SEMARANG-Festival Literasi Jawa Tengah 2025 resmi digelar oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah bekerja sama dengan dinas terkait di kabupaten dan kota. Acara tahunan ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca, menulis, serta kemampuan berpikir kritis masyarakat. Salah satu kegiatan yang menjadi sorotan adalah lomba penulisan puisi dengan dua tema utama, yakni “Ibu dan Perjuangannya” serta “Dari Jawa Tengah Menyapa Dunia.”
Kegiatan ini tidak hanya ditujukan bagi penulis atau sastrawan, melainkan juga terbuka untuk masyarakat umum, komunitas literasi, pustakawan, hingga relawan. Panitia berharap, keterlibatan beragam kalangan dapat memperkuat gerakan literasi di Jawa Tengah sekaligus menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap karya sastra. Selain itu, karya-karya puisi terpilih dari lomba ini akan dibukukan dalam sebuah antologi sebagai bentuk penghormatan terhadap sosok ibu serta pengenalan Jawa Tengah di kancah yang lebih luas.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah, melalui keterangan tertulisnya, menjelaskan bahwa festival ini bukan hanya ajang kompetisi, melainkan juga ruang apresiasi. “Kami ingin membangun ekosistem literasi yang sehat. Melalui lomba puisi, masyarakat bisa mengungkapkan rasa cinta kepada ibu, sekaligus memperkenalkan Jawa Tengah ke mata dunia lewat karya,” ujarnya.
SMK Negeri 10 Semarang menjadi salah satu sekolah yang siap berpartisipasi aktif dalam ajang ini. Pada Senin, 25 Agustus 2025, sekolah tersebut menggelar sosialisasi lomba di ruang Baita Adiguna. Sosialisasi dihadiri oleh guru, siswa, serta Tim Literasi sekolah yang dipimpin langsung oleh Wakil Kepala Bidang Pengembangan SDM. Acara berlangsung hangat dengan antusiasme tinggi dari warga sekolah.
Kepala SMK Negeri 10 Semarang, Ardan Sirodjuddin, M.Pd., dalam sambutannya memberikan motivasi kepada seluruh peserta. “Mari kita tunjukkan kepada masyarakat Jawa Tengah bahwa SMK Negeri 10 Semarang memiliki gerakan literasi sekolah yang kuat. Melalui festival ini, karya-karya kita bisa berbicara dan memberikan warna baru dalam dunia literasi,” ungkapnya penuh semangat.
Ardan menambahkan bahwa kegiatan literasi di sekolah tidak hanya sebatas membaca dan menulis, tetapi juga membangun karakter dan kreativitas siswa. Festival Literasi Jawa Tengah 2025 dinilai sebagai momentum tepat untuk menyalurkan bakat menulis, terutama dalam bentuk puisi yang sarat makna dan emosi.
Tim Literasi SMKN 10 Semarang sendiri sudah menyiapkan langkah konkret. Mereka akan menghimpun karya dari seluruh warga sekolah, baik siswa maupun guru, lalu melakukan kurasi terhadap karya-karya yang masuk. Proses kurasi bertujuan untuk memastikan karya yang dikirimkan tidak hanya memenuhi persyaratan teknis, tetapi juga memiliki kualitas yang layak untuk bersaing di tingkat provinsi.
Waka Pengembangan SDM SMKN 10 Semarang menegaskan bahwa keterlibatan seluruh warga sekolah adalah hal yang penting. “Literasi bukan hanya milik siswa, tetapi juga guru dan semua pihak di sekolah. Dengan kebersamaan, kita ingin menghasilkan karya yang bisa membanggakan sekolah sekaligus memberi kontribusi nyata bagi gerakan literasi Jawa Tengah,” tuturnya.
Festival Literasi Jawa Tengah 2025 dipandang strategis karena memberi ruang apresiasi sekaligus pembelajaran. Para peserta tidak hanya berkompetisi, tetapi juga belajar menyalurkan gagasan dengan bahasa yang indah. Terlebih, tema “Ibu dan Perjuangannya” dinilai sangat menyentuh karena memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengenang jasa ibu melalui kata-kata puitis. Sementara tema “Dari Jawa Tengah Menyapa Dunia” menjadi ajakan untuk memperkenalkan identitas dan kekayaan budaya Jawa Tengah ke kancah global.
Salah satu siswa SMKN 10 Semarang yang hadir dalam sosialisasi mengaku sangat termotivasi. “Saya ingin menulis puisi tentang ibu saya. Melalui lomba ini, saya bisa menyampaikan rasa terima kasih dan kebanggaan saya. Semoga karya saya bisa masuk antologi,” ucapnya.
Dengan semangat kolektif yang dibangun, partisipasi SMKN 10 Semarang dalam Festival Literasi Jawa Tengah 2025 diharapkan dapat menjadi contoh nyata bagi sekolah lain di Jawa Tengah. Lebih dari sekadar lomba, kegiatan ini adalah upaya untuk membudayakan literasi, menumbuhkan apresiasi terhadap karya sastra, serta melahirkan generasi muda yang kritis dan kreatif.
Penulis : Sofiatul Nadziyah, S.Pd, Guru IPAS SMK Negeri 10 Semarang

Beri Komentar