Puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan nikmat, rahmat, dan karunia-Nya yang tak terhitung jumlahnya. Di antara nikmat terbesar yang kembali dianugerahkan kepada kita adalah kesempatan untuk berjumpa dengan bulan suci Ramadhan, bulan yang dinanti oleh setiap jiwa beriman, bulan yang di dalamnya terdapat limpahan keberkahan, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Tidak semua orang diberi umur panjang untuk sampai pada bulan ini. Betapa banyak saudara, sahabat, dan kerabat yang tahun lalu masih bersama kita, kini telah mendahului menghadap Sang Pencipta. Karena itu, dipertemukan kembali dengan Ramadhan bukanlah peristiwa biasa, melainkan anugerah agung yang patut disambut dengan rasa syukur mendalam dan kesungguhan dalam beribadah.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, sosok mulia pembawa risalah Islam yang telah mengantarkan umat manusia dari zaman kegelapan menuju cahaya keimanan, dari kebodohan menuju ilmu pengetahuan, dan dari kesesatan menuju jalan yang lurus. Berkat perjuangan beliau, kita mengenal makna kehidupan, memahami tujuan penciptaan, serta memperoleh tuntunan yang jelas dalam menjalani setiap aspek kehidupan. Tanpa beliau, kita tidak akan mengetahui kemuliaan Ramadhan sebagaimana yang kita pahami hari ini.
Ramadhan bukan sekadar pergantian bulan dalam penanggalan hijriah, bukan pula hanya rutinitas tahunan yang datang lalu berlalu tanpa bekas. Ramadhan adalah momentum agung, sebuah kesempatan emas yang Allah berikan untuk membersihkan jiwa, memperbaiki diri, dan memperbarui komitmen keimanan. Ia ibarat oase di tengah padang pasir kehidupan, tempat manusia meneguk kesegaran spiritual setelah sebelas bulan bergumul dengan kesibukan dunia yang sering melalaikan. Ramadhan adalah panggilan Ilahi untuk kembali, untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan merenungi hakikat keberadaan diri sebagai hamba.
Makna kemuliaan Ramadhan ditegaskan dalam banyak hadits shahih, di antaranya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, bahwa apabila Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka lebar, pintu-pintu neraka ditutup rapat, dan setan-setan dibelenggu. Hadits ini bukan sekadar informasi metafisik, melainkan kabar gembira sekaligus motivasi spiritual bagi orang-orang beriman. Dibukanya pintu surga menandakan terbukanya peluang seluas-luasnya untuk meraih pahala dan ridha Allah, sementara ditutupnya pintu neraka menunjukkan berkurangnya sebab-sebab kebinasaan bagi mereka yang bersungguh-sungguh memperbaiki diri. Adapun dibelenggunya setan merupakan simbol berkurangnya godaan eksternal yang biasanya menyeret manusia kepada kemaksiatan.
Ramadhan dengan demikian dapat dipahami sebagai madrasah ruhaniyah, sebuah sekolah spiritual tempat manusia dididik secara intensif untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Ia juga merupakan musim panen pahala, saat setiap amal kebajikan dilipatgandakan nilainya. Jika di bulan-bulan lain kebaikan bernilai satu, maka di bulan Ramadhan ia dapat berlipat menjadi puluhan, ratusan, bahkan lebih sesuai dengan keikhlasan dan kesungguhan pelakunya. Oleh karena itu, orang-orang saleh di masa lalu menyambut Ramadhan dengan penuh sukacita, bahkan mereka berdoa selama berbulan-bulan agar dipertemukan dengan bulan mulia ini.
Salah satu keutamaan utama Ramadhan adalah dibukanya pintu-pintu surga. Ini berarti bahwa kesempatan untuk memperbanyak amal ibadah terbentang luas tanpa batas. Shalat sunnah di bulan ini bernilai seperti shalat wajib di bulan lain, sedangkan shalat wajib dilipatgandakan pahalanya berkali-kali lipat. Sedekah, dzikir, membaca Al-Qur’an, membantu sesama, dan berbagai amal kebajikan lainnya menjadi sangat bernilai di sisi Allah. Ramadhan mengajarkan bahwa setiap detik kehidupan dapat diubah menjadi ladang pahala apabila diisi dengan niat yang tulus dan amal yang baik. Karena itu, sungguh merugi orang yang melewati Ramadhan tanpa peningkatan kualitas ibadahnya.
Keutamaan kedua adalah ditutupnya pintu-pintu neraka. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari segala hal yang dapat merusak nilai ibadah tersebut. Lisan dijaga dari ucapan dusta, ghibah, dan kata-kata kasar. Pandangan ditundukkan dari hal-hal yang diharamkan. Hati dibersihkan dari iri, dengki, dan kebencian. Puasa sejati adalah puasa seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa. Menahan lapar tanpa menahan diri dari maksiat hanyalah menghasilkan keletihan fisik tanpa nilai spiritual. Oleh karena itu, Ramadhan mengajarkan pengendalian diri secara total, sebuah latihan intensif untuk membentuk karakter yang kuat dan bersih.
Bagi mereka yang menjaga puasanya dengan baik, terdapat janji ampunan dan perlindungan dari api neraka. Banyak hadits yang menyebutkan bahwa orang yang berpuasa dengan iman dan mengharap pahala akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Ini adalah kesempatan luar biasa untuk memulai lembaran baru kehidupan, meninggalkan kebiasaan buruk, dan kembali kepada jalan yang diridhai Allah.
Keutamaan ketiga adalah dibelenggunya setan-setan. Lingkungan spiritual menjadi lebih kondusif, suasana ibadah terasa lebih hidup, dan godaan eksternal berkurang. Namun demikian, fakta bahwa sebagian orang masih melakukan dosa di bulan Ramadhan menunjukkan bahwa musuh terbesar manusia bukan hanya setan, melainkan juga hawa nafsu yang ada dalam dirinya sendiri. Ramadhan sejatinya adalah ajang perang melawan ego diri, melawan kemalasan, keserakahan, dan berbagai sifat buruk yang bersemayam di dalam hati. Kemenangan sejati bukanlah ketika Ramadhan berlalu, melainkan ketika seseorang berhasil menaklukkan dirinya sendiri.
Di antara mutiara terindah Ramadhan adalah keberadaan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Nilai ibadah pada malam tersebut setara dengan lebih dari delapan puluh tiga tahun, suatu umur yang bahkan mungkin tidak dicapai oleh kebanyakan manusia. Ini menunjukkan betapa besar kemurahan Allah kepada hamba-Nya. Dalam satu malam, seseorang dapat meraih pahala seumur hidup apabila ia mengisinya dengan ibadah yang khusyuk dan tulus.
Karena itu, dianjurkan untuk menghidupkan malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadhan dengan shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak doa. Doa yang diajarkan untuk malam tersebut adalah permohonan ampun, karena inti dari Lailatul Qadar adalah penghapusan dosa dan pembaruan spiritual. Orang-orang saleh bahkan mengurangi aktivitas duniawi mereka pada sepuluh hari terakhir, berfokus sepenuhnya pada ibadah, seolah-olah itulah kesempatan terakhir dalam hidup mereka.
Tujuan akhir dari seluruh rangkaian ibadah Ramadhan adalah tercapainya derajat taqwa, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183: la’allakum tattaqun, agar kamu menjadi orang-orang yang bertakwa. Taqwa bukan sekadar rasa takut, melainkan kesadaran mendalam akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan. Ia tercermin dalam ketaatan, kejujuran, kepedulian, dan kemampuan menahan diri dari segala yang dilarang.
Ramadhan berfungsi sebagai madrasah yang melahirkan insan bertakwa melalui latihan harian yang terstruktur. Sahur menjadi waktu bermunajat, saat doa-doa dipanjatkan dalam keheningan sebelum fajar. Siang hari diisi dengan membaca Al-Qur’an, bekerja dengan jujur, dan memperbanyak sedekah. Menjelang berbuka, hati diliputi harap dan syukur. Malam hari dihidupkan dengan shalat Tarawih, witir, dan doa yang panjang. Siklus ibadah ini berlangsung selama sebulan penuh, membentuk kebiasaan spiritual yang diharapkan terus berlanjut setelah Ramadhan berakhir.
Akhirnya, Ramadhan seharusnya menjadi titik balik kehidupan, bukan sekadar episode tahunan yang berulang tanpa perubahan berarti. Ia adalah kesempatan untuk menjadi pribadi baru, pribadi yang lebih dekat kepada Allah, lebih peduli kepada sesama, dan lebih bijaksana dalam menjalani kehidupan. Jika setelah Ramadhan seseorang kembali pada kebiasaan buruknya, maka ia belum sepenuhnya memahami makna bulan suci ini.
Kita berharap keluar dari Ramadhan sebagai insan yang bersih, kuat, dan bertakwa. Sebagaimana bayi yang baru lahir, hati menjadi jernih dari dosa, jiwa menjadi ringan dari beban kesalahan, dan langkah kehidupan menjadi lebih terarah. Semoga Allah menerima puasa, shalat, sedekah, dan seluruh amal ibadah kita. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang mendapatkan ampunan, rahmat, dan pembebasan dari api neraka. Dan semoga kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan di tahun-tahun mendatang dalam keadaan iman yang lebih kuat dan amal yang lebih baik, sehingga kita benar-benar menjadi bagian dari orang-orang yang kembali fitri, faidzin, kemenangan sejati bagi setiap hamba yang lulus dari madrasah Ramadhan.
Kultum Shohat Dhuhur, Rabu, 25 Pebruari 2026 oleh Muhammad Miftahurrofi’i

Beri Komentar