Semarang — Dalam upaya memperkuat budaya belajar dan meningkatkan kompetensi guru di tingkat sekolah dasar, SMK Negeri 10 Semarang berbagi materi pembelajaran mendalam (Deep Learning) dan Project Based Learning (PjBL) kepada para guru SD Purwosari 02 Kota Semarang. Kegiatan ini berlangsung pada Rabu, 7 Mei 2025, dalam bentuk In House Training (IHT) yang diselenggarakan oleh Komunitas Belajar (Kombel) SD Purwosari 02.
Dua narasumber dari SMK Negeri 10 Semarang, yaitu Muhammad Yunan Setyawan dan Ardan Sirodjuddin, hadir memberikan pemaparan secara mendalam mengenai konsep dan penerapan pembelajaran inovatif tersebut. Kegiatan ini disambut antusias oleh para guru yang hadir, dengan harapan dapat mengaplikasikan pendekatan-pendekatan baru dalam kegiatan belajar mengajar.
Ketua Komunitas Belajar SD Purwosari 02, Ary Septiadi, menyampaikan apresiasinya atas kesediaan SMK Negeri 10 Semarang yang telah berbagi pengalaman dan ilmu kepada rekan-rekan guru di sekolahnya. “Kami mengucapkan terima kasih kepada SMK Negeri 10 Semarang, khususnya kepada Bapak Yunan dan Bapak Ardan, yang telah berbagi ilmu yang sangat relevan dan bermanfaat untuk peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah kami,” ungkap Ani.
Dalam sesi pertama, Muhammad Yunan Setyawan menjelaskan secara rinci tentang konsep Pembelajaran Mendalam sebagai solusi transformasi pendidikan. Ia menyampaikan bahwa pembelajaran mendalam merupakan pendekatan yang sistemik dan terintegrasi, yang menekankan pada keterlibatan siswa secara utuh dalam pembelajaran melalui isu-isu nyata dan bermakna.
“Pendekatan ini berfokus pada pengembangan enam kompetensi global, yaitu Karakter, Kewarganegaraan, Kolaborasi, Komunikasi, Kreativitas, dan Pemikiran Kritis. Ini bukan sekadar metode, tetapi sebuah perubahan paradigma dalam dunia pendidikan,” jelas Yunan dalam presentasinya.
Ia menambahkan, pembelajaran mendalam juga dirancang agar berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. “Kami ingin menghadirkan suasana belajar yang tidak hanya mencerdaskan secara intelektual, tapi juga menyentuh hati, mengasah rasa, dan melibatkan fisik siswa,” lanjutnya.
Sesi kedua dilanjutkan oleh Ardan Sirodjuddin, yang memaparkan secara praktis mengenai Project Based Learning (PjBL). Ia menyampaikan bahwa PjBL adalah pendekatan pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif, di mana mereka belajar melalui eksplorasi dan pemecahan masalah nyata dalam bentuk proyek.
“Pendekatan ini sangat relevan untuk mengembangkan keterampilan abad 21 pada siswa, seperti berpikir kritis, kolaborasi, dan komunikasi. Tidak hanya itu, PjBL juga meningkatkan motivasi dan minat belajar karena prosesnya menyenangkan dan menantang,” ujar Ardan.
Tak hanya teori, Ardan juga menyertakan contoh lesson plan dan lembar kerja peserta didik agar guru-guru dapat langsung memahami serta menerapkannya dalam kelas masing-masing. “Kami berharap praktik ini bisa langsung diadaptasi dan dimodifikasi sesuai konteks masing-masing guru dan siswa,” tambahnya.
Plt Kepala SD Purwosari 02 Kota Semarang, Yetty Sari Hastuti menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi budaya adhocracy di sekolahnya, yakni budaya yang menekankan inovasi, fleksibilitas, dan kolaborasi dalam pengembangan sekolah. Menurutnya, IHT seperti ini mampu membangun komunitas belajar yang kuat dan meningkatkan profesionalitas guru secara berkelanjutan.
“Kegiatan ini dirancang secara matang, dengan menghadirkan narasumber yang kompeten. Tema yang diangkat pun sesuai dengan kebutuhan dan tantangan sekolah kami saat ini. Kami melihat dampaknya sangat positif, baik bagi guru maupun bagi proses pembelajaran siswa ke depan,” tuturnya.
Kolaborasi antarjenjang pendidikan seperti ini diharapkan menjadi praktik baik yang dapat terus direplikasi di sekolah lain. Dengan berbagi pengetahuan dan pengalaman, kualitas pendidikan di Kota Semarang dan Jawa Tengah secara umum dapat semakin meningkat dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Penulis : Dini Riyani, S.Pd., Guru Bahasa Indonesia.

Beri Komentar