskan dengan semangat “Kawal Bekerja, Kawal Kuliah, Kawal Wirausaha” menunjukkan orientasi yang jelas pada masa depan peserta didik. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada penyerapan lulusan di dunia kerja, tetapi juga pada kesiapan melanjutkan pendidikan dan kemampuan berwirausaha, yang semuanya berbasis literasi dan digitalisasi. Kolaborasi dengan berbagai mitra eksternal menjadi motor penggerak inovasi pembelajaran, membuka akses pada praktik industri nyata, serta memperkaya pengalaman belajar siswa. Di sisi lain, peningkatan kapabilitas guru dan penguatan kepemimpinan transformasional menjadi fondasi penting agar perubahan tidak bersifat kosmetik, melainkan menyentuh budaya organisasi secara mendalam.

Indikator fase pertumbuhan di SMKN 10 Semarang terlihat dari agresivitas pembaruan program yang terus dilakukan, khususnya dalam bidang digitalisasi dan kemitraan industri. Daya tarik sekolah meningkat seiring dengan relevansi program yang ditawarkan terhadap kebutuhan zaman. Kepemimpinan visioner memainkan peran kunci dalam mendorong perubahan budaya organisasi, dari yang semula cenderung administratif menjadi lebih adaptif dan inovatif. Keterlibatan aktif dalam ekosistem pendidikan nasional, seperti pelatihan guru dan berbagai inisiatif baru, menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya berfokus ke dalam, tetapi juga membuka diri terhadap pembelajaran dari luar. Fase ini sangat krusial, karena konsistensi dalam menjalankan transformasi akan menentukan apakah sekolah mampu melompat menuju fase kematangan yang sehat, berbasis inovasi berkelanjutan, relevansi industri, dan tata kelola modern.

Berkaca pada capaian roadmap pertama tahun 2022–2025, SMK Negeri 10 Semarang menunjukkan perjalanan transformasi yang patut diapresiasi. Dalam kurun waktu tersebut, berbagai perubahan strategis telah dilakukan secara bertahap dan terarah, mulai dari pembaruan pendekatan pembelajaran, penguatan literasi dan digitalisasi, hingga perluasan kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri. Capaian ini menandai bahwa sekolah tidak lagi berada pada tahap awal pertumbuhan yang penuh eksperimen, melainkan mulai menapaki jalur menuju fase kematangan roadmap kedua tahun 2026-2029. Fase ini bukan sekadar tentang stabilitas, tetapi tentang kemampuan menjaga relevansi, kualitas, dan keberlanjutan di tengah dinamika perubahan lingkungan pendidikan dan kebutuhan dunia kerja yang terus bergerak.

Memasuki fase kematangan membutuhkan kesiapan yang lebih komprehensif. Jika pada fase pertumbuhan fokus utama adalah percepatan dan keberanian mencoba hal baru, maka pada fase kematangan tantangannya adalah menjaga konsistensi mutu, memperkuat tata kelola, serta memastikan bahwa inovasi tidak berhenti. Dalam konteks ini, dukungan seluruh warga sekolah menjadi faktor penentu. Kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, hingga orang tua memiliki peran strategis dalam memastikan arah transformasi tetap sejalan dengan visi bersama. Tanpa komitmen kolektif, capaian roadmap yang telah diraih berisiko menjadi sekadar catatan administratif, bukan fondasi kokoh untuk lompatan berikutnya.

Dari seluruh uraian tersebut, pesan utamanya menjadi sangat jelas. Sekolah yang sukses bukanlah yang paling tua atau yang paling lama berdiri, melainkan yang paling siap berubah. Perubahan adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari, sementara adaptasi merupakan kunci keberlangsungan. Baik individu, perusahaan, maupun sekolah, semuanya berada dalam siklus hidup yang menuntut kesadaran, keberanian, dan kemauan untuk terus belajar. Sekolah yang memahami siklus ini akan lebih siap menghadapi tantangan, baik berupa perubahan kebijakan, perkembangan teknologi, maupun tuntutan kompetensi lulusan yang semakin kompleks. Sebaliknya, sekolah yang terlena oleh kenyamanan masa lalu berisiko kehilangan relevansi secara perlahan.

Kesiapan menuju fase kematangan juga berarti kemampuan untuk melakukan refleksi kritis. Apa yang sudah berjalan baik perlu dipertahankan dan disempurnakan, sementara kekurangan harus diakui secara jujur untuk kemudian diperbaiki. Budaya belajar tidak hanya harus hidup di ruang kelas, tetapi juga di level organisasi. Guru dan pimpinan sekolah dituntut menjadi role model sebagai pembelajar sepanjang hayat, terbuka terhadap masukan, dan adaptif terhadap pendekatan baru. Dengan demikian, kematangan tidak dimaknai sebagai berhentinya perubahan, melainkan sebagai fase di mana perubahan dikelola dengan lebih sadar, sistematis, dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, perubahan bukanlah musuh yang harus ditakuti, melainkan peluang yang menunggu untuk dimanfaatkan. Adaptasi adalah seni bertahan hidup yang membutuhkan kepekaan, keberanian, dan ketekunan. Di era digital yang bergerak cepat ini, sekolah-sekolah di Indonesia, termasuk SMK Negeri 10 Semarang, ditantang untuk menjadi organisasi pembelajar yang terus berinovasi, berefleksi, dan bertransformasi. Dengan sikap terbuka terhadap perubahan dan komitmen kuat pada relevansi, pendidikan akan tetap menjadi pilar utama dalam menyiapkan generasi masa depan yang tangguh, adaptif, dan siap menghadapi dunia yang terus berubah.

Penulis : Ardan Sirodjuddin, M.Pd, Kepala SMK Negeri 10 Semarang
Artikel ini memiliki

22 Komentar

Nasi'in Samsul Huda
Senin, 29 Des 2025

Guru harus adaptif dalam setiap perubahan dengan berinovasi, terbuka dengan masukan guna menghadapi permasalahan di dunia pendidikan yang semakin kompleks

Balas
Helmi Yuhdana H., S.Pd., M.M.
Senin, 29 Des 2025

Mantaaabb’s …

Balas
Elmina Ita K. S.Pd, M.Si
Senin, 29 Des 2025

Amen

Balas
Beny Legowo, S.Sos.I, S.Pd
Senin, 29 Des 2025

Harapan kita bersama semoga SMK 10 Semarang semakin maju dan berkembang dengan pesat

Balas
Miftakhurrofi'i
Senin, 29 Des 2025

Luar biasa..
SMK N 10 Semarang makin terdepan dan terpercaya…

Balas
Muslim Anwar
Senin, 29 Des 2025

Sebuah Buku yg isinya sangat inspiratif, untuk siap merespon sebuah perubahan agar menjadi lebih baik.

Balas
Muslim Anwar
Senin, 29 Des 2025

Buku dengan judul “Who Moved My cheese, karya :Spencer Johnson, isinya sangat inspiratif, Agar siap merespon sebuah perubahan untuk menjadi lebih Baik.

Balas
Joko Suwignyo
Senin, 29 Des 2025

Pentingnya peta jalan untuk menuju organisasi yang bermutu, MANTAB pak ARDAN 👍👍👍

Balas
Nasi'in Samsul Huda
Senin, 29 Des 2025

Pendidikan harus adaptif dengan berinovasi, terbuka dengan masukan guna menghadapi perubahan dan permasalahan pendidikan yang kompleks

Balas
Lulus Wisnuadi Mulyawan
Senin, 29 Des 2025

Luar biasa..Berkah barokah untuk kita semua

Balas
Hesti S
Senin, 29 Des 2025

Sekolah yang sukses bukanlah sekolah yang paling tua atau yang paling lama berdiri, melainkan yang paling siap berubah, baik berupa perubahan kebijakan, perkembangan teknologi, maupun tuntutan kompetensi lulusan yang semakin kompleks. Semoga SMKN 10 Semarang semakin lebih OKE…

Balas
Suwarni
Senin, 29 Des 2025

Inspiratif, semua siap menghadapi perubahan 👍

Balas
arimurti asmoro
Senin, 29 Des 2025

Roadmap SMKN 10 Semarang menjadi pelita dalam setiap langkah warga sekolah untuk menuju cita-cita pendidikan yang mulia.
Terima kasih, Pak Ardan.
Tuhan memberkati kita semua. Aamiin.

Balas
Eni Supriyati
Senin, 29 Des 2025

Dunia tidak pernah diam, teknologi terus bergerak, cara berpikir manusia berevolusi, dan kebutuhan masyarakat selalu bergeser mengikuti konteks zamannya.
MENOLAK PERUBAHAN =MEMILIH UNTUK TERTINGGAL.
Dalam agama juga sudah diingatkan oleh nabi Muhammad SAW : DIDIKLAH ANAK ANAK MU SESUAI DENGAN ZAMANNYA.

Balas
Aprilia Dwi Asriani
Senin, 29 Des 2025

SMKN 10 berani berbenah hari ini demi kualitas lulusan masa depan

Balas
Febtiyaningsih
Senin, 29 Des 2025

Penerapan ROADM mencerminkan komitmen SMK Negeri 10 Semarang dalam menuju organisasi yang matang melalui penerapan ROADM secara terarah dan berkelanjutan

Balas
Nyaminah,S.Pd
Senin, 29 Des 2025

Alhamdulillah …
. Terima kasih Bapak telah memberikan banyak perubahan yang lebih baik di SMKN 10 Semarang dan menghasilkan banyak prestasi Sukses selalu buat panjenengan 🤲🤲🤲🤲🤲👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪💪

Balas
Gatot Nurhadi
Senin, 29 Des 2025

Jaya selalu

Balas
Susanti
Selasa, 30 Des 2025

Semoga SMKN 10 Semarang selalu menjadi institusi yang terus berinovasi, berefleksi, dan bertransformasi, tangguh serta adaptif di setiap era.

Balas
Suginah
Selasa, 30 Des 2025

Luar biasa 👍👍

Balas
Hikma Nurul Izza
Selasa, 30 Des 2025

Smk 10 gasss keun 🔥

Balas
Harry
Kamis, 1 Jan 2026

Fokus pada penguatan tata kelola, pembelajaran berbasis industri, dan budaya mutu berkelanjutan mencerminkan kesiapan sekolah untuk beradaptasi, berinovasi, dan menjadi rujukan SMK unggul yang responsif terhadap kebutuhan dunia kerja dan masa depan.

Balas

Beri Komentar