Info Sekolah
Jumat, 27 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

BBGTK Jateng Rumuskan Model Peningkatan Kompetensi GTK Berbasis Kebutuhan Nyata

Diterbitkan : - Kategori : Berita

KARANGANYAR — Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan Provinsi Jawa Tengah (BBGTK Jateng) menggelar kegiatan Penyusunan Model Peningkatan Kompetensi sebagai langkah awal penyusunan model peningkatan kompetensi berbasis refleksi kebutuhan belajar guru. Kegiatan tahap perencanaan ini berlangsung selama tiga hari, Rabu hingga Jumat, 25–27 Februari 2026, bertempat di kantor BBGTK Jateng, Kampung Dadapan RT 06 RW 07 Jatikuwung, Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Pembukaan kegiatan dilaksanakan pada Rabu (25/2) pukul 09.45 WIB dan diikuti sekitar 60 peserta yang terdiri dari pengawas sekolah, guru pejuang digital, serta unsur pengembang teknologi pembelajaran. Bimtek ini merupakan tindak lanjut Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 5 Tahun 2025 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan, yang menegaskan peran strategis BBGTK dalam pemetaan serta pengembangan model peningkatan kompetensi bagi guru, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan.

Ketua panitia kegiatan MOOC, Wawan Budi Purnomo, menjelaskan bahwa tahap pertama ini difokuskan pada penyusunan kerangka pembelajaran daring terbuka atau Massive Open Online Course (MOOC) yang relevan dengan kebutuhan nyata guru di lapangan. “BBGTK sebagai pengembang kompetensi GTK berkewajiban menghadirkan inovasi peningkatan kompetensi guru. Berdasarkan hasil pemetaan, terdapat tujuh prioritas kebutuhan kompetensi yang harus segera direspons,” ujarnya dalam laporan panitia.

Menurut Wawan, kegiatan ini bertujuan menyusun kerangka MOOC, mengembangkan tujuh desain pembelajaran prioritas, menyediakan bahan ajar digital terstandar, mendukung pemerataan akses peningkatan kompetensi, serta menghasilkan prototipe MOOC yang siap diimplementasikan. Ia menegaskan bahwa digitalisasi pelatihan menjadi kunci agar layanan peningkatan kompetensi dapat menjangkau guru hingga daerah terpencil.

Tujuan utamanya adalah merumuskan model pengembangan kompetensi yang aplikatif dan berkelanjutan. Output kegiatan meliputi kerangka MOOC, desain pembelajaran, serta rencana implementasi digitalisasi pembelajaran.

Selain sesi perencanaan MOOC, kegiatan juga diisi dengan penyusunan model peningkatan kompetensi berbasis hasil refleksi kebutuhan belajar. Ketua panitia penyusunan model peningkatan Kompetensi, Niko Arif, menyampaikan bahwa model ini disusun berdasarkan data pemetaan kompetensi guru yang telah dilakukan sebelumnya. “Kami ingin memastikan bahwa model yang dirumuskan benar-benar berangkat dari kebutuhan riil guru, bukan asumsi,” kata Niko.

Ia menjelaskan bahwa latar belakang kegiatan mencakup pengembangan guru dan tenaga kependidikan (GTK), pemetaan kompetensi, pengembangan model pembelajaran, serta rencana implementasi di satuan pendidikan.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, antara lain Dian Fajarwati, Sri Mulyono, dan Fitri dari Tanoto Foundation, koordinator pengembang teknologi pembelajaran (PTP). Sedangkan peserta terdiri dari internal BBGTK dan eksternal meliputi  pengawas sekolah, guru pejuang digital, serta kepala sekolah. Kehadiran mitra eksternal dinilai penting untuk memperkaya perspektif dan memastikan model yang disusun selaras dengan praktik terbaik pendidikan modern.

Dalam sambutannya, Kepala BBGTK Jateng, Darmadi menegaskan komitmen lembaganya untuk memperluas akses layanan peningkatan kompetensi bagi guru dan tenaga kependidikan. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Tanoto Foundation dan berbagai pihak eksternal yang telah mendukung program pengembangan kompetensi serta pembangunan Zona Wilayah Bebas dari Korupsi (ZWBK) yang dicanangkan pada 11 Februari 2026.

“Kami berharap model yang disusun tidak berhenti pada dokumen, tetapi benar-benar diimplementasikan dan dampaknya dipantau setiap tahun,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kepala BBGTK menekankan bahwa transformasi pendidikan tidak mungkin terjadi tanpa peningkatan kualitas guru secara berkelanjutan. Oleh karena itu, pendekatan berbasis refleksi kebutuhan belajar dinilai sebagai strategi paling tepat agar pelatihan tidak bersifat seragam, melainkan kontekstual sesuai tantangan di masing-masing daerah.

Selama tiga hari pelaksanaan, peserta mengikuti diskusi kelompok, lokakarya desain pembelajaran, serta perumusan rencana implementasi digital. Hasil kerja setiap kelompok kemudian dipresentasikan untuk memperoleh masukan dari narasumber dan fasilitator.

Di akhir kegiatan, panitia menargetkan terbentuknya kerangka model peningkatan kompetensi yang komprehensif dan siap diuji coba. Model tersebut diharapkan menjadi acuan nasional dalam pengembangan kompetensi GTK berbasis kebutuhan nyata, sekaligus mempercepat pemerataan kualitas pendidikan di Jawa Tengah.

Dengan terselenggaranya Penyusunan Model Peningkatan Kompetensi ini, BBGTK Jateng menegaskan perannya sebagai motor penggerak peningkatan kualitas guru di era transformasi digital. Program ini diharapkan tidak hanya menghasilkan dokumen perencanaan, tetapi juga perubahan nyata pada praktik pembelajaran di sekolah, sehingga mutu pendidikan dapat meningkat secara merata dan berkelanjutan.

Penulis : Ardan Sirodjuddin, M.Pd, Kepala SMK Negeri 10 Semarang

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar