Info Sekolah
Senin, 02 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

Mengatasi Prokrastinasi Siswa dengan Semangat Kompetisi Sehat

Diterbitkan :

Fenomena prokrastinasi pada siswa merupakan realitas yang hampir selalu hadir dalam dinamika pembelajaran, baik di jenjang dasar maupun menengah. Banyak guru mengeluhkan tugas yang dikumpulkan mendekati tenggat, dikerjakan secara tergesa-gesa, atau bahkan tidak selesai sama sekali. Di sisi lain, siswa kerap merasa tertekan oleh tumpukan kewajiban akademik yang seolah datang bersamaan. Dalam situasi ini, penundaan sering kali disederhanakan sebagai bentuk kemalasan atau kurangnya disiplin. Padahal, jika ditelaah lebih dalam, prokrastinasi bukanlah persoalan tunggal yang berdiri sendiri, melainkan perilaku kompleks yang dipengaruhi oleh aspek psikologis, emosional, kognitif, dan lingkungan belajar. Oleh karena itu, memahami akar masalah menjadi langkah krusial sebelum guru dan sekolah merancang solusi yang efektif dan berkelanjutan.

Pada banyak kasus, siswa menunda tugas bukan karena tidak mampu, melainkan karena takut gagal. Standar yang tinggi, baik yang berasal dari tuntutan guru, orang tua, maupun dari diri sendiri, dapat memicu kecemasan berlebih. Rasa takut menghasilkan karya yang tidak sempurna membuat siswa memilih menunda, seolah penundaan memberi perlindungan sementara dari kemungkinan dinilai buruk. Selain itu, kurangnya minat dan relevansi tugas juga berperan besar. Ketika siswa tidak melihat keterkaitan antara tugas dengan kehidupan nyata, cita-cita, atau pengalaman personal mereka, tugas tersebut terasa hampa dan kehilangan makna. Akibatnya, energi mental untuk memulai menjadi sangat kecil.

Masalah lain yang sering muncul adalah manajemen waktu yang buruk. Banyak siswa kesulitan memecah tugas besar menjadi bagian-bagian kecil yang lebih terjangkau. Tugas tampak menakutkan karena terlihat seperti satu beban besar yang harus diselesaikan sekaligus. Di tengah era digital, distraksi pun semakin mudah datang, mulai dari gawai hingga media sosial. Tantangan akademik yang tidak optimal juga memperparah keadaan. Tugas yang terlalu mudah memunculkan kebosanan, sedangkan tugas yang terlalu sulit menimbulkan frustrasi dan rasa tidak berdaya. Kombinasi faktor-faktor tersebut pada akhirnya melahirkan konsekuensi serius berupa akumulasi tugas, stres mendadak menjelang tenggat, kualitas pekerjaan yang rendah, serta hilangnya kesempatan bagi siswa untuk mengalami pembelajaran yang mendalam dan bermakna.

Dalam konteks inilah, upaya menanamkan semangat kompetisi sehat menjadi tantangan tersendiri. Kompetisi kerap dipahami sebagai upaya mengalahkan orang lain, padahal pendekatan ini berisiko menimbulkan kecemasan, rasa rendah diri, dan bahkan putus asa bagi siswa yang merasa tertinggal. Tantangan pendidikan modern adalah mengalihkan fokus kompetisi dari eksternal menuju internal, yakni kompetisi untuk mengalahkan diri sendiri, memperbaiki capaian sebelumnya, dan berkembang secara personal. Arena kompetisi juga perlu dirancang secara adil, dengan tantangan yang sesuai kemampuan agar setiap siswa merasa memiliki peluang untuk berhasil. Yang tidak kalah penting, kompetisi harus berbasis proses, bukan semata hasil akhir. Ketekunan, kreativitas, keberanian mencoba, dan konsistensi perlu dihargai agar siswa berani memulai tanpa dibayangi ketakutan berlebihan.

Untuk mengubah situasi tersebut, diperlukan aksi konkret yang dirancang secara sadar dan sistematis. Salah satu langkah awal adalah menumbuhkan minat siswa melalui pendekatan interest-driven. Guru dapat mengontekstualisasikan tugas dengan kehidupan nyata dan memberi pilihan format, sehingga siswa merasa memiliki otonomi. Elemen game-like seperti quest atau misi bertahap dapat membuat tugas terasa lebih menantang dan menyenangkan. Ketika siswa memahami big picture dan melihat relevansi tugas dengan masa depan atau minat pribadi mereka, dorongan untuk menunda perlahan berkurang karena tugas tidak lagi dipersepsi sebagai beban kosong.

Selain menumbuhkan minat, dukungan yang memadai menjadi kunci keberhasilan. Pendekatan scaffolding dapat diterapkan dengan memecah tugas menjadi beberapa milestone yang jelas dan terukur. Guru menyediakan tools, template, atau referensi yang membantu siswa memulai, sekaligus menciptakan lingkungan kolaboratif melalui diskusi kelompok. Dalam proses ini, feedback berkelanjutan sangat penting agar siswa merasa didampingi, bukan dihakimi di akhir. Dukungan semacam ini membantu siswa membangun kepercayaan diri dan keterampilan mengelola tugas secara mandiri.

Penghargaan juga perlu diberikan secara bermakna. Pengakuan tidak harus selalu berupa nilai akhir, melainkan dapat mencakup kreativitas, kolaborasi, dan ketekunan. Publikasi karya siswa atau pengakuan sosial di kelas mampu meningkatkan rasa bangga dan kepemilikan terhadap proses belajar. Sistem poin atau badge dapat digunakan untuk memvisualisasikan progres, sementara pujian yang tulus dan spesifik memperkuat motivasi internal siswa. Dengan demikian, penghargaan tidak lagi menjadi alat tekanan, melainkan sumber energi positif.

Dampak dari strategi-strategi tersebut terlihat pada perubahan motivasi siswa yang perlahan bergeser dari ekstrinsik menuju intrinsik. Siswa menjadi lebih aktif dan bertanggung jawab karena tugas dipandang sebagai proyek pribadi atau kerja tim yang bermakna. Kualitas tugas pun meningkat, baik dari sisi konten, kreativitas, maupun kedalaman analisis. Lebih dari itu, siswa mengalami pembelajaran yang mendalam karena mereka benar-benar terlibat dalam proses memahami, bukan sekadar menyelesaikan kewajiban. Dalam jangka panjang, terbentuklah budaya kelas yang positif, di mana siswa saling mendukung dalam komunitas pembelajar yang dinamis dan prokrastinasi semakin berkurang.

Pada akhirnya, pendekatan yang memadukan pemahaman situasi, perumusan tantangan, pelaksanaan aksi, dan refleksi hasil merupakan strategi pendidikan yang proaktif dan humanis. Guru tidak lagi berperan semata sebagai pemberi tugas dan penilai, melainkan sebagai desainer pengalaman belajar, fasilitator, dan motivator. Dengan menumbuhkan minat, menyediakan dukungan, dan memberikan apresiasi yang bermakna, semangat kompetisi sehat dapat tumbuh secara alami. Dari sinilah, prokrastinasi tidak dihadapi dengan hukuman atau tekanan, melainkan diatasi melalui pengalaman belajar yang relevan, menantang, dan memanusiakan siswa.

Penulis : Digna Palupi, M.Pd, Guru Bahasa Indonesia SMK Negeri 10 Semarang

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar