Info Sekolah
Minggu, 01 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

Ketika Ilmu Pengetahuan Menjadi Sederhana, Jujur, dan Menggembirakan

Diterbitkan :

Bagaimana seorang fisikawan membuat alam semesta terasa sederhana—dan lucu? Pertanyaan ini terasa ganjil sekaligus menggoda, karena fisika kerap identik dengan rumus rumit, simbol asing, dan penjelasan yang terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun, melalui sosok Richard Feynman, alam semesta yang tampak menakutkan itu seolah turun ke bumi, bisa diajak bicara dengan bahasa manusia, bahkan diselingi tawa. Feynman bukan hanya seorang jenius fisika, melainkan seorang seniman penjelasan yang mengubah cara kita memandang pengetahuan. Ia menunjukkan bahwa memahami bukanlah soal menghafal istilah, melainkan soal kejujuran berpikir dan keberanian menyederhanakan. Artikel ini mengajak pembaca mengenal kontribusi ilmiahnya, filosofi belajarnya, Metode Feynman, serta bagaimana pendekatan tersebut relevan dan aplikatif dalam pendidikan modern.

Richard Phillips Feynman lahir pada 11 Mei 1918 di New York dan wafat pada 15 Februari 1988. Ia dikenal sebagai fisikawan teoretis Amerika yang karismatik, eksentrik, dan kreatif. Sejak muda, Feynman memperlihatkan rasa ingin tahu yang nyaris tak terkendali, gemar membongkar radio hanya untuk memahami cara kerjanya. Kariernya melesat cepat ketika terlibat dalam Proyek Manhattan pada masa Perang Dunia II, sebuah proyek rahasia pengembangan bom atom. Di kemudian hari, namanya kembali menjadi sorotan publik ketika ia tergabung dalam komisi investigasi kecelakaan pesawat ulang-alik Challenger tahun 1986. Dalam setiap fase hidupnya, Feynman selalu tampil dengan ciri khas: menggabungkan rasa ingin tahu liar, humor segar, dan kejujuran intelektual yang nyaris brutal.

Kontribusi utama Feynman dalam ilmu pengetahuan sangatlah mendasar. Dalam bidang quantum electrodynamics atau QED, ia memainkan peran kunci dalam menjelaskan bagaimana cahaya dan materi berinteraksi. Teori ini menjadi salah satu teori paling akurat dalam sejarah sains dan mengantarkannya meraih Nobel Fisika tahun 1965 bersama Julian Schwinger dan Shin’ichirō Tomonaga. Untuk membantu fisikawan memahami interaksi partikel, Feynman memperkenalkan Feynman diagrams, sebuah bahasa visual yang elegan dan intuitif. Diagram ini kini menjadi standar dalam fisika partikel modern. Namun, kejeniusannya tidak hanya tampak di papan tulis. Saat menyelidiki tragedi Challenger, Feynman dengan sederhana merendam cincin karet O-ring ke dalam air es di hadapan publik, menunjukkan bahwa kerapuhan material itulah penyebab kegagalan. Eksperimen sederhana itu menjelaskan kompleksitas teknis dengan cara yang bisa dipahami siapa pun.

Gaya mengajar Feynman sama revolusionernya dengan risetnya. Ia berpegang pada prinsip kejujuran intelektual, rasa ingin tahu, dan pemahaman dari prinsip pertama atau first principles. Ia terkenal antijargon, menolak istilah kosong yang terdengar pintar tetapi tidak bermakna. Baginya, jika sebuah konsep tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata sendiri, maka konsep itu belum benar-benar dipahami. Dari filosofi inilah lahir apa yang kini dikenal luas sebagai Metode Feynman, sebuah pendekatan belajar yang menempatkan penjelasan sederhana sebagai ujian utama pemahaman.

Metode Feynman berangkat dari gagasan yang tampak sepele namun menantang: jika kamu benar-benar paham, kamu bisa menjelaskannya dengan sangat sederhana. Langkah pertamanya adalah memilih satu konsep dan menuliskannya di bagian atas halaman. Setelah itu, ajarkan konsep tersebut seolah-olah kepada anak berusia 12 tahun, menggunakan bahasa sehari-hari dan menjelaskan makna setiap istilah. Ketika penjelasan mulai tersendat, di situlah celah pemahaman ditemukan, dan pelajar harus kembali ke sumber belajar. Tahap terakhir adalah menyederhanakan kembali penjelasan dengan analogi dan contoh nyata. Metode ini efektif karena bersifat aktif, memaksa otak memproses informasi secara mendalam, membongkar ilusi kompetensi, dan membangun memori yang bermakna.

Dalam konteks pendidikan, Metode Feynman sangat relevan untuk diterapkan di kelas. Guru dapat mengajak siswa “mengajar” orang lain, baik teman sebangku maupun adik kelas, dengan kesederhanaan sebagai bukti pemahaman. Bahasa sehari-hari didahulukan, sementara jargon hanya digunakan jika maknanya benar-benar dipahami. Titik-titik macet ditandai sebagai bahan belajar ulang, bukan sebagai kesalahan yang memalukan. Analogi dan cerita dari kehidupan nyata membantu konsep melekat lebih lama. Tugas menulis “untuk pemula”, satu paragraf tanpa menyalin buku, melatih kejujuran berpikir. Yang terpenting, kelas perlu menjadi ruang aman untuk mengatakan “saya belum tahu”.

Sebagai contoh, menjelaskan konsep atom ala Feynman dalam pelajaran kimia dapat dimulai dengan gambaran sederhana bahwa atom adalah “balok LEGO” terkecil yang masih memiliki sifat suatu unsur. Atom tersusun atas inti yang berisi proton dan neutron, dengan elektron yang bergerak di sekitarnya. Analogi taman bermain dapat digunakan: inti sebagai tiang pancang, elektron sebagai anak-anak yang berlari, dan keseimbangan muatan sebagai “ketenangan taman”. Pertanyaan seperti mengapa elektron tidak jatuh ke inti atau apa perbedaan atom dan molekul menjadi pemicu untuk belajar lebih lanjut. Hasil akhirnya adalah definisi singkat yang dapat dipahami pemula dan menjadi pijakan menuju konsep yang lebih kompleks.

Feynman pernah berkata, “If you can’t explain it to a six-year-old, you don’t understand it yourself.” (Jika kamu tidak bisa menjelaskannya kepada anak berusia enam tahun, berarti kamu sendiri belum memahaminya). Sejalan dengan itu, Aristoteles jauh sebelumnya menyatakan, “Those who know, do. Those who understand, teach.” (Mereka yang tahu, melakukan. Mereka yang memahami, mengajar). Dua kutipan ini bertemu dalam satu pesan yang sama: memahami berarti mampu menjelaskan. Warisan terbesar Richard Feynman bukan hanya teori fisika, melainkan cara berpikir yang jujur, sederhana, dan penuh rasa ingin tahu. Ia mengajarkan bahwa membuat hal rumit terasa sederhana bukanlah merendahkan ilmu, melainkan memuliakannya, dan itulah keterampilan belajar seumur hidup yang paling berharga.

Penulis : Ardan Sirodjuddin, M.Pd, Kepala SMK Negeri 10 Semarang
Artikel ini memiliki

60 Komentar

Ifa Ludfiah
Jumat, 19 Des 2025

Inspiratif coach

Balas
Joko Suwignyo
Jumat, 19 Des 2025

Mereka yang tahu, melakukan.
Mereka yang memahami, mengajar
Itulah makna sesungguhnya dalam warisan kejujuran

Balas
Anton Gunawan
Jumat, 19 Des 2025

Luar biasa

Balas
Aprilia Dwi Asriani
Jumat, 19 Des 2025

Saat ilmu disampaikan dengan kejujuran dan kesederhanaan, belajar tak lagi menjadi beban, melainkan kegembiraan.

Balas
Andhen Priyono
Jumat, 19 Des 2025

membuat hal rumit terasa sederhana bukanlah merendahkan ilmu, melainkan memuliakannya, dan itulah keterampilan belajar seumur hidup yang paling berharga.

Balas
SUPARMAN, S.Pd
Jumat, 19 Des 2025

Semangat berbagi kebaikan dan ilmu🙏🤲💯

Balas
Imam
Jumat, 19 Des 2025

Terbaik

Balas
Ferdi
Jumat, 19 Des 2025

Memudahkan hal yg mudah, dan tidak mempersulit hal yg sulit, adalah bentuk memuliakan ilmu

Balas
Kholifah Martha
Jumat, 19 Des 2025

Menginspirasi

Balas
arimurti asmoro
Jumat, 19 Des 2025

Pengetahuan yang disertai pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, menjadi proses pembelajaran yang menyenangkan dan mencapai tujuannya.
Karena, nilai sebuah pembelajaran bukan sekedar nilai angka atau huruf di atas kertas, namun juga implementasi yang sederhana dan realistis yang memiliki makna.
Terima kasih Pak Ardan.
Tuhan memberkati kita semua.

Balas
Landung Jati Ismoyo
Jumat, 19 Des 2025

Sudah seharusnya seperti ini tujuan pendidikan ,mendidik siswa untuk jujur & benar dalam setiap malewati proses² selama belajar .bukan tujuannya hanya sekedar angka² /huruf tertulis di kertas .
Semoga bermanfaat untuk semuanya

Balas
Anis Indri
Jumat, 19 Des 2025

Ilmu pengetahuan akan benar-benar bermakna ketika dipahami dengan jujur, dijelaskan secara sederhana, dan diajarkan dengan kegembiraan, sebagaimana diwariskan Richard Feynman melalui cara berpikir, belajar, dan mengajar yang memanusiakan ilmu.

Balas
Mulyo S
Jumat, 19 Des 2025

Ilmu bukan soal hafalan, tetapi kejujuran berpikir,kereennn….

Balas
Nasi'in Samsul Huda
Jumat, 19 Des 2025

Metode Feynman selaras dengan deep learning, yang mana pembelajaran lebih bermakna, membuat sederhana hal yang rumit dan belajar konsep untuk menjawab hal yang kompleks

Balas
SYAYAROH
Jumat, 19 Des 2025

Mengajarkan membuat hal rumit terasa sederhana bukanlah merendahkan ilmu, melainkan memuliakannya, dan itulah keterampilan belajar seumur hidup yang paling berharga

Balas
Agus
Jumat, 19 Des 2025

Hebat

Balas
Suwarni
Jumat, 19 Des 2025

Semakin menjadi yang terbaik 👍

Balas
Dwi Palupi Widyasari, S.Pd, M.Si
Jumat, 19 Des 2025

Alhamdulillah.. sangat menginsiprasi

Balas
Rodhatin
Jumat, 19 Des 2025

Alkamdulillah, berbagi kebaikan

Balas
noor achmat
Jumat, 19 Des 2025

Terima kasih tambah ilmu

Balas
Yati
Jumat, 19 Des 2025

Alhamdulillah 👍👍👍

Balas
Djoko saputro
Jumat, 19 Des 2025

Inspiratif dan inovatif

Balas
Mungki Satya
Jumat, 19 Des 2025

Artikel yang sangat mencerahkan! Saya sangat setuju dengan poin bahwa ilmu pengetahuan tidak seharusnya terlihat ‘menakutkan’ atau eksklusif. Pendekatan yang jujur dan menyenangkan justru akan merangkul lebih banyak orang untuk berani bereksplorasi. Gaya bahasanya ringan namun tetap berisi. Terima kasih sudah membagikan perspektif yang menyegarkan ini!

Balas
Dra.Warni
Jumat, 19 Des 2025

Metode Fenyman semoga dpt membantu guru dalam proses pembelajaran, dan relevan mengajar guru.dpt mengajak siswa utk mengajar orang lain.

Balas
Septiyo Ariyanto
Jumat, 19 Des 2025

pendekatan belajar yang menekankan kemampuan menjelaskan konsep secara sederhana sebagai bukti pemahaman sejati

Balas
verry wijaya
Jumat, 19 Des 2025

segala yang mengandung ilmu adalah mulia dan ilmu akan selalu kekal maka janganlah memandang rendah apa yg pernah disampaikan seseorang tentang ilmu

Balas
Dian Primayanto
Jumat, 19 Des 2025

Maju terus SMK 10…

Balas
Soedjatmiko
Jumat, 19 Des 2025

Alhamdulillah… Inspiratif

Balas
Soedjatmiko
Jumat, 19 Des 2025

Alhamdulillah…..maju terus SMK N 10 Semarang.

Balas
Susanti
Jumat, 19 Des 2025

Setuju! Bila kita betul-betul memahami akan suatu hal, maka seharusnya hal tersebut dapat dijelaskan dengan sederhana dan mudah untuk dipahami orang lain, khususnya murid-murid yang kita ajar.

Balas
Tutik
Jumat, 19 Des 2025

Alhamdulillah luar biasa, maju terus SMK N 10 Semarang.

Balas
Miftakhurrofi'i
Jumat, 19 Des 2025

Alhamdulillah..
SMK N 10 Semarang makin maju..

Balas
Muslim Anwar
Jumat, 19 Des 2025

Alhamdulillah, semoga berkah dan bermanfaat.

Balas
Beny Legowo, S.Sos.I, S.Pd
Jumat, 19 Des 2025

Sangat menginspirasi semoga bisa bermanfaat bagi semua

Balas
Af'idatin
Jumat, 19 Des 2025

Luar biasa🔥🔥🔥

Balas
Suginah
Jumat, 19 Des 2025

Luar biasa 👍👍

Balas
Digna Palupi
Jumat, 19 Des 2025

Membuat hal rumit terasa sederhana bukanlah merendahkan ilmu, melainkan memuliakannya, itulah keterampilan belajar seumur hidup yang paling berharga. Terima kasih Pak Ardan, sudah berbagi ilmu.

Balas
Mohammad Suparjo
Jumat, 19 Des 2025

Metode Feynman berangkat dari gagasan yang tampak sepele namun menantang: jika kamu benar-benar paham, kamu bisa menjelaskannya dengan sangat sederhana…… dan menyenangkan 👍👍👍❤️

Balas
Yusuf Trisnawan, S.Pd.
Jumat, 19 Des 2025

Feynman pernah berkata, “If you can’t explain it to a six-year-old, you don’t understand it yourself.”

Balas
Gesit
Jumat, 19 Des 2025

Rasa ingin tahu pada hal – hal positif. Menarik dan menginspirasi !!!

Balas
WILER UPIK
Jumat, 19 Des 2025

Mantaab. Memahami bukanlah soal menghafal istilah, melainkan soal kejujuran berpikir dan keberanian menyederhanakan

Balas
Dwi W
Jumat, 19 Des 2025

Alhamdulillah

Balas
Nindar
Jumat, 19 Des 2025

Menginspirasi

Balas
Kuslimanto
Jumat, 19 Des 2025

Metode Fenyman semoga dpt membantu guru dalam proses pembelajaran, dan relevan mengajar guru.dpt mengajak siswa utk mengajar orang lain.

Balas
Antar
Jumat, 19 Des 2025

“If you can’t explain it to a six-year-old, you don’t understand it yourself.” (Jika kamu tidak bisa menjelaskannya kepada anak berusia enam tahun, berarti kamu sendiri belum memahaminya

Balas
Suhermawan, S.Pd.
Jumat, 19 Des 2025

Feynman tepat memberikan pencerahan, di saat sebagian guru kalut dengan kerumitan pendidikan, maka sederhanakan untuk mengurangi beban. Dengan berfikir sederhana, akan ditemukan inti dari pelajaran dan mudah dikembangkan sesuai kebutuhan.

Balas
Irastuti
Jumat, 19 Des 2025

Apik tenan👍
So, dont make it complicated if you can make it more simple…

Balas
Helmi Yuhdana H., S.Pd., M.M.
Jumat, 19 Des 2025

Mantaaabb’s

Balas
Dini Riyani
Jumat, 19 Des 2025

Menginspirasi untuk selalu mengajarkan hal yang benar2 bermakna untuk murid. Tidak sekadar pintar tanpa makna, tapi mengetahui makna apa yang dipelajari.

Balas
Febtiyaningsih
Jumat, 19 Des 2025

Ketika ilmu disampaikan dengan ketulusan dan kesederhanaan, maka pembelajaran akan lebih bermakna dan mampu membentuk manusia yang berpikir kritis sekaligus berkarakter.

Balas
Nyaminah, S.Pd
Jumat, 19 Des 2025

Menginspirasi
.luar Biasa sekali jika benar dijalan kan makan pembelajaran jadi lebih bermakna dan berkarakter 👍👍👍👍👍

.

Balas
Janto
Jumat, 19 Des 2025

Ilmu pengetahuan akan lebih bermakna dibila disampaikan dengan cara yang sederhana sehingga mudah dipahami, jujur sehingga membangun kepercayaan, dan menggembirakan sehingga menumbuhkan semangat belajar. Pengetahuan tidak hanya menjadi kumpulan teori, tetapi hadir sebagai pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, membebaskan dari rasa takut, serta menumbuhkan rasa ingin tahu. Dengan pendekatan ini, proses belajar berubah menjadi ruang yang hangat, penuh integritas, dan memberi kebahagiaan, sehingga ilmu benar-benar menjadi sarana pertumbuhan pribadi maupun komunitas.

Balas
Hesti
Jumat, 19 Des 2025

Memahami berarti mampu menjelaskan dengan cara berpikir yang jujur, sederhana, dan penuh rasa ingin tahu, mengajarkan bahwa membuat hal rumit akan terasa sederhana

Balas
Hesti S
Jumat, 19 Des 2025

Memahami berarti mampu menjelaskan dengan cara berpikir yang jujur, sederhana, dan penuh rasa ingin tahu, ini mengajarkan kita bahwa membuat hal rumit akan terasa sederhana

Balas
Harry
Jumat, 19 Des 2025

Pembelajaran bermakna lahir dari rasa ingin tahu, kejujuran intelektual, dan keberanian guru untuk membuat ilmu terasa dekat serta menyenangkan bagi murid.

Balas
Slamet Adi
Jumat, 19 Des 2025

Singkat kata…. makna yang didapat Guru sebagai fasilitator berpikir, bukan sekadar pemberi jawaban

Balas
Andi Tri Cahyono
Jumat, 19 Des 2025

Alhamdulillah mantap

Balas
Andi Tri Cahyono
Jumat, 19 Des 2025

Alhamdulillah, sangat luarbiasa

Balas
Mitap
Jumat, 19 Des 2025

Sangat sangat menginspirasi 🥳

Balas
Johan
Sabtu, 20 Des 2025

Hidup adalah ilmu, Kemuliaan adalah dengan ilmu.. literasi memberi manfaat dan menginspirasi.. 🙏

Balas

Beri Komentar