Info Sekolah
Minggu, 01 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

Menata Ulang Cara Belajar di Pendidikan Modern

Diterbitkan :

Dalam perjalanan panjang dunia pendidikan, selalu ada ketegangan antara dua pendekatan belajar yang tampak sederhana namun sesungguhnya menentukan arah masa depan pembelajar. Di satu sisi terdapat pola belajar yang mengandalkan hafalan sebagai inti proses, sementara di sisi lain tumbuh pendekatan yang menempatkan pemahaman sebagai tujuan utama. Kedua pendekatan ini bukan sekadar metode teknis di ruang kelas, melainkan cerminan cara pandang kita terhadap hakikat belajar itu sendiri. Apakah belajar cukup diukur dari kemampuan mengulang informasi, atau justru dari kesanggupan memahami, mengaitkan, dan menggunakannya dalam kehidupan nyata?

Perbedaan ini menjadi semakin penting dalam dunia pendidikan modern yang dihadapkan pada perubahan cepat, kompleksitas persoalan, dan tuntutan keterampilan yang terus berkembang. Informasi kini tersedia melimpah dan dapat diakses kapan saja, sehingga kemampuan menghafal fakta mentah tidak lagi menjadi keunggulan utama. Yang dibutuhkan adalah kemampuan menalar, menganalisis, dan mengambil keputusan berbasis pemahaman. Di titik inilah pendidikan ditantang untuk menjawab pertanyaan kunci yang menentukan arah praktik pembelajaran: apakah kita hanya ingin siswa mampu menghafal demi lulus ujian, atau benar-benar memahami agar siap menghadapi realitas kehidupan?

Pendekatan belajar yang bertumpu pada hafalan sering dikenal dengan istilah rote learning. Pola ini mengikuti siklus yang nyaris selalu sama, yaitu menghafal informasi, mengulanginya secara mekanis, menuangkannya dalam bentuk jawaban ujian, lalu perlahan melupakannya setelah tujuan jangka pendek tercapai. Proses belajar menjadi serangkaian aktivitas linier yang menekankan kecepatan dan ketepatan mengingat, bukan kedalaman makna. Dalam situasi ini, siswa sering kali diposisikan sebagai wadah kosong yang harus diisi sebanyak mungkin data, tanpa diberi ruang untuk bertanya atau mempertanyakan.

Ciri utama dari rote learning adalah fokus pada ingatan jangka pendek. Informasi disimpan hanya selama diperlukan untuk menghadapi tes atau evaluasi, kemudian tersingkir oleh materi baru. Akibatnya, pengetahuan yang diperoleh tidak terintegrasi dalam struktur kognitif yang bermakna. Siswa mungkin mampu menjawab soal dengan benar hari ini, namun kesulitan menjelaskan kembali konsep yang sama beberapa minggu kemudian. Memori yang terbentuk bersifat dangkal dan rapuh, mudah hilang karena tidak terhubung dengan pemahaman yang lebih luas.

Dampak dari pendekatan ini sering kali luput disadari karena hasil ujian jangka pendek tampak memuaskan. Nilai dapat tinggi, peringkat dapat diraih, namun pemahaman sesungguhnya tidak bertahan. Banyak siswa yang merasa “belajar keras” tetapi tidak benar-benar tahu apa yang dipelajarinya. Mereka hafal langkah-langkah, rumus, atau definisi, namun tidak memahami alasan di baliknya. Situasi ini menciptakan ilusi keberhasilan akademik yang rapuh dan mudah runtuh ketika dihadapkan pada konteks baru.

Contoh nyata dapat dilihat pada pembelajaran fisika, ketika siswa menghafal rumus-rumus gaya, kecepatan, atau energi tanpa memahami maknanya. Rumus hanya menjadi kombinasi simbol yang harus diingat urutannya, bukan representasi hubungan antar konsep alam. Ketika soal diubah sedikit atau dikaitkan dengan situasi sehari-hari, kebingungan pun muncul. Pengetahuan yang seharusnya menjadi alat berpikir justru berubah menjadi beban hafalan.

Berbeda dengan itu, pendekatan meaningful learning memandang belajar sebagai proses aktif membangun makna. Proses ini tidak berhenti pada penerimaan informasi, melainkan berlanjut pada keberanian bertanya, kemampuan menganalisis, dan keterampilan mengaitkan konsep dengan pengalaman nyata. Belajar tidak lagi dipahami sebagai aktivitas satu arah, tetapi sebagai dialog terus-menerus antara pengetahuan baru dan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Dalam pendekatan ini, pemahaman tumbuh melalui proses berpikir yang mendalam dan reflektif.

Karakteristik utama meaningful learning terlihat pada rangkaian proses yang saling terhubung. Siswa belajar dengan rasa ingin tahu, mengajukan pertanyaan kritis, menganalisis informasi, melatih critical thinking, serta menghubungkan konsep satu dengan yang lain. Proses ini mendorong siswa untuk melihat keterkaitan, bukan sekadar potongan fakta terpisah. Dengan demikian, pengetahuan menjadi jaringan makna yang kokoh dan mudah diingat dalam jangka panjang.

Fokus utama dari pembelajaran bermakna adalah pemahaman dan aplikasi. Informasi tidak hanya disimpan, tetapi digunakan untuk menjelaskan fenomena, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Dampaknya adalah retensi memori yang lebih kuat karena pengetahuan terikat pada konteks dan pengalaman nyata. Ketika siswa memahami alasan di balik suatu konsep, mereka lebih mudah mengingatnya dan menggunakannya kembali dalam situasi berbeda.

Dalam pembelajaran fisika, misalnya, siswa tidak hanya menghafal rumus gaya, tetapi memahami konsep gaya sebagai interaksi yang memengaruhi gerak benda. Mereka dapat mengaitkannya dengan pengalaman mendorong meja, mengerem sepeda, atau merasakan dorongan angin. Dengan cara ini, rumus tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi alat untuk menjelaskan realitas. Pemahaman semacam ini membuat belajar terasa relevan dan bermakna.

Jika kedua pendekatan tersebut dibandingkan, perbedaannya tampak jelas bukan hanya pada metode, tetapi juga pada hasil jangka panjang. Rote learning cenderung menghasilkan siswa yang terampil mengingat tetapi kurang mampu berpikir mandiri. Sementara itu, meaningful learning menumbuhkan pembelajar yang kritis, reflektif, dan adaptif. Yang satu mengejar kepastian jawaban, yang lain mendorong eksplorasi makna. Yang satu berhenti pada apa yang harus diingat, yang lain melangkah lebih jauh menuju mengapa dan bagaimana.

Keunggulan pembelajaran bermakna tidak terlepas dari cara kerja otak manusia. Otak lebih mudah mengingat alasan dan keterkaitan dibandingkan daftar fakta yang terisolasi. Ketika informasi dihubungkan dengan pengalaman pribadi atau konteks nyata, jejak memorinya menjadi lebih kuat. Pertanyaan “mengapa” membantu membangun struktur pemahaman yang tahan lama, sementara sekadar mengetahui “apa” sering kali tidak cukup untuk mempertahankan ingatan.

Koneksi dengan pengalaman nyata juga berperan penting dalam memperkuat memori. Ketika siswa melihat relevansi antara materi pelajaran dan kehidupan sehari-hari, motivasi belajar meningkat secara alami. Belajar tidak lagi dipandang sebagai kewajiban semata, melainkan sebagai sarana memahami dunia. Selain itu, pembelajaran bermakna secara langsung melatih keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, pemecahan masalah, kreativitas, dan kemampuan berkomunikasi, yang sangat dibutuhkan dalam dunia kerja dan kehidupan sosial.

Peran guru menjadi sangat krusial dalam pergeseran dari hafalan menuju pembelajaran bermakna. Guru tidak lagi sekadar penyampai informasi, tetapi fasilitator proses berpikir. Langkah awal yang dapat dilakukan adalah memulai pembelajaran dengan pertanyaan reflektif, bukan langsung dengan definisi. Pertanyaan yang menantang rasa ingin tahu akan membuka ruang dialog dan mendorong siswa untuk berpikir lebih dalam.

Penggunaan studi kasus atau proyek nyata juga menjadi strategi efektif untuk mengaitkan konsep dengan praktik. Melalui pengalaman langsung, siswa belajar menerapkan pengetahuan dalam konteks yang kompleks dan autentik. Selain itu, mendorong siswa untuk menjelaskan materi dengan kata-kata mereka sendiri membantu memperkuat pemahaman dan mengungkap sejauh mana konsep benar-benar dipahami. Bahasa siswa sendiri sering kali menjadi jembatan antara konsep abstrak dan makna personal.

Menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari atau dunia kerja membuat pembelajaran terasa relevan dan kontekstual. Ketika siswa melihat manfaat nyata dari apa yang dipelajarinya, proses belajar menjadi lebih hidup dan bermakna. Guru yang mampu membangun jembatan ini tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya belajar sepanjang hayat.

Pada akhirnya, perbedaan antara rote learning dan meaningful learning bukan sekadar soal metode, melainkan soal tujuan pendidikan itu sendiri. Hafalan mungkin menghasilkan memori dangkal yang cepat pudar, tetapi pemahaman menumbuhkan pengetahuan yang bertahan dan dapat digunakan. Pendidikan modern tidak lagi cukup berorientasi pada penguasaan materi jangka pendek, melainkan harus mempersiapkan siswa menghadapi tantangan nyata yang menuntut pemikiran kritis dan adaptif.

Dengan bergeser dari sekadar hafalan menuju pembelajaran bermakna, pendidikan dapat kembali pada esensinya sebagai proses memanusiakan manusia. Siswa tidak hanya belajar untuk lulus ujian, tetapi untuk memahami dunia dan perannya di dalamnya. Inilah arah pembelajaran yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membekali generasi masa depan dengan pemahaman yang mendalam dan bermakna.

Penulis : Ardan Sirodjuddin, M.Pd, Kepala SMK Negeri 10 Semarang
Artikel ini memiliki

41 Komentar

Suhermawan, S.Pd.
Sabtu, 24 Jan 2026

Memang saatnya kita sebagai guru berubah, merubah pembelajaran yang dulunya penuh hapalan menuju pembelajaran yang lebih bermakna (note learning to meaningful learning),.
Sebagai guru bahasa Inggris, sekalipun masih menerapkan hafalan namun harus mengupayakan bahasa inggris yang relevan dengan kenyataan dan kehidupan sehari-hari.

Balas
Johan
Sabtu, 24 Jan 2026

Literasi menginspirasi..
Rote learning memberikan fakta akurat dan presisi..
Meaningful learning sebagai aplikasi konsepnya..
Sukses selalu Pak Ardan..
Jaya SMKN 10 smg..

Balas
Elmina Ita K, M.Si
Sabtu, 24 Jan 2026

Revisi ke yang lebih baik…tks ilmunya Bp

Balas
Verry Wijaya
Sabtu, 24 Jan 2026

Sudah saatnya siswa belajar bukan hanya hafalan tetapi bergeser menjadi belajar memahami dunia yg nyata dan perannya yg sebenarnya ketika terjun di masyarakat

Balas
Susanti
Sabtu, 24 Jan 2026

Dengan pembelajaran bermakna, pendidikan dapat kembali pada esensinya sebagai proses memanusiakan manusia.

Balas
Helmi Yuhdana H.
Sabtu, 24 Jan 2026

Mantaaabb’s…..

Balas
Suwarni
Sabtu, 24 Jan 2026

Pembelajaran dengan mengaitkan dengan kehidupan sehari hari memberikan pemahaman yang nyata dalam belajar siswa

Balas
Djoko saputro
Sabtu, 24 Jan 2026

Mantap , lebih baik lagi

Balas
Muslim Anwar
Sabtu, 24 Jan 2026

Pembelajaran yang sangat bermakna dan mantap

Balas
Lulus Wisnuadi Mulyawan
Sabtu, 24 Jan 2026

Kegiatan pembelajaran tidak hanya dalam sekedar mendapat materi ilmu pengetahuan saja tetapi juga memberikan pembelajaran hidup. Didalam kehidupan yang nyata pembelajaran materi ilmu pengetahuan harus seimbang juga dengan pendidikan ilmu berkehidupan bermasyarakat.

Balas
Irastuti
Sabtu, 24 Jan 2026

It’s such an inspiring knowledge for us👍

Balas
Andi Tri Cahyono
Sabtu, 24 Jan 2026

Pembelajaran yang sangat menginspirasi

Balas
SUPARMAN, S.Pd
Sabtu, 24 Jan 2026

Pembelajaran disekolah menyiapkan murid untuk meghadapai tuntutan jaman yang semakin modern dan semakin kompleks

Balas
Nasi'in Samsul Huda
Sabtu, 24 Jan 2026

Hafalan lebih cenderung pada teks book, sehingga cara untuk mengungkapkan suatu materi kalimatnya sama persis dengan apa yang ada di buku sehingga banyak siswa yang tidak memahami esensi materi pembelajaran, sedangkan belajar konsep memiliki keunggulan bebas menggunakan bahasa sendiri namun esensi materinya dapat

Balas
mungki satya
Sabtu, 24 Jan 2026

Sangat setuju dengan poin mengenai penataan ulang cara belajar ini. Di tahun 2026, tantangan terbesar kita bukan lagi akses terhadap informasi, melainkan bagaimana memfilter informasi tersebut menjadi keterampilan praktis. Pendidikan modern harus lebih fokus pada critical thinking dan adaptabilitas daripada sekadar hafalan. Terima kasih atas ulasannya yang sangat mencerahkan!

Balas
arimurti asmoro
Sabtu, 24 Jan 2026

Selain kompetensi mengajar, guru juga perlu memiliki kompetensi literasi yang dapat mendukung proses pembelajaran yang bermakna bersama murid.
Sehingga, setiap materi yang dipelajari dapat diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Terima kasih Pak Ardan.
Tuhan memberkati kita semua. Aamiin.

Balas
Nindar
Sabtu, 24 Jan 2026

Sangat inspiratif dan relevan. Pembelajaran bermakna adalah jawaban atas tantangan pendidikan modern.

Balas
Joko Suwignyo
Sabtu, 24 Jan 2026

Pemahaman dan aplikasi sangat diharapkan dan akan selalu berproses untuk melangkah kedepan dalam mencapai pendidikan yang diharapkan

Balas
ERWIN SETIAWAN
Sabtu, 24 Jan 2026

Inspiratif

Balas
SYAYAROH
Sabtu, 24 Jan 2026

Peran guru menjadi sangat krusial dalam pergeseran dari hafalan menuju pembelajaran bermakna. Guru tidak lagi sekadar penyampai informasi, tetapi fasilitator proses berpikir.

Balas
Rodhatin
Sabtu, 24 Jan 2026

Sangat menginspiratif sekali

Balas
Digna Palupi
Sabtu, 24 Jan 2026

Pembelajaran bukan sekadar hafalan. Diperlukan kompetensi Guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran bermakna, sehingga pendidikan dapat kembali pada esensinya sebagai proses memanusiakan manusia.

Balas
Imam
Sabtu, 24 Jan 2026

pengetahuan menjadi jaringan makna yang kokoh dan mudah diingat dalam jangka panjang

Balas
Dwi Palupi Widyasari, S.Pd, M.Si
Minggu, 25 Jan 2026

Alhamdulillah sangat menginspirasi …

Balas
noor achmat
Minggu, 25 Jan 2026

Pengalaman belajar dengan meaningful learning lebih baik daripada rote learning

Balas
Dian Primayanto
Minggu, 25 Jan 2026

Pergeseran dari hafalan menuju pemahaman bukan sekadar pilihan pedagogis, melainkan kebutuhan esensial untuk mempersiapkan murid menghadapi kehidupan nyata

Balas
WILER UPIK
Minggu, 25 Jan 2026

Fokus Pembelajaran bermakna adalah pemahaman dan aplikasi, bukan hanya metode namun juga jangka panjang.

Balas
Anis Indri
Minggu, 25 Jan 2026

Pembelajaran bermakna bertujuan murid memiliki pemahaman mendalam, kemampuan berpikir kritis, dan kesiapan menghadapi tantangan nyata kehidupan.

Balas
Af'idatin
Minggu, 25 Jan 2026

Luar biasa🔥

Balas
Suginah
Minggu, 25 Jan 2026

Mantaaap 👍

Balas
Suginah
Minggu, 25 Jan 2026

Luar biasa 👍

Balas
Royan Kukuh P
Minggu, 25 Jan 2026

Perkembangan zaman menuntut pula perkembangan di dunia pendidikan, tidak hanya guru, tapi juga tendiknya. Artikel yg sangat bermanfaat 👍🏻

Balas
Gesit
Minggu, 25 Jan 2026

Hafalan menghasilkan memori dangkal dan cepat hilang
Pemahaman menumbuhkan pengetahuan yang bertahan lama

Balas
Mohammad Yunan
Minggu, 25 Jan 2026

Pendidikan tidak lagi cukup berorientasi pada penguasaan materi jangka pendek, melainkan harus mempersiapkan siswa menghadapi tantangan nyata yang menuntut pemikiran kritis dan adaptif. Noted utamanya dalam mempersiapkan Life skills Murid

Balas
Ribka Tri Muryani
Minggu, 25 Jan 2026

Belajar Dengan pembelajaran bermakna, pendidikan dapat kembali pada esensinya yaitu menghidupi apa yang dipelajari

Balas
Febtiyaningsih
Minggu, 25 Jan 2026

pembelajaran yang relevan, adaptif, dan berpusat pada peserta didik menjadi kunci untuk menjawab tantangan zaman.

Balas
Nyaminah,S.Pd
Minggu, 25 Jan 2026

Pembelajaran Bermakna menjadi kunci tuntutan jaman sesuai generasi nya. Semangat 💪💪💪💪

Balas
Sofiatul Nadziyah
Minggu, 25 Jan 2026

Pembelajaran menjadi berkesan dan mudah diingat ketika ada hubungan dengan keseharian peserta didik

Balas
Mulyo S
Senin, 26 Jan 2026

Pembelajaran bermakna menekankan pemahaman, keterkaitan konsep, dan aplikasi nyata agar siswa berpikir kritis dan siap menghadapi kehidupan.
Terima kasih pak Ardan..

Balas
Andhika Wildan Krisnamurti
Senin, 26 Jan 2026

Terus belajar dan berlatih mempraktikkan pembelajaran bermakna di kelas matematika.

Balas
Miftakhurrofi'i
Senin, 26 Jan 2026

Luar biasa..
Hafalan mungkin menghasilkan memori dangkal yang cepat pudar, tetapi pemahaman menumbuhkan pengetahuan yang bertahan dan dapat digunakan. Pendidikan modern tidak lagi cukup berorientasi pada penguasaan materi jangka pendek, melainkan harus mempersiapkan siswa menghadapi tantangan nyata yang menuntut pemikiran kritis dan adaptif.

Balas

Beri Komentar