Info Sekolah
Senin, 02 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

Meningkatkan Self-Awareness Siswa Mengenai Kesehatan Mental Sebagai Wujud Kepedulian di Lingkungan Sekolah Negeri

Diterbitkan :

Peningkatan self-awareness tentang kesehatan mental siswa merupakan langkah fundamental dan esensial dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang holistik dan mendukung kesejahteraan peserta didik secara menyeluruh. Artikel ini membahas cara meningkatkan self-awareness siswa mengenai kesehatan mental sebagai wujud kepedulian di lingkungan sekolah negeri. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya diberikan pemahaman mengenai pentingnya kesehatan mental untuk diri sendiri namun juga memberikan cara untuk peduli terhadap keadaan orang sekitarnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan observasi dan wawancara sebagai teknik pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemahaman siswa tentang kesehatan mental masih rendah, ditandai dengan kurangnya kesadaran akan gejala awal masalah kesehatan mental dan stigma negatif terhadap pencarian bantuan profesional. Program-program yang telah dilaksanakan di sekolah, seperti seminar dan konseling individu, belum sepenuhnya efektif dalam membangun kesadaran kolektif. Peningkatan self-awareness diharapkan dapat menciptakan lingkungan sekolah yang lebih suportif dan inklusif, sehingga siswa merasa nyaman untuk berbagi dan mencari bantuan tanpa rasa takut.

Kesehatan mental merupakan aspek krusial dalam perkembangan individu, terutama pada masa remaja yang penuh dengan perubahan fisik, emosional, dan sosial. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kesehatan mental sebagai keadaan sejahtera di mana individu menyadari potensi dirinya, dapat mengatasi tekanan hidup yang normal, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi kepada komunitasnya. Di Indonesia, data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan peningkatan prevalensi masalah kesehatan mental pada kelompok usia remaja, dengan depresi dan kecemasan menjadi isu yang paling umum. Lingkungan sekolah, sebagai tempat siswa menghabiskan sebagian besar waktu mereka, memiliki peran strategis dalam membentuk dan memelihara kesehatan mental siswa. Namun, seringkali isu kesehatan mental di sekolah masih dianggap tabu dan kurang mendapatkan perhatian serius, terutama di sekolah kejuruan yang seringkali fokus pada pengembangan keterampilan teknis.

SMK Negeri 10 Semarang, sebagai salah satu institusi pendidikan kejuruan negeri yang memiliki ribuan siswa, menghadapi tantangan serupa. Observasi awal dan diskusi informal dengan siswa dan menunjukkan bahwa banyak siswa mengalami gejala gangguan kesehatan mental yang disertai kondisi fisik pada jari tangan dan bibir akibat tekanan akademik. Kurangnya pemahaman siswa tentang pentingnya kesehatan mental dan stigma negatif yang melekat pada masalah kesehatan mental juga menjadi penghalang bagi siswa untuk mencari bantuan atau berbicara terbuka tentang apa yang mereka rasakan.

Fenomena ini mendorong urgensi untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai self-awareness siswa terhadap kesehatan mental di SMK Negeri 10 Semarang. Dengan demikian, siswa diharapkan mampu mengembangkan mekanisme koping yang sehat dan proaktif dalam menjaga kesejahteraan mental mereka. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih peduli, responsif, dan memberdayakan siswa untuk mencapai potensi penuh mereka dalam setiap aspek kehidupan.

Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental seringkali baru muncul ketika siswa menghadapi tekanan atau masalah signifikan. Gejala-gejala awal gangguan kesehatan mental seringkali tidak dikenali, baik oleh siswa itu sendiri maupun oleh lingkungan sekitarnya. Misalnya, perilaku seperti menggigit kuku jari, mengelupas kulit bibir secara berlebihan, dan bentuk-bentuk self-harm ringan lainnya (seperti menggaruk kulit hingga merah atau mencabut rambut) seringkali dianggap sebagai kebiasaan buruk biasa, bukan sebagai indikator awal adanya masalah kecemasan atau tekanan emosional yang lebih dalam. Kurangnya pengetahuan ini menyebabkan siswa cenderung mengabaikan sinyal-sinyal peringatan dari tubuh dan pikiran mereka, sehingga masalah dapat memburuk sebelum mendapatkan perhatian yang semestinya.

Selain itu, stigma negatif terhadap isu kesehatan mental masih menjadi hambatan besar. Siswa sering merasa malu atau takut dicap “aneh” jika mengakui bahwa mereka sedang mengalami kesulitan mental. Hal ini diperparah dengan minimnya dialog terbuka di kalangan teman sebaya dan terkadang kurangnya kepekaan dari orang dewasa di sekitar mereka. Akibatnya, banyak siswa memilih untuk menyimpan masalah mereka sendiri, yang dapat memperburuk kondisi psikologis mereka.

Dalam upaya meningkatkan pemahaman dan self-awareness siswa, proses edukasi dan peningkatan kesadaran tentang kesehatan mental diintegrasikan di sela-sela waktu jam pelajaran Bimbingan Konseling (BK). Pendekatan ini dipilih karena jam pelajaran BK sesuatu yang familiar bagi siswa, serta dianggap sebagai ruang yang lebih personal untuk membahas isu-isu sensitif.

Peningkatan self-awareness siswa merupakan cerminan dari kepedulian lingkungan sekolah negeri terhadap kesejahteraan holistik peserta didiknya. Lebih dari sekadar intervensi di jam BK, kepedulian ini harus terwujud dalam kebijakan sekolah yang mendukung, ketersediaan sumber daya yang memadai (seperti ruang konseling yang nyaman dan privasi terjamin), serta pelatihan berkelanjutan bagi guru dan staf sekolah untuk mengenali dan merespons tanda-tanda distress pada siswa. Kerjasama dengan profesional kesehatan mental di luar sekolah juga penting untuk kasus-kasus yang memerlukan penanganan lebih lanjut.

Meningkatan self-awareness siswa mengenai kesehatan mental di SMK Negeri 10 Semarang adalah upaya krusial yang perlu terus digalakkan sebagai wujud kepedulian di lingkungan sekolah negeri. Tingkat pemahaman siswa tentang kesehatan mental saat ini masih terbatas, dengan banyak yang belum mampu mengenali gejala-gejala awal gangguan seperti menggigit kuku jari, mengelupas kulit bibir, dan bentuk self-harm ringan lainnya. Stigma negatif yang melekat pada isu kesehatan mental juga menjadi hambatan signifikan bagi siswa untuk mencari bantuan atau berbagi pengalaman mereka. Meskipun program peningkatan kesadaran telah diintegrasikan melalui jam pelajaran Bimbingan Konseling (BK), efektivitasnya masih perlu ditingkatkan. Keterbatasan waktu dan metode penyampaian yang kurang interaktif seringkali menghambat kedalaman pemahaman dan partisipasi aktif siswa.

Peningkatan self-awareness tidak hanya akan memberdayakan siswa untuk mengelola kesehatan mental mereka secara mandiri, tetapi juga akan menciptakan lingkungan sekolah yang lebih suportif, inklusif, dan bebas stigma. Dengan demikian, SMK Negeri 10 Semarang dapat menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademis dan teknis, tetapi juga memiliki kesehatan mental yang baik dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

“Ciptakan Inovasi, Tebarkan Manfaat”

“SMK Negeri 10 Semarang, dari Semarang untuk Indonesia”

Penulis : Celsa Julia, Mahasiswa Lantip 5 Unnes, Mapel Bimbingan dan Konseling

Penyunting: Tim Humas dan Literasi

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar