Info Sekolah
Senin, 02 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

Merawat Kebun Jiwa, Menyambut Kupu-Kupu Kehidupan

Diterbitkan :

Ada sebuah metafora yang begitu indah namun sederhana: kupu-kupu dan kebun. Bayangkan sebuah taman yang luas, penuh bunga warna-warni, aroma harum yang menenangkan, dan kehidupan kecil yang berdenyut di setiap sudutnya. Di atasnya beterbangan kupu-kupu dengan sayap yang memesona, lembut, dan rapuh. Banyak orang yang ingin menangkap kupu-kupu itu. Mereka berlari, melompat, bahkan bersembunyi sambil menunggu saat yang tepat. Namun semakin dikejar, kupu-kupu itu justru semakin menjauh. Sebaliknya, jika taman dirawat dengan sepenuh hati, bunga disiram, tanah dipupuk, dan gulma dicabut, kupu-kupu akan datang dengan sendirinya. Mereka hinggap tanpa perlu dipaksa, sebab kebun itu telah menyediakan ruang kehidupan yang nyaman bagi mereka.

Metafora sederhana ini mengandung pesan yang dalam. Kupu-kupu adalah simbol dari hal-hal indah dalam hidup, tetapi sekaligus sulit digenggam: validasi, cinta, jabatan, pengakuan, bahkan kebahagiaan. Semua itu memang memesona, tetapi seringkali membuat manusia berlari tanpa henti. Sementara kebun adalah simbol pengembangan diri: karakter, niat, keutuhan internal, dan ketulusan hati. Kebun adalah ruang batin yang memerlukan perawatan terus-menerus, meski tidak selalu terlihat mata. Maka muncul sebuah pertanyaan reflektif yang menggugah: apakah kita selama ini terlalu sibuk mengejar kupu-kupu, dan lupa merawat kebun kita sendiri?

Pertanyaan itu sejalan dengan nasihat penyair Brasil, Mário Quintana, yang pernah menulis dengan indah: “Berhenti mengejar kupu-kupu, rawatlah kebunmu, maka kupu-kupu akan datang sendiri.” Kalimat itu bukan sekadar permainan kata, melainkan panggilan untuk berhenti menaruh kebahagiaan di tangan orang lain. Selama kita menggantungkan hidup pada validasi eksternal—pujian, perhatian, atau tepuk tangan—kita akan selalu letih. Sebaliknya, jika kita memperbaiki kualitas batin, kupu-kupu kehidupan akan hadir tanpa harus kita buru.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang serba terburu-buru, ada sebuah kebenaran sederhana yang sering terlupa: keindahan hidup tak perlu dipaksakan. Ia hadir ketika kita merawat kebun dalam diri, bukan mengejar kupu-kupu yang berlarian. Contoh nyatanya terlihat jelas di SMK Negeri 10 Semarang, sebuah sekolah yang memilih untuk merawat “kebun” kecil—masjidnya—dengan penuh keikhlasan.

Masjid di sini bukan sekadar bangunan beratapkan langit dan berdindingkan doa. Ia adalah taman hidup, tempat segala benih ketenangan, persaudaraan, dan kebahagiaan tumbuh perlahan. Di sana, setiap langkah siswa menuju sholat Dzuhur di tengah istirahat, setiap wudhu yang membasuh wajah dari kepenatan, adalah bentuk perawatan pada kebun jiwa. Guru-guru yang menyempatkan diri berjamaah, karyawan yang menutup sejenak pekerjaan untuk menghadap Sang Pencipta—semua menjadi air dan sinar bagi kebun ini.

Setiap waktu sholat, masjid SMK Negeri 10 Semarang menjadi magnet yang menarik hati. Guru yang baru saja selesai mengajar, karyawan yang meninggalkan meja kerja, siswa yang meninggalkan tumpukan buku—berduyun-duyun membasuh wajah dengan air wudhu, lalu berbaris rapi dalam shaf. Di sana, tak ada perbedaan jabatan atau usia; hanya kesetaraan di hadapan-Nya. Setiap sujud adalah doa yang dihembuskan dari hati, setiap rakaat adalah napas bagi jiwa yang haus akan ketenangan. Dan lihatlah, kupu-kupu pun datang dengan sendirinya.

Ketenangan yang menyelimuti ruang sholat, persaudaraan yang terjalin dalam sujud bersama, kebahagiaan yang mengalir dari keikhlasan beribadah—semua ini bukan hasil dari tuntutan atau pencarian. Ia adalah buah alami dari kebun yang dirawat dengan hati. Seperti kata Mário Quintana: “Jika kamu senang kupu-kupu, jangan buang waktu mengejarnya. Perbaikilah saja kebunmu. Besok, kupu-kupu itu akan datang.”

Nikmat mana yang akan kau dustakan? (QS. Ar-Rahman: 13). Ayat ini hadir seolah meneguhkan, bahwa segala kebaikan, ketenangan, dan anugerah adalah bagian dari rahmat yang mengalir ketika kita bersyukur dan merawat kebun batin dengan cinta.

Di sela kesibukan, waktu untuk beribadah adalah anugerah yang tak ternilai. Ketika guru, karyawan, dan siswa berduyun-duyun ke masjid, bukan hanya tubuh yang dibersihkan, tapi jiwa-jiwa yang dipulihkan. Setiap langkah ke masjid adalah langkah kembali ke diri sendiri—menemukan titik temu antara kesibukan dunia dan ketenangan akhirat.

Di SMK Negeri 10 Semarang, masjid menjadi bukti bahwa ketika kita merawat kebun dalam diri, alam pun akan memberikan keindahannya sendiri. Kupu-kupu tak perlu dikejar—ia akan datang ketika kita menjadi tempat yang layak untuk singgah. Karena sesungguhnya, kebahagiaan bukanlah sesuatu yang harus diraih, melainkan sesuatu yang tumbuh dari kebun yang kita rawat dengan cinta.

Di antara deru kelas dan tumpukan tugas, masjid adalah oase. Di sana, jiwa-jiwa yang letih menemukan akar, dan hati-hati yang resah kembali bernapas. Filosof Denmark, Søren Kierkegaard, berbicara tentang pentingnya hidup otentik. Baginya, hidup yang bermakna bukanlah sekadar meniru orang lain atau mencari pujian dari kerumunan. Hidup otentik berarti hidup jujur pada diri sendiri, bahkan ketika tidak ada yang menonton. Sebuah keberanian untuk menjadi diri apa adanya di hadapan Tuhan.

Konsep ini terasa begitu relevan dalam dunia pendidikan. Guru dan siswa bukanlah sekadar pengisi ruang dalam sistem yang kaku. Mereka adalah individu yang sedang tumbuh, mencari bentuk terbaik dari dirinya sendiri. Bila seorang guru hanya menjadi salinan dari ekspektasi birokrasi, atau seorang siswa hanya mengejar angka demi memuaskan orang lain, maka yang lahir adalah generasi peniru, bukan pencipta. Pendidikan sejatinya adalah perjalanan menuju keotentikan, menuju keberanian untuk hidup sebagai versi terbaik diri sendiri.

Namun godaan terbesar dalam hidup manusia adalah validasi eksternal. Kita begitu sering mengukur diri dengan kriteria orang lain: nilai ujian, jabatan yang disandang, jumlah pengikut di media sosial, atau status sosial yang tampak. Padahal, mengejar validasi eksternal bisa membuat kita kehilangan jati diri. Bentuk keputusasaan yang paling halus adalah ketika seseorang tidak lagi hidup sebagai dirinya sendiri, melainkan sebagai versi yang diharapkan orang lain. Kierkegaard menyebut keadaan ini sebagai keputusasaan eksistensial—hidup tanpa kesadaran siapa sebenarnya diri kita.

Lalu, apa jalan keluarnya? Kembali ke kebun. Memperbaiki karakter, menata niat, dan menumbuhkan spiritualitas. Kebun ini mungkin tak selalu terlihat orang lain, tetapi justru di sanalah sumber keindahan yang sejati. Ketika seseorang memilih untuk hidup jujur, sabar, penuh kasih, dan tulus, ia sesungguhnya sedang menyirami kebunnya. Hasilnya, kupu-kupu akan datang tanpa perlu dikejar.

Dalam bahasa Kierkegaard, memilih untuk menjadi diri sendiri di hadapan Tuhan adalah sebuah lompatan eksistensial. Lompatan ini bukan hanya filosofis, tetapi juga spiritual. Seorang muslim yang baik adalah dia yang mampu menyeimbangkan dunia dan akhirat. Ia tetap bekerja keras, tetapi juga meluangkan waktu untuk beristirahat sejenak, lalu menunaikan sholat. Kesibukan duniawi tidak membuatnya lupa pada kebun batinnya.

Dalam konteks pendidikan, hal ini berarti menanamkan nilai spiritual sebagai bagian dari pembentukan karakter siswa. Bukan hanya soal kecerdasan akademik, tetapi juga soal kebijaksanaan dalam menjalani hidup. Ketika kebun dalam diri mekar, hasil akan datang sebagai konsekuensi alami. Kesuksesan, kebahagiaan, bahkan pengakuan, akan hadir tanpa harus dipaksakan. Kupu-kupu akan hinggap pada bunga yang indah tanpa diminta.

Begitu pula dalam pendidikan: nilai yang baik, prestasi yang membanggakan, atau penghargaan yang membesarkan hati, hanyalah buah dari sebuah proses panjang yang jujur. Pendidikan karakter di sekolah tidak boleh hanya dipahami sebagai strategi menaikkan nilai rapor atau melengkapi portofolio, melainkan sebagai usaha membentuk pribadi yang utuh—pribadi yang kuat dari dalam, sekaligus rendah hati dalam pergaulan.

Dunia hari ini begitu terburu-buru. Segala sesuatu diukur dengan kecepatan: nilai harus cepat keluar, pekerjaan harus cepat selesai, karier harus cepat naik, dan keberhasilan harus segera tampak. Dalam pusaran kecepatan itu, banyak orang lupa bahwa kebun memerlukan waktu untuk tumbuh. Bunga tidak mekar dalam semalam. Benih tidak menjadi pohon dalam sehari. Butuh kesabaran, konsistensi, dan cinta.

Pesan merawat kebun adalah penawar bagi dunia yang serba instan ini. Ia mengajak kita untuk memperlambat langkah, memberi ruang bagi keheningan, dan menyadari bahwa keindahan sejati hanya tumbuh melalui proses. Pada akhirnya, marilah kita menutup renungan ini dengan sebuah ajakan: mari kita rawat kebun kita masing-masing. Kebun pribadi, kebun komunitas, dan kebun sekolah. Kebun yang dipenuhi kasih, kejujuran, ketekunan, dan doa.

Jika kebun itu indah, kupu-kupu kehidupan akan datang dengan sendirinya. Mereka akan hinggap tanpa kita kejar. Mereka akan memberi warna, sukacita, dan keindahan. Dan pada saat itu, kita akan menyadari bahwa kebahagiaan sejati bukanlah hasil dari pengejaran, melainkan hadiah dari kesetiaan merawat.

Penulis : Ardan Sirodjuddin, M.Pd, Kepala SMK Negeri 10 Semarang

Artikel ini memiliki

26 Komentar

Yusuf Trisnawan, S.Pd.
Kamis, 25 Sep 2025

Hebat👍💥

Balas
Janto
Kamis, 25 Sep 2025

Menyala 🔥

Balas
Aprilia Dwi Asriani
Kamis, 25 Sep 2025

Hidup indah ketika jiwa dirawat; di sanalah kupu-kupu kehidupan menari membawa kebahagiaan

Balas
Muslim Anwar
Kamis, 25 Sep 2025

Semoga keberadaan Masjid dapat membentuk Akhlaqul karimah serta menambah iman dan Taqwa, warga besar SMK N 10 Semarang.

Balas
Antar subandana
Kamis, 25 Sep 2025

Semoga keberadaan Masjid dapat membentuk Akhlaqul karimah serta menambah iman dan Taqwa, warga besar SMK N 10 Semarang.

Balas
Imamul Huda, S.Pd.
Kamis, 25 Sep 2025

terbaik

Balas
Elmina
Kamis, 25 Sep 2025

Berkebun…

Balas
Selamet Pujianto
Kamis, 25 Sep 2025

Istimewa

Balas
Wildan Sugiharto
Kamis, 25 Sep 2025

Dulu shalat jumat diluar, sekarang SMK 10 punya masjid sendiri untuk shalat jumat

Balas
Helmi Yuhdana H., S.Pd., M.M.
Kamis, 25 Sep 2025

Mantaaabb’s. . . .

Balas
noor achmat
Kamis, 25 Sep 2025

Bagus

Balas
johan
Kamis, 25 Sep 2025

Literasi menginspirasi.. Smkn 10 smg jaya.. 👍

Balas
Hikma Nurul Izza
Kamis, 25 Sep 2025

Smk 10 go green

Balas
Dian Primayanto
Kamis, 25 Sep 2025

Maju terus SMK 10…

Balas
Aris Guntoro
Kamis, 25 Sep 2025

Keren banget 😱

Balas
tutik w
Kamis, 25 Sep 2025

Istimewa

Balas
Gatot Nurhadi
Kamis, 25 Sep 2025

Luar biasa

Balas
Septiyo Ariyanto
Kamis, 25 Sep 2025

Alhamdulillah dengan ibadah semua berkah

Balas
DJOKO SAPUTRO
Jumat, 26 Sep 2025

alhamdulillah , mantap

Balas
ERWIN SETIAWAN
Jumat, 26 Sep 2025

SMK 10 SEMARANG hebat

Balas
Andhen Priyono
Jumat, 26 Sep 2025

Istimewa

Balas
Andi Tri Cahyono
Jumat, 26 Sep 2025

Istimewa

Balas
Suginah
Sabtu, 27 Sep 2025

Mantap

Balas
Anik Yuswanti
Sabtu, 27 Sep 2025

Mantab 👍

Balas
SUPARMAN, S.Pd
Minggu, 28 Sep 2025

Mantap💯

Balas
SYAYAROH
Senin, 29 Sep 2025

Alhamdulillah, mantap

Balas

Beri Komentar