Info Sekolah
Minggu, 19 Apr 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang mengucapkan Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan 1447 H

Kupas Adat di Era Digital, Talk Show “KURMA” di Masjid Agung Jateng Hadirkan Perspektif Syariat yang Mencerahkan

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG — Ratusan peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, santri, hingga masyarakat umum memadati ruang utama Masjid Agung Jawa Tengah dalam gelaran Talk Show “KURMA” (Kupasan Ramadhan Penuh Makna), Sabtu sore-28 Pebruari 2026. Acara bertema “Adat Versi Syariat Islam dalam Era Digital” ini menghadirkan Direktur Ma’had Tahfidz Baznas Jawa Tengah, Muhammad Syaifudin, sebagai pembicara utama dan dipandu oleh Ustadz Fais selaku host.

Kegiatan yang berlangsung selama bulan Ramadhan ini diikuti oleh perwakilan ROHIS–OSIS SMKN 10 Semarang, mahasiswa AKPELNI, UIN Walisongo, Universitas Wahid Hasyim, santri Ma’had Tahfidz Baznas Jateng, serta warga sekitar. Acara juga disiarkan secara langsung oleh Radio DAIS, TV MAJT, dan TVKU sehingga dapat diikuti masyarakat luas.

Dalam ceramahnya, Dr. KH. Muhammad Syaifudin menegaskan bahwa adat pada hakikatnya merupakan kearifan lokal yang telah teruji oleh waktu. Menurutnya, adat bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, melainkan sistem nilai yang membantu masyarakat menghadapi tantangan sosial dan lingkungan. “Adat adalah local wisdom, pengetahuan dan praktik hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia terbukti mampu menjaga harmoni sosial masyarakat,” ujarnya di hadapan peserta.

Ia menambahkan, Islam tidak datang untuk menghapus seluruh tradisi yang telah ada di Nusantara, melainkan menyaring dan memperbaikinya secara bertahap. “Semua adat yang terjadi di tanah air sebelum Islam datang, Islam menghargainya. Kemudian secara perlahan adat yang kurang baik diisi dengan nilai-nilai yang lebih baik,” kata Syaifudin.

Sebagai contoh, ia menyebut tradisi kejawen seperti sedekah bumi, nyadran, dan apitan yang tetap dipertahankan, namun diberi ruh tauhid dan nilai ibadah. Menurutnya, pendekatan tersebut menunjukkan fleksibilitas Islam dalam berdakwah tanpa memutus akar budaya masyarakat. “Inilah keindahan Islam di Nusantara—merangkul, bukan memukul,” tegasnya.

Lebih jauh, Syaifudin menyoroti tantangan era digital yang membuat arus budaya global masuk tanpa filter. Ia mengingatkan generasi muda agar mampu membedakan antara tradisi yang sejalan dengan syariat dan yang bertentangan. “Di era digital, kita harus punya kompas nilai. Jangan sampai kehilangan identitas karena mengikuti tren yang belum tentu sesuai dengan ajaran Islam,” tuturnya.

Host acara, Ustadz Fais, menambahkan bahwa format talk show dibuat santai agar mudah diterima berbagai kalangan, khususnya generasi muda. Acara dikemas interaktif dengan sesi tanya jawab, hiburan religi, serta jeda iklan layaknya program televisi profesional.

Salah satu peserta, Muhammad Suparjo, Guru Pendidikan Agama Islam SMKN 10 Semarang, mengaku terkesan dengan konsep acara tersebut. Ia menilai kegiatan ini sangat edukatif sekaligus menghibur bagi siswa. “Acara ini sangat bagus, sangat mengedukasi masyarakat serta menyenangkan karena seperti di televisi, ada jeda iklan dan sebagainya. Siswa kami jadi terbiasa dengan dunia entertainment sekaligus mendapatkan ilmu langsung dari pakarnya,” ujarnya.

Menurut Suparjo, kombinasi antara dakwah dan kemasan modern menjadi daya tarik tersendiri. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus digelar untuk memperkuat pemahaman keislaman generasi muda di tengah derasnya arus digitalisasi.

Talk show “KURMA” ditutup dengan buka puasa bersama yang semakin mempererat kebersamaan antara peserta, panitia, dan masyarakat. Suasana hangat Ramadhan terasa kental saat ratusan jamaah menikmati hidangan berbuka di area masjid.

Melalui kegiatan ini, panitia berharap masyarakat dapat memahami bahwa adat dan syariat bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Justru, ketika adat selaras dengan nilai Islam, keduanya dapat menjadi kekuatan untuk menjaga identitas bangsa sekaligus memperkokoh keimanan di tengah perubahan zaman.

Penulis : Sofiatul Nadziyah, Staf Kesiswaan SMK Negeri 10 Semarang
Artikel ini memiliki

1 Komentar

mohammad suparjo
Minggu, 1 Mar 2026

Mantap Belajar Seumur Hidup tiada Henti 👍👍👍🙏❤️

Balas

Beri Komentar