Info Sekolah
Senin, 02 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di SMK: Membentuk Warga Negara Berkualitas

Diterbitkan :

Pendidikan di Indonesia sedang menghadapi tantangan besar. Gelombang globalisasi, arus digitalisasi, hingga dinamika sosial-politik yang begitu cepat menuntut lembaga pendidikan untuk tidak hanya mencetak lulusan yang cakap secara teknis, tetapi juga memiliki karakter kuat sebagai warga negara. Dalam pusaran perubahan ini, muncul satu pertanyaan reflektif yang tidak bisa diabaikan: apakah pendidikan kita sedang benar-benar mempersiapkan masa depan bangsa, atau hanya mengulang masa lalu dengan wajah berbeda?

Jawaban dari pertanyaan tersebut sesungguhnya terletak pada Pancasila, dasar negara sekaligus ideologi bangsa. Pancasila bukan hanya lima sila yang dihafal dalam upacara, melainkan nilai luhur yang harus hidup dalam setiap denyut kehidupan berbangsa. Ki Hajar Dewantara pernah mengingatkan, pendidikan adalah upaya memerdekakan manusia lahir dan batin. Bung Karno menegaskan, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah.” Kedua pesan itu berpaut dalam Pendidikan Pancasila, yang hadir untuk menanamkan nilai moral, membentuk karakter, dan membangun kesadaran kebangsaan agar Indonesia tidak tercerabut dari akar jati dirinya.

Pendidikan Pancasila lahir dari kesadaran bahwa ideologi ini adalah fondasi utama bagi persatuan bangsa. Dalam menghadapi dinamika zaman—mulai dari pergeseran budaya, politik yang kerap bergejolak, hingga perubahan ekonomi global—Pendidikan Pancasila menjadi pilar yang menjaga identitas Indonesia tetap kokoh. Tujuannya jelas: membentuk warga negara yang memahami secara mendalam nilai-nilai Pancasila, lalu mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu sekaligus memperkuat kesadaran kebangsaan, memupuk rasa cinta tanah air, serta membentuk masyarakat yang demokratis, adil, dan beradab.

Ruang lingkup Pendidikan Pancasila meliputi banyak aspek, mulai dari pemahaman sejarah dan falsafah Pancasila, pembentukan karakter, penguatan moral dan etika, hingga sikap kebangsaan yang melekat dalam keseharian. Lebih dari itu, pendidikan ini juga menyentuh isu aktual: intoleransi, pergeseran nilai akibat digitalisasi, hingga ancaman disintegrasi. Dengan begitu, Pendidikan Pancasila bukan sekadar teori, melainkan bekal nyata agar generasi muda mampu menavigasi kompleksitas dunia modern tanpa kehilangan pijakan.

Metode pembelajaran Pendidikan Pancasila kini semakin berkembang. Ia tidak lagi hanya berupa ceramah di ruang kelas, melainkan mengadopsi pendekatan interaktif dan partisipatif. Diskusi, simulasi, studi kasus, hingga permainan peran menjadi cara agar siswa benar-benar menginternalisasi nilai. Pendekatan kontekstual juga penting: siswa diajak mengaitkan sila-sila Pancasila dengan fenomena nyata—dari isu lingkungan, praktik demokrasi, hingga dinamika sosial di media digital. Dengan demikian, siswa tidak hanya menghafal, melainkan memahami makna dan relevansinya dalam hidup.

Materi Pendidikan Pancasila mencakup beberapa hal utama. Pertama, sejarah dan falsafah Pancasila, mulai dari asal-usul hingga makna setiap sila. Kedua, penerapan nilai Pancasila dalam kehidupan sosial, politik, dan ekonomi. Ketiga, toleransi dan keragaman, yang mengajarkan pentingnya saling menghormati dalam masyarakat majemuk. Keempat, partisipasi demokratis, yakni mendorong siswa berperan aktif dalam proses demokrasi sekaligus memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara. Evaluasi pun dilakukan dengan beragam cara: tes, proyek, diskusi kelompok, hingga praktik nyata, sehingga pemahaman siswa dapat terukur bukan hanya secara kognitif, tetapi juga sikap dan perilaku.

Dampak Pendidikan Pancasila sangat mendalam. Ia membentuk generasi yang cinta tanah air, berkarakter kuat, serta teguh memegang nilai kebangsaan. Generasi seperti ini tidak hanya siap menghadapi tantangan global, tetapi juga mampu berkontribusi dalam membangun masyarakat adil, demokratis, dan berdaya saing. Pendidikan Pancasila menjadi landasan moral dan etika yang menopang identitas kebangsaan Indonesia.

Lalu bagaimana hubungan Pendidikan Pancasila dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)? SMK adalah lembaga yang fokus menyiapkan lulusan dengan keahlian teknis dan keterampilan praktis. Namun keterampilan saja tidak cukup. Seorang teknisi yang mahir tanpa etika akan kehilangan arah. Seorang profesional tanpa karakter akan mudah tergoda oleh penyimpangan. Karena itu, integrasi Pendidikan Pancasila di SMK menjadi kunci agar lulusan tidak hanya terampil, tetapi juga berintegritas.

Integrasi nilai-nilai Pancasila dalam pembelajaran di SMK dapat diwujudkan dalam banyak hal. Nilai keadilan, demokrasi, toleransi, dan gotong royong bisa menjadi ruh dalam kurikulum maupun kegiatan sehari-hari. Misalnya, kerja kelompok dalam praktik bengkel tidak hanya dimaknai sebagai tugas teknis, tetapi juga latihan gotong royong. Diskusi tentang etika kerja bukan sekadar aturan, melainkan penerapan sila kedua dan kelima: kemanusiaan yang adil dan beradab, serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan cara ini, siswa SMK dibentuk menjadi tenaga terampil sekaligus warga negara yang sadar akan nilai luhur bangsanya.

Selain itu, Pendidikan Kewarganegaraan yang terintegrasi dalam kurikulum SMK memainkan peran penting dalam menumbuhkan rasa cinta tanah air. Melalui pembelajaran ini, siswa diajak memahami hak dan kewajiban warga negara, nilai demokrasi, serta pentingnya menjaga persatuan. Dengan demikian, lulusan SMK tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga warga negara aktif yang memiliki kesadaran kebangsaan.

SMK juga menekankan profesionalisme. Di sinilah Pendidikan Pancasila memperkuat aspek karakter dan etika kerja. Siswa dibentuk agar bertanggung jawab, disiplin, jujur, dan memiliki integritas. Ketika memasuki dunia kerja yang penuh tantangan, nilai Pancasila menjadi kompas moral dalam menghadapi dilema etika. Seorang lulusan SMK yang berpegang pada Pancasila akan tahu bagaimana membuat keputusan yang benar, bekerja dengan integritas, dan menghormati keberagaman di lingkungan kerja.

Pendidikan Pancasila juga mendukung pengembangan keterampilan sosial dan kepemimpinan siswa SMK. Melalui kegiatan organisasi, ekstrakurikuler, maupun proyek kolaboratif, siswa belajar memimpin dengan integritas, bekerja dalam tim, dan berkontribusi positif dalam masyarakat. Ini semua sesuai dengan semangat Pancasila yang menempatkan manusia sebagai makhluk sosial yang hidup dalam kebersamaan.

Tujuan akhirnya jelas: membentuk profesional muda yang tidak hanya ahli dalam bidang teknis, tetapi juga memiliki karakter kuat, integritas tinggi, dan kesadaran kebangsaan. Lulusan SMK dengan fondasi Pancasila akan menjadi tenaga kerja yang tidak mudah tergoda oleh praktik curang, tidak mudah terpecah oleh perbedaan, dan mampu menjadi pemimpin masa depan yang berlandaskan nilai luhur bangsa.

Dengan demikian, Pendidikan Pancasila dan SMK bekerja dalam sinergi. Yang satu menanamkan nilai moral dan kebangsaan, yang lain membekali keterampilan teknis dan profesional. Sinergi ini melahirkan generasi Indonesia yang lengkap: terampil, berkarakter, bertanggung jawab, dan cinta tanah air. Dalam visi pendidikan nasional, inilah wujud nyata dari manusia Indonesia seutuhnya—manusia yang tidak hanya mampu bersaing di dunia global, tetapi juga teguh menjaga martabat bangsanya.

“Ciptakan Inovasi, Tebarkan Manfaat”

“SMK Negeri 10 Semarang, dari Semarang untuk Indonesia”

Penulis: Suginah, S.Pd. Guru Mapel Pendidikan Pancasila

Penyunting: Tim Humas dan Literasi

Artikel ini memiliki

35 Komentar

Dra.Warni
Kamis, 25 Sep 2025

Pendidikan pancasila membentuk karakter siswa.

Balas
Dwi Palupi Widyasari, S.Pd, M.Si
Kamis, 25 Sep 2025

Luar biasa …

Balas
Muslim Anwar
Kamis, 25 Sep 2025

Mantap dan luar biasa Bu Ginah.

Balas
Eni Supriyati
Kamis, 25 Sep 2025

Etika dan karakter sangat penting di kehidupan saat ini..

Balas
Aprilia Dwi Asriani
Kamis, 25 Sep 2025

Membentuk warga negara berkualitas dimulai dari pembelajaran Pancasila di SMK: menanamkan nilai, membangun integritas, dan melahirkan generasi yang peduli negeri

Balas
Yusuf Trisnawan
Kamis, 25 Sep 2025

Bu Ginah mantab👍

Balas
Janto
Kamis, 25 Sep 2025

Menyala 🔥

Balas
Yati
Kamis, 25 Sep 2025

Alhamdulillah 👍👍👍🙏

Balas
Antar subandana
Kamis, 25 Sep 2025

Pendidikan pancasila membentuk karakter siswa.

Balas
Kuslimanto
Kamis, 25 Sep 2025

Artikel yang bagus…
Bu Ginah memang hebattt

Balas
Imamul Huda, S.Pd.
Kamis, 25 Sep 2025

terbaik

Balas
Wildan Sugiharto
Kamis, 25 Sep 2025

Dampak mapel PKN

Balas
Selamet Pujianto
Kamis, 25 Sep 2025

Istimewa

Balas
Helmi Yuhdana H., S.Pd., M.M.
Kamis, 25 Sep 2025

Mantaaabb’s. . . .

Balas
noor achmat
Kamis, 25 Sep 2025

Bagus

Balas
Johan
Kamis, 25 Sep 2025

Literasi menginspirasi.. Smkn 10 smg jaya.. 👍

Balas
Dian Primayanto
Kamis, 25 Sep 2025

maju terus SMK 10…

Balas
Hikma Nurul Izza
Kamis, 25 Sep 2025

Luar biasa

Balas
Aris Guntoro
Kamis, 25 Sep 2025

Keren banget 😱

Balas
tutik w
Kamis, 25 Sep 2025

mantap,Istimewa bu ginah

Balas
Suwarni
Kamis, 25 Sep 2025

Siswa lebih berkarakter 👍

Balas
Suwarni
Kamis, 25 Sep 2025

Siswa lebih berkarakter, luar biasa mantab👍

Balas
Miftakhurrofi'i
Kamis, 25 Sep 2025

Alhamdulillah..
Mantabb..

Balas
Gatot Nurhadi
Kamis, 25 Sep 2025

Inspiratif

Balas
Septiyo Ariyanto
Kamis, 25 Sep 2025

Dengan pancasila SMKN 10 lebih berkualitas

Balas
DJOKO SAPUTRO
Jumat, 26 Sep 2025

Inspiratif

Balas
DJOKO SAPUTRO
Jumat, 26 Sep 2025

Inspiratif , mantap

Balas
ERWIN SETIAWAN
Jumat, 26 Sep 2025

Mantap

Balas
Kholifah Martha
Jumat, 26 Sep 2025

Keren Bu Ginah

Balas
Andhen Priyono
Jumat, 26 Sep 2025

Mantab

Balas
Andi Tri Cahyono
Jumat, 26 Sep 2025

Alhamdulillah

Balas
Af'idatin
Sabtu, 27 Sep 2025

Bu Ginah keren 🔥

Balas
Anik Yuswanti
Sabtu, 27 Sep 2025

Luar biasa

Balas
SUPARMAN, S.Pd
Minggu, 28 Sep 2025

Keren👍👍👍

Balas
SYAYAROH
Senin, 29 Sep 2025

Etika dan karakter sangat penting di kehidupan saat ini.

Balas

Beri Komentar