Info Sekolah
Kamis, 21 Mei 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang mengucapkan Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan 1447 H

Sholat Dhuhur Berjamaah dan Kultum di SMK Negeri 10 Semarang, Ajakan Muhasabah Diri Melalui Pesan Imam Al-Ghazali

Diterbitkan : - Kategori : Berita

Semarang-Suasana khusyuk menyelimuti aula SMK Negeri 10 Semarang saat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) yang beragama Islam melaksanakan Sholat Dhuhur berjamaah, diikuti dengan kegiatan kuliah tujuh menit (kultum), Kamis siang, 19 Pebruari 2026. Kegiatan rutin keagamaan tersebut dipimpin oleh imam Beni Legoro dan diisi tausiah oleh Muslim Anwar yang mengangkat tema muhasabah diri berdasarkan pemikiran ulama besar Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah.

Sejak menjelang waktu Dhuhur, para peserta mulai berdatangan dan memenuhi aula sekolah. Barisan saf tersusun rapi, mencerminkan kebersamaan dan kekhidmatan dalam beribadah. Sholat berjamaah berlangsung dengan tertib di bawah kepemimpinan Beni Legoro sebagai imam. Usai salam, kegiatan dilanjutkan dengan kultum yang menjadi inti penguatan spiritual bagi para GTK.

Dalam ceramahnya, Muslim Anwar mengajak seluruh peserta untuk merenungkan klasifikasi manusia menurut Imam Al-Ghazali yang membagi manusia ke dalam tiga golongan utama. Ia menekankan bahwa pembagian tersebut bukan untuk menghakimi orang lain, melainkan sebagai cermin introspeksi diri.

“Saudaraku yang dirahmati Allah, mari kita kaji dengan hati yang bersih penjelasan Imam Al-Ghazali rahimahullah mengenai tiga golongan manusia. Ini bukan sekadar teori, melainkan cermin untuk muhasabah diri kita masing-masing,” ujarnya di hadapan jamaah.

Golongan pertama, lanjutnya, adalah manusia yang derajatnya setara dengan malaikat, yakni mereka yang senantiasa berbuat baik dan memberikan kebahagiaan kepada sesama. Orang-orang dalam golongan ini menjaga lisan, tangan, dan hati agar tidak menyakiti orang lain serta menjadi sumber manfaat bagi lingkungan.

“Mereka hidup dengan penuh ihsan, selalu memberi kedamaian, dan menjadi cahaya bagi sekitarnya. Seperti malaikat yang taat, manusia jenis ini hidup untuk memberi, bukan untuk mengambil,” kata Muslim Anwar.

Golongan kedua adalah manusia yang diibaratkan seperti benda mati. Mereka tidak melakukan keburukan, tetapi juga tidak memberikan manfaat berarti bagi orang lain. Kehidupan mereka stagnan, pasif, dan cenderung hanya menjalani rutinitas tanpa kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Golongan ini ibarat penumpang gelap dalam kehidupan. Ada, tetapi tidak memberi dampak signifikan. Padahal Rasulullah SAW bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya,” jelasnya.

Sementara itu, golongan ketiga adalah manusia yang disamakan dengan hewan buas, yakni mereka yang keberadaannya justru merugikan dan membahayakan orang lain. Menurut Muslim Anwar, manusia jenis ini mengikuti hawa nafsu tanpa kendali, dipenuhi sifat serakah, marah, dengki, dan zalim.

“Golongan ini menjadi sumber kerusakan di muka bumi. Tidak ada kebaikan yang bisa diharapkan dari mereka, bahkan dampak bahayanya sangat dikhawatirkan. Jika tidak bertaubat, mereka tidak hanya merugi di dunia, tetapi juga di akhirat,” tegasnya.

Ia menambahkan, pesan utama dari klasifikasi tersebut adalah dorongan untuk memperbaiki diri secara bertahap, dari golongan yang merugikan menuju golongan yang selamat, hingga akhirnya menjadi manusia yang penuh manfaat bagi sesama.

“Imam Al-Ghazali mengajarkan agar kita bertanya pada diri sendiri: saya termasuk golongan yang mana? Jika belum mampu menjadi yang terbaik, setidaknya jangan sampai menjadi yang merugikan,” ucapnya.

Muslim Anwar juga mengingatkan bahwa nilai manusia di sisi Allah tidak diukur dari jabatan, harta, atau status sosial, melainkan dari ketakwaan dan manfaat yang diberikan kepada orang lain. Ia menutup tausiah dengan doa agar seluruh peserta diberi ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.

“Allāhumma innī as’aluka ‘ilman nāfi’an, wa rizqan thoyyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan. Semoga Allah menempatkan kita dalam golongan manusia yang hidupnya penuh kebaikan dan menjadi rahmat bagi semesta,” tuturnya.

Salah satu jamaah mengaku kegiatan tersebut memberikan penyegaran rohani di tengah kesibukan tugas pendidikan. Ia menilai pesan yang disampaikan sangat relevan untuk membangun karakter pendidik yang tidak hanya profesional, tetapi juga berakhlak mulia.

Kegiatan Sholat Dhuhur berjamaah dan kultum ini merupakan bagian dari upaya pembinaan spiritual GTK SMK Negeri 10 Semarang agar tercipta lingkungan kerja yang religius, harmonis, dan berintegritas. Melalui kegiatan rutin tersebut, diharapkan seluruh warga sekolah dapat meningkatkan kualitas ibadah sekaligus memperkuat nilai-nilai moral dalam menjalankan tugas mendidik generasi muda.

Acara ditutup dengan doa bersama dan suasana penuh keakraban sebelum para peserta kembali melanjutkan aktivitas kerja masing-masing. Pesan muhasabah yang disampaikan diharapkan tidak berhenti di ruang aula, tetapi menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat luas.

Penulis : Nur Kholifah, Staf Humas SMK Negeri 10 Semarang

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar