Perceraian sering kali dipahami sebagai sebuah keputusan hukum yang mengakhiri ikatan pernikahan antara dua orang dewasa. Dalam dokumen resmi, ia tercatat rapi sebagai perubahan status, sebagai akhir dari sebuah kontrak sosial. Namun, di balik ketukan palu pengadilan dan tanda tangan di atas kertas, perceraian sesungguhnya adalah peristiwa emosional yang kompleks, penuh lapisan rasa, konflik batin, dan perubahan besar yang tidak selalu dapat dijelaskan dengan kata-kata. Bagi orang dewasa, perceraian mungkin dipahami melalui pertimbangan rasional: ketidakcocokan, kekerasan, ketidakbahagiaan, atau kebutuhan untuk menyelamatkan diri. Akan tetapi, bagi anak-anak, perceraian bukanlah soal logika, melainkan soal perasaan yang rapuh dan dunia yang tiba-tiba terasa tidak aman.
Dalam realitas sehari-hari, anak sering menjadi pihak yang paling terdampak, meski suaranya paling jarang terdengar. Dampak perceraian pada anak bersifat multidimensi, menjalar ke aspek psikologis, emosional, dan sosial kehidupan mereka. Perubahan suasana rumah, nada bicara orang tua yang berbeda, keheningan yang canggung, atau pertengkaran yang berulang menjadi pengalaman yang terekam kuat dalam ingatan anak. Banyak anak merasa terjebak di tengah konflik, seolah harus memilih kesetiaan antara ayah dan ibu, padahal pilihan itu sendiri adalah beban yang tidak seharusnya mereka pikul. Sebagian anak diam-diam menyalahkan diri sendiri, meyakini bahwa perceraian terjadi karena kesalahan mereka, karena nilai yang menurun, kenakalan kecil, atau sekadar karena mereka “tidak cukup baik”. Ada pula anak yang diliputi rasa tidak aman akibat hilangnya stabilitas rumah, rutinitas yang berubah, dan ketidakpastian tentang masa depan.
Pesan penting yang sering terlewat adalah bahwa anak memandang perceraian dengan cara yang sangat berbeda dari orang dewasa. Mereka tidak menimbang sebab-akibat secara rasional, tidak memisahkan konflik pasangan dari peran orang tua, dan tidak memiliki kosa kata emosional yang cukup untuk menamai apa yang mereka rasakan. Dunia anak dibangun dari rasa aman, keteraturan, dan kehadiran yang konsisten. Ketika fondasi itu terguncang, mereka merespons dengan perasaan yang campur aduk: takut, sedih, marah, bingung, dan kesepian. Memahami kenyataan ini adalah langkah awal yang krusial untuk melihat perceraian bukan hanya sebagai urusan dua orang dewasa, tetapi sebagai peristiwa keluarga yang memerlukan kepekaan, tanggung jawab, dan empati yang mendalam.
Dalam bayangan ideal, banyak orang tua berharap bahwa anak akan mampu mengatasi perceraian secara sehat. Mereka membayangkan anak yang tetap ceria, tetap berprestasi di sekolah, dan tetap menjalin hubungan positif dengan kedua orang tua meskipun rumah tangga telah berakhir. Dalam gambaran ini, tujuan utama adalah kesejahteraan emosional anak, sebuah kondisi di mana anak merasa dicintai, dihargai, dan aman meski struktur keluarga berubah. Idealnya, anak memahami bahwa perceraian adalah keputusan orang dewasa dan tidak mengurangi kasih sayang yang mereka terima. Hubungan dengan ayah dan ibu tetap terjaga, tidak tercemar oleh konflik masa lalu, dan tidak dibayangi rasa bersalah atau ketakutan.
Namun, realitas sering kali berjalan jauh dari gambaran tersebut. Tantangan nyata muncul ketika orang tua sendiri masih bergulat dengan emosi yang belum selesai. Kesedihan, kemarahan, kekecewaan, atau rasa dikhianati membuat pengelolaan emosi menjadi sulit, baik bagi orang tua maupun anak. Anak sering kali kesulitan mengekspresikan apa yang mereka rasakan, sehingga emosi itu keluar dalam bentuk lain: ledakan amarah, tangisan tanpa sebab yang jelas, penarikan diri dari pergaulan, atau penurunan prestasi belajar. Perubahan rutinitas dan lingkungan, seperti pindah rumah, berpindah sekolah, atau jadwal bertemu orang tua yang tidak menentu, menambah rasa tidak stabil yang menggerogoti rasa aman anak.
Masalah perilaku pun kerap muncul sebagai sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak baik-baik saja. Anak bisa menjadi lebih agresif, mudah tersinggung, atau sebaliknya menjadi sangat pendiam dan menarik diri dari lingkungan sosial. Semua ini bukanlah bentuk kenakalan semata, melainkan bahasa emosional anak yang sedang kebingungan. Tanpa intervensi yang tepat, dampak perceraian dapat mengganggu perkembangan jangka panjang anak, membentuk pola relasi yang tidak sehat, menurunkan kepercayaan diri, dan memengaruhi cara mereka memandang cinta, komitmen, dan keluarga di masa depan. Inilah titik di mana idealisme bertemu dengan kenyataan, dan di mana peran orang tua menjadi sangat menentukan.
Menghadapi kenyataan tersebut, diperlukan aksi nyata berupa strategi intervensi yang berfokus pada kebutuhan anak. Komunikasi menjadi fondasi utama. Orang tua perlu berbicara dengan jujur, namun disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan anak. Kejujuran di sini bukan berarti membuka seluruh detail konflik, melainkan menjelaskan perubahan yang terjadi dengan bahasa yang sederhana dan menenangkan. Sangat penting untuk menghindari sikap menyalahkan pasangan di hadapan anak, karena hal itu menempatkan anak dalam posisi yang tidak adil dan penuh tekanan. Pesan yang harus terus ditegaskan adalah bahwa perceraian bukanlah kesalahan anak, dan tidak ada satu pun perilaku anak yang menyebabkan perpisahan tersebut.
Selain komunikasi, dukungan emosional dan psikologis memegang peranan besar. Anak membutuhkan ruang aman untuk mengekspresikan perasaannya tanpa takut dihakimi. Mendengarkan dengan empati, tanpa tergesa-gesa memberi nasihat atau meremehkan perasaan mereka, adalah bentuk dukungan yang sangat berarti. Memvalidasi perasaan anak, dengan mengakui bahwa sedih, marah, atau bingung adalah reaksi yang wajar, membantu anak merasa dipahami dan diterima. Dalam beberapa situasi, melibatkan konselor atau psikolog bukanlah tanda kegagalan orang tua, melainkan langkah bertanggung jawab untuk memastikan anak mendapatkan bantuan profesional yang mereka butuhkan.
Konsistensi dalam jadwal pertemuan dengan kedua orang tua juga menjadi faktor penting dalam memulihkan rasa aman anak. Prediktabilitas memberi anak pegangan, sebuah struktur yang dapat mereka andalkan di tengah perubahan besar. Ketika anak tahu kapan mereka akan bertemu ayah atau ibu, di mana mereka akan tinggal, dan bagaimana rutinitas sehari-hari berjalan, kecemasan dapat berkurang secara signifikan. Kehadiran kedua orang tua, meski tidak lagi berada dalam satu rumah, menunjukkan bahwa cinta dan tanggung jawab tidak berakhir bersama pernikahan. Di sinilah praktik co-parenting yang sehat menemukan maknanya, yaitu kerja sama orang tua demi kepentingan terbaik anak, terlepas dari konflik pribadi yang pernah ada.
Aspek lain yang tidak kalah penting adalah menghindari konflik di depan anak. Pertengkaran yang disaksikan anak dapat menciptakan stres kronis, merusak rasa aman, dan meninggalkan luka emosional yang mendalam. Orang tua perlu secara sadar memisahkan isu pribadi dari peran mereka sebagai pengasuh. Ini bukan hal yang mudah, terutama ketika emosi masih mentah, tetapi kesadaran bahwa setiap kata dan sikap di depan anak memiliki dampak jangka panjang dapat menjadi pengingat yang kuat. Prinsip utamanya adalah sederhana namun mendalam: kepentingan terbaik anak harus selalu berada di atas ego dan luka pribadi.
Ketika strategi-strategi tersebut dijalankan dengan konsisten dan penuh kesadaran, hasil jangka panjang yang positif bukanlah utopia. Anak memiliki kapasitas luar biasa untuk beradaptasi dan pulih, asalkan mereka dikelilingi oleh dukungan yang tepat. Perlahan, anak dapat memproses dan mengatasi trauma perceraian, belajar memahami bahwa perubahan tidak selalu berarti kehilangan cinta. Mereka dapat mempertahankan hubungan yang sehat dengan kedua orang tua, membangun kelekatan yang aman, dan menumbuhkan rasa percaya bahwa mereka tetap dicintai tanpa syarat.
Lebih jauh lagi, anak yang didampingi dengan baik berpeluang tumbuh menjadi individu yang seimbang, percaya diri, dan bahagia. Mereka belajar bahwa konflik dapat dikelola dengan cara yang dewasa, bahwa hubungan dapat berubah tanpa harus saling menyakiti, dan bahwa nilai diri mereka tidak ditentukan oleh keutuhan struktur keluarga. Penegasan penting di sini adalah bahwa struktur keluarga tidak menentukan kualitas pengasuhan; kualitas hubunganlah yang paling menentukan. Sebuah keluarga dengan orang tua terpisah dapat menjadi lingkungan yang lebih sehat dibandingkan keluarga utuh yang dipenuhi konflik berkepanjangan.
Pada akhirnya, perceraian dapat dipandang melalui lensa yang lebih filosofis dan penuh makna. Seperti sebuah analogi, pohon tidak tumbuh lurus hanya karena batangnya utuh, tetapi karena akarnya mendapat air, cahaya, dan ruang untuk bernapas, meski badai menerpanya. Anak pun demikian. Mereka tidak membutuhkan keluarga yang tampak “sempurna” dari luar, melainkan lingkungan yang penuh kasih, konsisten, dan aman secara emosional. Badai perceraian mungkin mengguncang, tetapi dengan akar yang kuat berupa cinta, kehadiran, dan empati, anak dapat tetap tumbuh dan berkembang.
Pesan penutup yang patut direnungkan adalah bahwa perceraian bukanlah akhir dari segalanya. Ia bisa menjadi titik balik, sebuah kesempatan untuk membangun pola asuh yang lebih sehat, lebih sadar, dan lebih bermakna. Dengan keberanian untuk menempatkan kebutuhan anak di pusat setiap keputusan, orang tua dapat mengubah pengalaman yang menyakitkan menjadi proses pembelajaran yang mendewasakan semua pihak. Dalam perjalanan ini, anak tidak hanya bertahan, tetapi juga belajar tentang ketangguhan, kasih sayang, dan harapan, nilai-nilai yang akan mereka bawa sepanjang hidup.
“Ciptakan Inovasi, Tebarkan Manfaat”
“SMK Negeri 10 Semarang, dari Semarang untuk Indonesia”
Penulis: Ribka Trimuryani, S.Th., Guru Mapel Pendidikan Agama Kristen
Penyunting: Tim Humas dan Literasi

Mantaaabb’s
bahwa perceraian bukanlah akhir dari segalanya. Ia bisa menjadi titik balik, sebuah kesempatan untuk membangun pola asuh yang lebih sehat, lebih sadar, dan lebih bermakna.
Luar biasa .
Anak menginginkan rasa cinta, kasih sayang, kehadiran,orang tua, empati dari orang tua dan sekelingnya anak akan tumbuh menjadi anak yang lebih bermakna dalam hidupnya
👍👍👍👍👍
Sangat setuju bahwa kunci dari ketahanan anak pasca-perceraian terletak pada kualitas dukungan emosional dan minimalisasi konflik di depan mereka. Memahami fase trauma anak adalah langkah pertama untuk membantu mereka beradaptasi secara sehat. Artikel ini menjadi panduan penting bagi para orang tua untuk tetap memprioritaskan kesehatan mental anak di tengah situasi sulit.
Beri Komentar