Info Sekolah
Minggu, 01 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

Belajar Mengelas dengan Mindset Adaptif

Diterbitkan :

Di banyak ruang praktik sekolah menengah kejuruan, suara dengung mesin las SMAW terdengar nyaring, percikan api berhamburan, dan bau khas logam panas memenuhi udara. Secara kasatmata, semua tampak berjalan sebagaimana mestinya. Mesin las tersedia dalam kondisi baik, elektroda tersimpan rapi, dan parameter pengelasan telah disesuaikan dengan rekomendasi pabrikan maupun modul pembelajaran. Namun di balik kelengkapan itu, kenyataan di atas meja kerja sering kali berkata lain. Hasil pengelasan siswa masih jauh dari standar yang diharapkan, baik dari sisi estetika maupun kekuatan sambungan. Bead terlihat tidak konsisten, garis las bergelombang, dan permukaan sambungan menampilkan berbagai cacat yang seharusnya bisa dihindari pada level pembelajaran tersebut.

Contoh kegagalan pengelasan muncul hampir setiap sesi praktik. Ada sambungan dengan bead yang terlalu lebar dan tidak rapi, menunjukkan kontrol kolam las yang kurang stabil. Pada benda kerja lain, undercut tampak jelas di sisi sambungan, menandakan sudut dan kecepatan gerak elektroda yang tidak tepat. Tidak jarang pula ditemukan porositas yang tersembunyi di balik lapisan slag, baru terlihat setelah dibersihkan, seolah menjadi pengingat bahwa ada gas yang terperangkap akibat teknik yang kurang benar. Pada kasus tertentu, penetrasi las terlalu dangkal sehingga sambungan tampak menyatu di permukaan, tetapi rapuh ketika diuji. Semua ini terjadi meskipun angka arus, jenis elektroda, dan polaritas sudah “benar” menurut buku.

Situasi tersebut mendorong refleksi yang lebih dalam. Jika mesin sudah ideal dan parameter telah disetel sesuai standar, di manakah letak masalahnya? Jawabannya perlahan mengarah bukan pada perangkat, melainkan pada manusia yang mengoperasikannya. Pengelasan SMAW bukan sekadar aktivitas mekanis mengikuti prosedur, tetapi keterampilan yang sangat bergantung pada kemampuan psikomotorik, koordinasi tangan dan mata, serta apa yang sering disebut sebagai feel. Setiap individu memiliki persepsi visual, kepekaan gerak, dan respons motorik yang berbeda terhadap panas, cahaya busur, dan dinamika kolam las. Di sinilah kualitas las sesungguhnya ditentukan. Mesin hanya menyediakan potensi, tetapi manusialah yang mengaktualkannya menjadi sambungan yang kokoh dan rapi.

Kesadaran ini menjadi semakin penting ketika siswa dihadapkan pada realitas dunia kerja. Di industri, mereka tidak selalu berhadapan dengan mesin yang sama seperti di sekolah. Lingkungan bengkel bisa sangat beragam, mulai dari pabrik besar dengan peralatan modern hingga bengkel kecil dengan mesin yang telah digunakan bertahun-tahun. Kondisi listrik, stabilitas arus, bahkan kualitas elektroda dapat berbeda dari satu tempat ke tempat lain. Siswa yang terbiasa bekerja dalam situasi seragam di sekolah sering kali mengalami kebingungan ketika harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang tidak ideal.

Perbedaan antar merek mesin las menambah kompleksitas tersebut. Dua mesin dengan angka setting arus yang sama belum tentu menghasilkan output yang identik. Karakteristik trafo, respons terhadap beban, dan stabilitas busur dapat berbeda secara signifikan. Seorang welder yang hanya mengandalkan angka pada panel kontrol tanpa memahami respons nyata dari busur las akan mudah kehilangan kendali. Tantangan inti bagi pendidikan kejuruan adalah bagaimana mempersiapkan siswa agar tetap mampu menghasilkan las sesuai standar meskipun peralatan dan kondisi berubah-ubah.

Di sinilah makna pembelajaran menjadi lebih luas. Keberhasilan pengelasan tidak cukup ditentukan oleh kepatuhan terhadap manual atau modul praktikum, melainkan oleh kemampuan adaptif. Siswa perlu dilatih untuk membaca situasi, merespons umpan balik visual dan kinestetik, serta membuat keputusan teknis secara mandiri. Dunia nyata menuntut fleksibilitas, bukan sekadar reproduksi langkah-langkah yang dihafal.

Menjawab tantangan tersebut, pendekatan pembelajaran perlu bergeser dari pola pasif menuju pengalaman aktif yang menempatkan siswa sebagai subjek utama. Problem-Based Learning atau PBL menawarkan kerangka yang relevan untuk konteks pengelasan SMAW. Dalam pendekatan ini, siswa tidak lagi hanya mengikuti instruksi langkah demi langkah, tetapi dihadapkan pada masalah nyata yang harus mereka pecahkan melalui eksplorasi, eksperimen, dan refleksi. Guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan proses berpikir, bukan sebagai satu-satunya sumber jawaban.

Penerapan PBL dalam pengelasan dimulai dengan memberi ruang bagi siswa untuk bereksperimen menemukan setting yang paling sesuai dengan dirinya. Salah satu elemen kunci yang dieksplorasi adalah setting arus listrik. Siswa diajak merasakan langsung perbedaan ketika arus terlalu rendah, di mana elektroda cenderung lengket dan penetrasi menjadi kurang. Mereka juga mengalami konsekuensi arus yang terlalu tinggi, berupa percikan berlebihan, bead yang melebar, dan kolam las yang sulit dikendalikan. Melalui eksperimen bertahap, misalnya dalam rentang 80A hingga 100A, siswa mulai melatih sensitivitas teknisnya. Mereka belajar bahwa angka pada mesin hanyalah titik awal, sementara penyesuaian akhir bergantung pada respons nyata dari busur las dan kolam cair.

Elemen berikutnya adalah sudut pengelasan atau electrode angle. Banyak siswa awalnya memegang elektroda terlalu tegak atau terlalu miring tanpa menyadari dampaknya. Dengan sudut yang terlalu tegak, penetrasi menjadi dangkal dan bead cenderung menumpuk di permukaan. Sebaliknya, sudut yang terlalu miring dapat menyebabkan undercut dan distribusi slag yang tidak merata. Melalui latihan dengan variasi sudut sekitar 10° hingga 20°, siswa mulai memahami hubungan antara posisi tangan, arah pandang, dan bentuk kolam las. Proses ini melatih koordinasi motorik halus yang sangat krusial dalam pengelasan manual.

Kecepatan gerakan elektroda atau travel speed menjadi elemen ketiga yang tidak kalah penting. Siswa sering kali bergerak terlalu lambat karena takut kehilangan kontrol, sehingga bead menjadi terlalu besar dan material mengalami overheating. Di sisi lain, gerakan yang terlalu cepat menghasilkan penetrasi yang kurang dan cacat seperti cold lap. Dalam kerangka PBL, siswa dilatih untuk menemukan irama gerakan yang stabil, hampir seperti mengikuti ketukan musik internal. Latihan ini mengasah intuisi kinestetik, kemampuan merasakan hubungan antara kecepatan tangan, suara busur, dan perilaku kolam las.

Inti dari seluruh proses PBL ini adalah kesadaran bahwa setiap siswa pada akhirnya akan menemukan “setting ideal” yang unik. Setting tersebut bukan hanya kombinasi angka arus, sudut, dan kecepatan, tetapi juga cerminan dari tubuh, gaya gerak, dan persepsi visual masing-masing individu. Dengan menyadari hal ini, siswa tidak lagi membandingkan dirinya secara kaku dengan orang lain, melainkan fokus pada peningkatan berkelanjutan berdasarkan refleksi diri.

Hasil dari pendekatan ini terlihat pada kedalaman kompetensi yang berkembang. Secara konseptual, siswa tidak hanya tahu bahwa suatu setting bekerja, tetapi juga memahami mengapa hal itu berhasil. Pengetahuan mereka tidak berhenti pada level prosedural, melainkan mencapai pemahaman kausal yang lebih dalam. Dari sisi teknis, kemandirian siswa meningkat signifikan. Mereka menjadi lebih percaya diri ketika harus menggunakan mesin baru atau bekerja dalam kondisi yang berbeda dari yang biasa mereka temui di sekolah.

Aspek metakognisi juga tumbuh seiring dengan praktik reflektif yang terus didorong dalam PBL. Siswa belajar mengevaluasi performa diri, mengenali kesalahan tanpa menyalahkan alat, dan merumuskan strategi perbaikan. Proses ini menumbuhkan sikap profesional yang sangat dibutuhkan di dunia kerja. Ketika lulus, mereka tidak hanya siap menghadapi ujian teori, tetapi juga siap menghadapi masalah nyata di lapangan.

Jika ditarik lebih jauh, pendekatan ini memiliki relevansi kuat dengan tuntutan dunia kerja modern dan prinsip Industry 4.0. Era ini menekankan kemampuan adaptif, pembelajaran berkelanjutan, dan integrasi manusia dengan teknologi. Hafalan prosedur yang kaku semakin kehilangan relevansinya di tengah perubahan cepat. Sebaliknya, kemampuan untuk belajar dari masalah, melakukan eksperimen terkontrol, dan bangkit dari kegagalan menjadi nilai utama.

Dalam proses tersebut, berbagai soft skills berkembang secara alami. Siswa belajar memecahkan masalah, berkomunikasi tentang temuan mereka, dan membangun ketahanan mental ketika eksperimen tidak langsung berhasil. Lingkungan kerja yang dinamis menuntut fleksibilitas dan keberanian untuk mengambil keputusan, bukan kepatuhan buta pada manual. Melalui PBL, nilai-nilai ini ditanamkan sejak dini dalam konteks yang konkret dan bermakna.

Pada akhirnya, peran guru juga mengalami transformasi. Guru tidak lagi sekadar mengajarkan cara mengelas, tetapi juga mengajarkan cara belajar mengelas. Ia menjadi pendamping dalam proses eksplorasi, memberi umpan balik yang tepat waktu, dan menumbuhkan budaya refleksi. Pembelajaran tidak berhenti ketika sambungan selesai dilas, tetapi berlanjut dalam diskusi tentang apa yang dirasakan, dilihat, dan dipelajari dari proses tersebut.

Artikel ini dengan demikian bukan sekadar laporan teknis tentang pengelasan SMAW, melainkan gambaran sebuah model pembelajaran inovatif yang berfokus pada manusia sebagai pusat proses. Dengan PBL, siswa bertransformasi menjadi peneliti mini atas teknik mereka sendiri, mengembangkan keterampilan adaptif dan mindset reflektif yang akan mereka bawa ke dunia kerja. Dalam jangka panjang, pendekatan ini membekali mereka dengan kesiapan menghadapi realitas industri yang kompleks dan terus berubah.

Mengelas pada akhirnya bukan hanya soal menyatukan dua potong logam melalui panas dan logam pengisi. Ia adalah proses di mana manusia belajar menyatu dengan alat, material, dan dirinya sendiri. Di dalam percikan api dan kolam las yang berkilau, tersimpan pelajaran tentang kesabaran, kepekaan, dan kemampuan beradaptasi. Di sanalah transformasi sejati terjadi, ketika keterampilan teknis bertemu dengan kesadaran reflektif, dan pembelajaran menjadi pengalaman yang hidup.

“Ciptakan Inovasi, Tebarkan Manfaat”

“SMK Negeri 10 Semarang, dari Semarang untuk Indonesia”

Penulis: Nasi’in Samsul Huda, S.Pd., Guru Produktif Teknik Pengelasan

Penyunting: Tim Humas dan Literasi

Artikel ini memiliki

14 Komentar

Andhen Priyono
Kamis, 29 Jan 2026

Inspiratif

Balas
Elmina Ita K. S.Pd, M.Si
Kamis, 29 Jan 2026

Sae…

Balas
MUCH RIZQI
Kamis, 29 Jan 2026

Lanjutkan…. Inspirasi yg baru

Balas
Helmi Yuhdana H., S.Pd., M.M.
Kamis, 29 Jan 2026

Mantaaabb’s

Balas
WILER UPIK
Kamis, 29 Jan 2026

Pengalaman adalah GURU yang terbaik. Inspiratif.

Balas
Aprilia Dwi Asriani
Kamis, 29 Jan 2026

Kelas praktik yang berpihak pada siswa menumbuhkan welder yang terampil sekaligus tangguh

Balas
Landung Jati Ismoyo
Kamis, 29 Jan 2026

Alhamdulillah.semoga menjadi lebih hebat kompetensi, ketrampilan & keahlian siswa²nya

Balas
Dra.Warni
Kamis, 29 Jan 2026

Pelajaran mengelas dapat mengandung pelajaran yg tersimpan terhadap kepekaan.kesabaran.dan kemampuan beradaptasi

Balas
Nasi'in Samsul Huda
Kamis, 29 Jan 2026

Dalam menentukan metode pembelajaran, seorang guru harus mengetahui tujuan dan merumuskan alur tujuan pembelajaran, dari situ guru dapat merencanakan strategi yang didalamnya terdapat metode Pembelajaran, hal ini penting dilakukan untuk mengurangi miskonsepsi, sehingga program remidial dapat diminimalisir.

Balas
DJOKO SAPUTRO
Jumat, 30 Jan 2026

Inspiratif

Balas
Af'idatin
Jumat, 30 Jan 2026

Luar biasa🔥

Balas
Irastuti
Jumat, 30 Jan 2026

Wah mantul tenan pak👍
Mengelas pada akhirnya bukan hanya soal menyatukan dua potong logam melalui panas dan logam pengisi. Ia adalah proses di mana manusia belajar menyatu dengan alat, material, dan dirinya sendiri…I do agree with this statement sir👍

Balas
Antar
Jumat, 30 Jan 2026

Sangat luar biasa.. bisa memberikan inspirasi bagi saya

Balas
Mungki Satya
Jumat, 30 Jan 2026

Setuju banget! Belajar mengelas itu butuh kesabaran ekstra. Kalau mindset-nya sudah adaptif, setiap kegagalan hasil las bukan jadi beban, tapi jadi bahan evaluasi untuk lebih baik lagi. Semangat buat para pejuang api yang terus mengasah skill dan mentalnya!

Balas

Beri Komentar