Info Sekolah
Minggu, 01 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

Mengelola Sekolah dengan Perspektif “Infinite Game”

Diterbitkan :

Dalam lanskap pendidikan modern, sekolah sering kali diposisikan layaknya arena kompetisi. Segenap tenaga dan sumber daya diarahkan untuk mengejar angka, peringkat, atau predikat akreditasi tertentu. Lembaga pendidikan berlomba menampilkan citra terbaiknya dalam statistik dan sertifikat, seolah keberhasilan sekolah diukur semata dari grafik yang menanjak. Namun, di balik gemerlap angka itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah esensi belajar benar-benar tumbuh dalam budaya yang terobsesi pada hasil? Di sinilah konsep Finite and Infinite Games yang dikemukakan oleh James P. Carse menawarkan cara pandang baru tentang bagaimana seharusnya sebuah sekolah dikelola—bukan sebagai permainan yang harus dimenangkan, tetapi sebagai permainan tak hingga yang harus dijaga agar terus berlangsung.

Pendidikan, dalam makna terdalamnya, adalah proses panjang tanpa garis finis. Setiap generasi guru dan siswa hanyalah pemain sementara yang berperan menjaga keberlangsungan permainan agar tetap hidup, relevan, dan bermakna. Karena itu, pengelolaan sekolah perlu bergeser dari paradigma finite yang berorientasi pada kemenangan jangka pendek menuju infinite mindset yang menumbuhkan budaya belajar berkelanjutan. Melalui kerangka ini, SMK Negeri 10 Semarang dapat dilihat sebagai ruang pembelajaran yang bukan sekadar tempat mencetak nilai, tetapi tempat menumbuhkan manusia pembelajar sepanjang hayat.

Dalam buku Finite and Infinite Games, Carse menjelaskan bahwa permainan finite memiliki batas waktu, aturan tetap, dan tujuan akhir yang jelas: memenangkan pertandingan. Sebaliknya, permainan infinite tidak dimaksudkan untuk dimenangkan, melainkan untuk terus dilanjutkan. Tujuannya bukan mengakhiri permainan, melainkan menjaga agar permainan tetap hidup dengan makna baru yang terus tumbuh.

Dalam konteks pendidikan, paradigma finite sering kali tampak dalam bentuk pencapaian jangka pendek—seperti mengejar nilai ujian nasional, akreditasi unggul, atau target kelulusan seratus persen. Semua itu penting, namun berisiko menutup ruang eksplorasi jika dijadikan tujuan akhir. Sekolah menjadi sibuk mengukur keberhasilan dengan angka, sementara semangat belajar yang sejati bisa terpinggirkan.

Sebaliknya, sekolah yang berpikir dengan pola infinite melihat keberhasilan bukan pada hasil akhir, tetapi pada keberlangsungan proses belajar. Tujuan utamanya adalah memastikan bahwa semangat untuk belajar, mengajar, dan berinovasi tidak pernah padam. Dalam “permainan tak hingga” ini, guru, siswa, dan kepala sekolah adalah pemain yang saling mengundang untuk terus bermain—menemukan, mengajarkan, dan menciptakan pengetahuan baru tanpa henti. Sekolah seperti ini hidup karena pembelajarannya hidup.

Untuk menjadikan sekolah sebagai infinite game, perubahan pertama harus terjadi pada pola pikir kepemimpinan. Kepala sekolah bukan lagi semata manajer kinerja yang berorientasi pada target administratif, melainkan fasilitator budaya belajar yang menumbuhkan rasa ingin tahu kolektif. Kepemimpinan semacam ini tidak memerintah dari atas, tetapi menuntun dari tengah—menjadi bagian dari ekosistem pembelajar yang sama-sama tumbuh.

Guru dalam kerangka infinite mindset bukan hanya pengajar yang mentransfer pengetahuan, melainkan pembelajar sepanjang hayat. Mereka tidak berhenti belajar setelah sertifikasi diperoleh, karena dalam permainan tak hingga, keusangan pengetahuan adalah musuh terbesar. Setiap guru perlu menempatkan diri sebagai pemain yang terus mencari makna baru dari praktik mengajarnya.

Sementara itu, siswa bukan lagi sekadar angka di rapor atau ranking di papan prestasi. Mereka adalah individu yang sedang tumbuh, dengan ritme dan potensi unik masing-masing. Sekolah yang berpikiran infinite memahami bahwa setiap siswa memiliki jalur perkembangan yang berbeda. Peran guru bukan menilai siapa yang tercepat, tetapi menuntun setiap siswa menemukan cara terbaiknya untuk belajar dan berkontribusi.

Sekolah yang berorientasi infinite membangun kebijakan yang lentur, adaptif, dan kontekstual. Kurikulum bukan dokumen statis yang hanya diperbarui setahun sekali, melainkan living curriculum—hidup dan berubah sesuai dinamika zaman. Guru diberi ruang untuk bereksperimen, mengintegrasikan isu aktual, dan menyesuaikan metode dengan kebutuhan siswa.

Budaya kolaborasi menggantikan semangat kompetisi. Guru tidak lagi bersaing menjadi yang terbaik, melainkan bekerja bersama untuk membuat pembelajaran terbaik. Siswa pun tidak berlomba-lomba mengalahkan teman, tetapi belajar bersama untuk memecahkan masalah nyata.

Kegagalan, dalam paradigma finite, sering dianggap aib yang harus dihindari. Namun dalam infinite game, kegagalan adalah data—sumber belajar yang sangat berharga. Kesalahan tidak dihukum, melainkan direfleksikan. Dengan begitu, sekolah menjadi ruang yang aman untuk mencoba, gagal, belajar, lalu bangkit kembali.

Selain itu, komunitas sekolah dibuka selebar mungkin. Orang tua, alumni, dunia industri, dan masyarakat tidak hanya diposisikan sebagai “penonton”, tetapi sebagai pemain aktif. Mereka terlibat dalam proses belajar, memberikan inspirasi, dan membawa realitas dunia nyata ke dalam ruang kelas. Dengan cara ini, sekolah menjadi ekosistem pembelajaran sosial yang berkelanjutan.

Ada banyak jebakan yang membuat sekolah sulit keluar dari pola finite. Salah satunya adalah orientasi sempit pada akreditasi. Ketika energi sekolah terkuras untuk mempersiapkan penilaian eksternal, sering kali inovasi berhenti begitu sertifikat diraih. Padahal, kualitas sejati tidak lahir dari dokumen akreditasi, melainkan dari praktik yang terus diperbarui setiap hari.

Jebakan lain adalah budaya drill untuk kelulusan—mengulang soal demi soal demi mencapai skor tinggi. Pola ini mungkin efektif secara jangka pendek, tetapi membunuh daya ingin tahu siswa. Begitu ujian selesai, semangat belajar pun padam.

Begitu pula ketika reputasi sekolah hanya dibangun di atas segelintir prestasi lomba. Piala yang berderet di etalase memang memikat pandangan, tetapi tidak selalu mencerminkan kedalaman belajar di seluruh lapisan siswa. Dalam infinite mindset, prestasi dihargai bukan karena menang, melainkan karena keberanian untuk berproses, berinovasi, dan memberi inspirasi.

Untuk menerapkan prinsip infinite secara nyata, sekolah dapat memulai dari hal sederhana. Program “Guru Belajar Lagi”, misalnya, bisa menjadi wadah bagi para pendidik untuk saling berbagi praktik baik dan memperbarui wawasan pedagogik. Setiap guru diajak menjadi peneliti kecil di kelasnya sendiri, mencatat, merefleksikan, dan memperbaiki cara mengajar secara terus-menerus.

Kurikulum hidup (Living Curriculum) juga dapat diterapkan dengan mengaitkan proyek pembelajaran pada isu-isu lokal yang relevan, seperti lingkungan, teknologi, atau kewirausahaan. Proyek kolaboratif tanpa pemenang bisa menumbuhkan empati, kemampuan kerja sama, dan keterampilan berpikir kritis.

Sistem penghargaan pun perlu diubah: dari penghargaan berbasis hasil menjadi penghargaan berbasis proses. Apresiasi diberikan kepada siswa yang menunjukkan konsistensi, keberanian bereksperimen, atau semangat pantang menyerah—nilai-nilai yang mendukung keberlanjutan permainan belajar.

Visi sekolah juga tidak boleh berhenti pada satu periode kepemimpinan. Dalam infinite mindset, visi adalah janji yang terus diperbarui. Kepala sekolah, guru, dan seluruh komunitas belajar adalah penjaga visi tersebut—bukan untuk diselesaikan, tetapi untuk terus dihidupkan dari generasi ke generasi.

Pada akhirnya, pendidikan sejati adalah infinite game. Tidak ada akhir dari proses belajar, karena setiap akhir hanyalah awal dari bab baru pengetahuan. Tugas kita bukan memenangkan permainan ini, tetapi memastikan permainan terus berlangsung—dengan semangat, rasa ingin tahu, dan cinta terhadap belajar yang tidak pernah padam.

Seperti kata James P. Carse, “An infinite player does not play to win, but plays to keep the game going—and to invite others to play.”
Dalam semangat itu, pengelolaan sekolah harus menjadi ajakan terbuka bagi semua: kepala sekolah yang memimpin dengan keteladanan, guru yang belajar tanpa henti, siswa yang tumbuh dalam rasa ingin tahu, serta masyarakat yang ikut menjaga nyala pembelajaran.

SMK Negeri 10 Semarang, dengan segala potensinya, dapat menjadi contoh nyata sekolah yang bermain dalam permainan tak hingga—sekolah yang tidak berhenti di angka, tetapi terus bergerak menumbuhkan manusia. Karena di dalam infinite game, kemenangan sejati bukanlah menjadi yang terbaik, melainkan tetap bermain, tetap belajar, dan terus mengundang orang lain untuk ikut serta.

Penulis : Ardan Sirodjuddin, M.Pd, Kepala SMK Negeri 10 Semarang

Artikel ini memiliki

13 Komentar

RIZKY TEGUH PRASTYA
Sabtu, 8 Nov 2025

Dalam konteks pendidikan, paradigma infinite sering kali tampak dalam bentuk pencapaian jangka pendek .. seperti mengejar nilai ujian nasional, akreditasi unggul, atau target kelulusan seratus persen. Semua itu penting, namun berisiko menutup ruang eksplorasi jika dijadikan tujuan akhir. Sekolah menjadi sibuk mengukur keberhasilan dengan angka, sementara semangat belajar bisa dilupakan.

Balas
Suhermawan, S.Pd.
Sabtu, 8 Nov 2025

Dalam visi pembelajaran ala infinite game, berarti secara natural keberhasilan tidak boleh dipaksakan. Boleh ada nilai siswa yang jelek dan pasti ada siswa dengan nilai baik. Begitu juga kenaikan kelas dan kelulusan, selama siswanya masih mau belajar, termasuk sari kegagalannya, maka sekolah harus siap melayani.
Harapannya, ini tidak hanya menjadi wacana tapi menjadi kenyataan yang alami.

Balas
Helmi Yuhdana H., S.Pd., M.M.
Sabtu, 8 Nov 2025

Mantaaabb’s . . . .

Balas
R Kalipasa
Sabtu, 8 Nov 2025

…nyala pembelajaran. Saya suka sekali bagian ini. Benar, dan kami akan terus menjaga r api cinta terhadap belajar. Sebuah kobar yang tidak pernah padam.

Balas
Aprilia Dwi Asriani
Sabtu, 8 Nov 2025

Sekolah akan bertahan dan berkembang ketika dikelola dengan semangat Infinite Game yang selalu beradaptasi, berkolaborasi, dan terus memberi makna

Balas
Dra.Warni
Sabtu, 8 Nov 2025

Semoga sekolah ini bisa menerapkan program.ini demi kemajuan mutu pendidikan.

Balas
Dra.Warni
Sabtu, 8 Nov 2025

Semoga terwujud utk kemajuan dan kesuksesan sekolah ini

Balas
Af'idatin
Minggu, 9 Nov 2025

Kemenangan sejati bukanlah menjadi yang terbaik, melainkan tetap bermain, tetap belajar, dan terus mengundang orang lain untuk ikut serta.

Balas
Lestari
Minggu, 9 Nov 2025

Luarbiasa

Balas
Dian Primayanto
Senin, 10 Nov 2025

Guru diposisikan bukan hanya sebagai pengajar, tetapi pembelajar sepanjang hayat. Guru yang berpikir infinite selalu memperbarui diri, berefleksi, dan berinovasi.
Sementara siswa dipandang sebagai individu yang sedang tumbuh dengan potensi unik masing-masing. Penilaian bukan lagi tentang siapa yang tercepat, tetapi bagaimana setiap siswa menemukan cara terbaiknya untuk belajar dan berkontribusi

Balas
Muslim Anwar
Senin, 10 Nov 2025

Mantap dan luar biasa

Balas
Suginah
Senin, 10 Nov 2025

Sekolah yang berorientasi infinite membangun kebijakan yang lentur, adaptif, dan kontekstual.

Balas
Sofiatul Nadziyah
Minggu, 23 Nov 2025

Sekolah harus dikelola bukan sebagai ajang mengejar kemenangan jangka pendek berbasis angka, tetapi sebagai permainan tak hingga yang menjaga proses belajar tetap hidup, relevan, dan bermakna bagi setiap generasi.

Balas

Beri Komentar