Info Sekolah
Minggu, 01 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

Pendekatan Pembelajaran yang Memuliakan Murid Pada Mata Pelajaran Dasar-dasar Teknik Konstruksi Kapal

Diterbitkan :

Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan merupakan fondasi penting dalam mencetak generasi muda yang tidak hanya terampil dalam aspek teknis, tetapi juga matang dalam karakter, etika, serta kesadaran diri sebagai insan yang berperan dalam kehidupan sosial dan dunia kerja. Pada dasarnya, pembelajaran di SMK bukan sekadar orientasi terhadap pencapaian keterampilan hard skill, melainkan upaya mengembangkan keutuhan kemanusiaan melalui pembentukan sikap profesional, empati, kebijaksanaan, dan kepribadian yang kuat. Dalam konteks tersebut, muncul sebuah paradigma baru yang dikenal sebagai pendekatan pembelajaran yang memuliakan murid, yaitu pendekatan yang menempatkan murid bukan sebagai objek yang harus diisi pengetahuan, tetapi sebagai subjek pembelajar yang memiliki potensi unik, pikiran yang terus berkembang, serta hati yang layak disentuh dengan empati, penghormatan, dan pengakuan. Pendekatan ini menekankan pentingnya menciptakan suasana belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui keterpaduan empat aspek kemanusiaan: olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga. Dalam penerapannya pada pembelajaran Dasar-Dasar Teknik Konstruksi Kapal, guru tidak hanya membangun kompetensi teknis tetapi juga menanamkan karakter maritim yang tangguh, profesional, dan berjiwa kemanusiaan.

Pendekatan memuliakan murid berakar pada pandangan humanistik dan spiritual yang mengakui bahwa setiap murid merupakan individu dengan martabat yang sama, memiliki potensi, dan layak dihargai keberadaannya. Guru dalam pendekatan ini berperan sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing yang mengarahkan murid untuk menemukan makna di balik setiap proses pembelajaran. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya pusat informasi, tetapi menjadi pencipta ruang belajar yang terbuka, inklusif, dan menghargai keberagaman cara berpikir serta kecepatan belajar murid. Pendekatan ini tidak hanya berbicara mengenai isi atau materi yang dipelajari, tetapi juga memperhatikan bagaimana murid belajar, bagaimana mereka merespons pembelajaran, dan bagaimana pengalaman itu memengaruhi cara mereka memaknai kehidupan. Melalui proses pembelajaran yang berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan, guru mengintegrasikan empat dimensi pengembangan diri murid, yaitu penguatan olah pikir, penajaman olah hati, pengasahan olah rasa, dan pembentukan olah raga secara holistik.

Dalam penerapan suasana belajar yang berkesadaran, guru dapat memulai pembelajaran dengan sebuah refleksi singkat bersama murid. Sebelum praktik menggambar konstruksi kapal, misalnya, guru mengajak murid merenungkan pertanyaan mendasar seperti, “Mengapa manusia membuat kapal? Nilai apa yang terkandung dalam setiap rancangan kapal?” Pertanyaan sederhana namun reflektif ini membuka ruang kesadaran bahwa pengetahuan teknik tidak pernah berdiri sendiri, tetapi selalu berkelindan dengan nilai-nilai kemanusiaan, tanggung jawab moral, dan kebutuhan peradaban manusia. Dengan memahami makna di balik kegiatan teknis, murid tidak hanya belajar how to tetapi juga memahami why, dan dari situ tumbuh kesadaran diri bahwa apa yang mereka pelajari memiliki nilai dan tujuan yang lebih besar.

Pembelajaran bermakna kemudian diperkuat melalui pengalaman nyata yang relevan dengan dunia industri, misalnya dengan menerapkan model Project-Based Learning (PjBL) dalam proyek sederhana merancang model lambung kapal dari bahan bekas. Setiap kelompok murid diberi kebebasan menentukan jenis kapal, bahan, maupun konsep yang ingin mereka kembangkan. Guru memberikan panduan teknis, memfasilitasi diskusi, dan membantu murid berpikir kritis ketika menghadapi hambatan dalam penyusunan struktur atau menjaga keseimbangan model kapal. Proyek ini menghadirkan pembelajaran konkret karena murid tidak hanya mendengar teori, tetapi mengolahnya dalam praktik yang menuntut kreativitas, analisis teknis, kerja sama tim, serta problem solving. Ketika murid mencoba memastikan model kapal dapat stabil di air atau menghitung keseimbangan beban, mereka merasakan langsung bagaimana ilmu teknik bekerja dalam konteks nyata. Hal ini membuat pembelajaran menjadi relevan, kontekstual, dan bermakna, sehingga murid lebih mudah memahami manfaat pengetahuan yang mereka pelajari untuk dunia kerja bidang perkapalan.

Suasana gembira juga menjadi elemen penting dalam pendekatan pembelajaran yang memuliakan murid. Guru dapat memberikan apresiasi bukan hanya terhadap hasil akhir, tetapi juga terhadap proses, usaha, ketekunan, dan kerja keras murid. Dalam proses pembelajaran, guru dapat menyelingi kegiatan dengan permainan edukatif bertema konstruksi kapal, seperti kuis interaktif mengenai jenis-jenis kapal tradisional Indonesia atau tantangan cepat mengenali komponen dasar konstruksi kapal. Selain itu, humor yang positif, empati yang tulus, dan interaksi emosional yang membangun memperkaya suasana kelas sehingga murid merasa dihargai keberadaannya. Kegembiraan bukan berarti pembelajaran kehilangan kedisiplinan, tetapi justru menciptakan ruang belajar yang adaptif, sehat, dan menumbuhkan motivasi intrinsik. Ketika murid merasa gembira, mereka lebih terbuka untuk belajar, berani mencoba, dan tidak takut gagal.

Pada dimensi olah pikir, guru mendorong murid untuk berpikir kritis ketika menganalisis struktur dasar kapal, menghitung titik keseimbangan, dan mencari solusi teknis terhadap permasalahan yang muncul. Murid dilatih mengembangkan logika, kreativitas, dan kemampuan berpikir sistematis. Pada dimensi olah hati, guru menanamkan nilai moral, kedisiplinan, tanggung jawab, serta rasa syukur melalui praktik langsung. Ketika murid diminta menjaga peralatan, mematuhi prosedur keselamatan, serta bertanggung jawab terhadap tugas kelompok, mereka belajar tentang integritas dan etika kerja. Pada dimensi olah rasa, murid diajak mengapresiasi keindahan dan keberagaman desain kapal di Indonesia yang mencerminkan identitas budaya bangsa. Murid juga dilatih memiliki kepekaan sosial dan empati ketika bekerja dalam tim. Sementara itu, dimensi olah raga diwujudkan dalam latihan keterampilan motorik, ketahanan fisik, dan keselamatan kerja di ruang workshop atau laboratorium praktik. Keterpaduan empat aspek ini menjadikan proses pembelajaran lebih lengkap, lebih humanis, dan lebih bermakna.

Penerapan pendekatan pembelajaran memuliakan murid dalam mata pelajaran Dasar-Dasar Teknik Konstruksi Kapal terbukti memberikan banyak dampak positif. Murid menjadi lebih aktif, bertanggung jawab, dan reflektif dalam setiap proses belajar karena mereka menyadari bahwa pembelajaran adalah perjalanan pribadi yang memberi makna. Kelas bukan lagi sekadar tempat penilaian, tetapi ruang tumbuh bersama di mana murid saling mendukung, menghargai perbedaan, dan bekerja sama dalam suasana saling percaya. Motivasi intrinsik murid meningkat karena mereka merasa dihargai, dipercaya, dan diakui potensinya. Pada saat yang sama, terbentuk pula karakter maritim yang tangguh, disiplin, serta berjiwa gotong royong yang sangat penting bagi dunia perkapalan yang penuh tantangan fisik maupun mental.

Pada akhirnya, pendekatan pembelajaran yang memuliakan murid merupakan langkah strategis dan penting dalam menghadirkan pendidikan yang utuh, berkarakter, dan berkesadaran. Dalam mata pelajaran Dasar-Dasar Teknik Konstruksi Kapal, pendekatan ini mampu mengintegrasikan aspek olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara harmonis sehingga pembelajaran tidak hanya menghasilkan lulusan yang terampil dalam menggambar, merancang, atau menganalisis struktur kapal, tetapi juga membentuk pribadi yang beriman, berakhlak mulia, cerdas, tangguh, dan siap berkontribusi bagi kemajuan dunia perkapalan. Melalui pendidikan yang memanusiakan manusia, SMK tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga menjadi ruang pembentukan generasi penerus bangsa yang berkarakter kuat, bermartabat, dan berdaya saing.

“Ciptakan Inovasi, Tebarkan Manfaat”

“SMK Negeri 10 Semarang, dari Semarang untuk Indonesia”

Penulis: Dian Primayanto, S.Pd., Guru Produktif Teknik Konstruksi Kapal Baja

Penyunting: Tim Humas dan Literasi

Artikel ini memiliki

1 Komentar

Joko Suwignyo
Senin, 10 Nov 2025

Memuliakan murid sungguh terhormat sebagai guru dalam mentransfer ilmu dalam dunia pendidikan, semangat mas Dian jangan berhenti untuk memuliakan anak didik ………. 💪💪💪

Balas

Beri Komentar