SEMARANG-Suasana khidmat menyelimuti Aula SMK Negeri 10 Semarang pada Senin, 02 Maret 2026 pagi. Sejak pukul 07.30 WIB, ratusan guru, karyawan, dan siswa berkumpul untuk mengikuti kegiatan bertajuk Sholat Dhuha Berjamaah Guru, Karyawan dan Siswa SMK Negeri 10 Semarang. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembinaan karakter religius di lingkungan sekolah, sekaligus momentum memperkuat nilai kejujuran dalam menjalankan ibadah puasa.
Sholat Dhuha berjamaah tersebut dipimpin oleh Imam M. Suparjo, S. Ag. Dengan suara yang tenang dan tartil, ia mengimami seluruh jamaah yang memenuhi aula sekolah. Barisan siswa tampak rapi bersanding dengan para guru dan karyawan, mencerminkan kebersamaan dan kekompakan dalam menjalankan ibadah sunnah yang dianjurkan tersebut.
Usai sholat, acara dilanjutkan dengan kultum yang disampaikan oleh Yusuf Trisnawan, S. Pd. Dalam tausiyah singkatnya, ia mengangkat tema “Kejujuran dalam Berpuasa sebagai Fondasi Pembentukan Karakter Bertakwa”. Tema ini dipilih untuk mengingatkan seluruh warga sekolah bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sarana pendidikan ruhani yang membentuk integritas diri.
“Puasa dalam Islam bukan hanya ibadah fisik. Ia adalah proses pembentukan karakter. Allah Swt. menegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 bahwa tujuan puasa adalah agar kita menjadi pribadi yang bertakwa. Ketakwaan itu tidak mungkin terwujud tanpa kejujuran sebagai fondasinya,” ujar Yusuf di hadapan para jamaah.
Ia menjelaskan, kejujuran dalam berpuasa memiliki makna yang sangat istimewa karena ibadah ini bersifat personal dan tersembunyi. Tidak ada manusia yang benar-benar dapat memastikan apakah seseorang tetap berpuasa ketika ia sedang sendiri. “Seseorang bisa saja makan atau minum secara diam-diam tanpa diketahui orang lain. Namun orang yang benar-benar beriman tetap menjaga puasanya karena sadar bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Di situlah lahir kejujuran sejati, jujur bukan karena takut kepada manusia, tetapi karena takut kepada Allah,” tuturnya.
Menurutnya, nilai kejujuran dalam puasa tidak hanya terbatas pada menahan diri dari makan dan minum. Lebih dari itu, puasa menuntut pengendalian diri dari perbuatan yang dapat merusak pahala. Ia mengingatkan sabda Rasulullah SAW tentang orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga.
“Hal itu terjadi ketika puasa tidak disertai dengan menjaga lisan dari dusta, ghibah, dan perkataan yang menyakitkan. Puasa juga menuntut kita menjaga perilaku dari perbuatan tercela. Artinya, kita harus jujur dalam niat dan sungguh-sungguh dalam amal,” tegasnya.
Kegiatan Sholat Dhuha berjamaah ini, lanjut Yusuf, diharapkan menjadi madrasah pembentukan karakter bagi seluruh warga sekolah. Jika kejujuran terus dilatih selama Ramadan, maka akan terbentuk pribadi yang kokoh dan bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
“Orang yang jujur dalam puasanya akan terbiasa jujur dalam pekerjaan, dalam amanah, dan dalam tanggung jawab sosial. Ia sadar bahwa pengawasan Allah tidak hanya ada di bulan Ramadan, tetapi sepanjang waktu,” katanya.
Sementara itu, Imam M. Suparjo, S. Ag menyampaikan bahwa kegiatan rutin ini merupakan bagian dari upaya sekolah menanamkan nilai spiritual kepada siswa sejak dini. Ia menilai, pembiasaan ibadah secara berjamaah mampu membangun kedisiplinan dan mempererat hubungan antarwarga sekolah.
“Kami ingin membangun suasana religius yang tidak hanya seremonial, tetapi benar-benar membentuk karakter. Sholat Dhuha berjamaah ini menjadi salah satu sarana untuk menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan ketakwaan kepada para siswa,” ungkapnya.
Para siswa yang mengikuti kegiatan tersebut tampak antusias dan khusyuk. Beberapa di antaranya mengaku mendapatkan pemahaman baru mengenai makna puasa yang sesungguhnya. Salah seorang siswa kelas XI mengatakan bahwa materi kultum membuatnya lebih menyadari pentingnya menjaga sikap selama berpuasa.
“Ternyata puasa itu bukan cuma menahan lapar, tapi juga harus jaga lisan dan perilaku. Saya jadi lebih termotivasi untuk memperbaiki diri,” ujarnya singkat.
Melalui kegiatan Sholat Dhuha Berjamaah Guru, Karyawan dan Siswa SMK Negeri 10 Semarang ini, sekolah berharap nilai kejujuran yang ditanamkan tidak berhenti sebagai wacana. Puasa diharapkan benar-benar menjadi sarana transformasi diri menuju pribadi yang lebih bersih, amanah, dan bertakwa sepanjang hayat.
Dengan semangat kebersamaan yang terbangun di Aula SMK Negeri 10 Semarang pagi itu, pesan tentang pentingnya kejujuran dalam berpuasa menggema kuat. Dari kejujuran lahirlah ketakwaan, dan dari ketakwaan tumbuh akhlak mulia. Jika nilai tersebut terus dipraktikkan, maka puasa tidak lagi sekadar rutinitas tahunan, melainkan menjadi fondasi pembentukan karakter generasi yang berintegritas dan berakhlak mulia.
Penulis : Muhammad Suparjo, Guru PAI SMK Negeri 10 Semarang

Beri Komentar