Jakarta — Dalam sebuah forum inspiratif bertajuk “Mandiri Energi: Ide Bisnis dan Peluang Energi Terbarukan untuk SMK,” inovator mobil listrik nasional Ricky Elson menyampaikan pesan penting kepada para kepala sekolah dan guru SMK se-Indonesia. Acara yang difasilitasi Direktorat SMK Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi ini menyoroti urgensi transformasi pendidikan vokasi menuju kemandirian energi berbasis sumber daya lokal.
Kegiatan ini berlangsung secara hybrid dan dihadiri ratusan peserta dari berbagai daerah, mulai dari Palembang hingga Bulukumba. Ricky Elson, yang dikenal sebagai “Putra Petir”, menyampaikan bahwa kunci kebangkitan teknologi nasional bukanlah menunggu fasilitas lengkap, melainkan keberanian memulai dari apa yang ada.
“Kalau kita menunggu sempurna, kita tidak akan pernah memulai. Saya membangun teknologi dari pondok ukuran 4×3 meter di Ciheras, dari kayu dan bilah sederhana, karena saya percaya mimpi harus dimulai dari tempat kita berpijak,” ungkap Ricky dengan penuh semangat.
Ricky menekankan bahwa potensi energi terbarukan di Indonesia sangat besar dan belum tergarap optimal. Ia mencontohkan, satu bilah kincir angin bisa sepanjang lapangan sepak bola, namun mayoritas komponennya masih diimpor. “Bayangkan, satu bilah panjangnya 130 meter. Tapi kita hanya bisa menonton, bilang ‘terus… terus…’ tanpa ikut ambil bagian,” sindirnya.
Menurut Ricky, peran SMK sangat strategis dalam menyiapkan tenaga terampil yang mampu mengisi kekosongan ini. Ia mendorong agar satuan pendidikan tidak hanya menyiapkan lulusan siap kerja, tetapi juga berani membentuk unit usaha energi sendiri.
“Saya ingin melihat SMK bukan hanya mengajarkan teori, tapi melahirkan generasi yang bisa membuat pembangkit listrik tenaga angin, merakit panel surya, dan menciptakan inovasi berbasis kebutuhan lokal,” ujarnya. “Dan itu semua bisa dimulai hari ini, bukan besok.”
Dalam paparannya, Ricky juga mengingatkan pentingnya mengubah pola pikir pendidikan dari menunggu arahan menjadi proaktif. Ia mengajak para pendidik untuk lebih mengapresiasi kreativitas siswa dan mendorong mereka berani bereksperimen, bahkan dari hal-hal sederhana seperti membuat mainan dari sendal jepit atau kipas dari kertas.
“Kalau dulu saya bikin ban mobil-mobilan dari sendal, sekarang saya ingin anak-anak kita bikin generator dari tembaga dan magnet. Semua berawal dari mimpi kecil yang dijaga hingga besar,” kata Ricky, yang pernah bekerja di perusahaan teknologi Jepang dan memimpin pengembangan mobil listrik Selo.
Salah satu peserta, Zulkarnain dari SMK Negeri di Palembang, mengungkapkan bahwa sekolahnya sudah mencoba menggabungkan energi matahari dan angin, namun terbentur pendanaan dan kurangnya dukungan instansi. “Kami butuh kolaborasi nyata. Potensi angin kami 7 knot, potensi matahari bisa menghasilkan 17.000 MW. Tapi belum tergarap maksimal,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Ricky menekankan pentingnya kerja sama antara sekolah, industri, dan pemerintah. Ia menyarankan agar SMK membentuk Teaching Factory yang berorientasi bisnis dan teknologi, serta tidak menunggu instruksi pusat.
“Jangan tunggu fasilitas. Ajari anak-anak kita cara membuat sendiri, beri mereka kepercayaan. Kita bukan bangsa penonton. Kita harus melompat masuk ke gelanggang peradaban ini,” tegas Ricky.
Ia juga menyampaikan pesan kuat tentang pentingnya integritas dan tanggung jawab. “Kepemimpinan bukan soal jabatan, tapi tentang kemampuan merespons. Visi besar tak lahir dari kenyamanan, tapi dari keberanian untuk mengeksekusi ide, tuntas hingga akhir,” pungkasnya.
Melalui acara ini, Direktorat SMK berharap SMK se-Indonesia tergerak untuk berinovasi, tidak hanya mengisi ruang kelas, tapi juga memimpin perubahan di sektor energi nasional. Seperti disampaikan oleh moderator, Alwin, “Kita tidak ingin hanya menatap bintang. Kita ingin menurunkan hujan agar semua bisa merasakan sejuknya perubahan.”
Penulis : Muhammad Yunan Setyawan, Ketua Pokja PK SMK Negeri 10 Semarang

Beri Komentar