SEMARANG-Alhamdulillah, Senin siang, 2 Maret 2026, kegiatan Sholat Dhuhur berjamaah telah ditunaikan dengan khidmat di lingkungan sekolah. Bertindak sebagai imam, Suhermawan, S. Pd., M. Si, memimpin langsung jalannya ibadah, sementara tausiyah kultum disampaikan oleh Mulyo Subagyo, S. Pd dengan mengangkat tema “Puasa Mengajarkan Kedisiplinan, Sabar, dan Menahan Diri dengan Luar Biasa.” Kegiatan tersebut diikuti para siswa dan dewan guru sebagai bagian dari pembinaan karakter selama bulan suci Ramadhan.
Pelaksanaan sholat berjamaah berlangsung tertib dan penuh kekhusyukan. Sejak adzan berkumandang, para siswa bergegas menuju aula sekolah untuk menunaikan kewajiban. Momentum ini menjadi bagian dari pembiasaan spiritual sekaligus pendidikan karakter yang terus digalakkan pihak sekolah.
Dalam kultumnya, Mulyo Subagyo menyampaikan materi bertajuk “Ramadhan Sebagai Latihan Calon Profesional”. Ia menegaskan bahwa bulan suci Ramadhan bukan sekadar rutinitas ibadah tahunan, melainkan sarana pembentukan mental dan karakter yang sangat relevan dengan dunia kerja.
“Sebagian dari kalian nanti setelah lulus dari sekolah kita tercinta tentunya akan ada yang langsung bekerja, berwirausaha, atau melanjutkan pendidikan atau kuliah. Maka jadikan Ramadhan ini bukan hanya ibadah tahunan, tetapi latihan mental untuk dunia kerja,” ujar Mulyo di hadapan para siswa.
Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 yang menjelaskan bahwa tujuan puasa adalah membentuk pribadi bertakwa. Menurutnya, makna takwa tidak hanya sebatas rajin beribadah, tetapi juga memiliki karakter kuat dalam kehidupan sehari-hari.
“Takwa itu bukan hanya rajin ibadah, tetapi juga punya karakter kuat. Di dunia kerja, yang dicari bukan hanya orang pintar,” tegasnya.
Mulyo menjelaskan bahwa perusahaan saat ini membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki empat karakter utama, yakni disiplin, jujur, bertanggung jawab, serta mampu mengendalikan diri atau memiliki ketahanan mental yang baik. Ia menekankan bahwa seluruh karakter tersebut sejatinya telah dilatih melalui ibadah puasa.
Pada aspek kedisiplinan, ia memaparkan bahwa Ramadhan mengajarkan manajemen waktu yang ketat. “Di industri, keterlambatan bisa merugikan perusahaan. Saat Ramadhan, kita belajar bangun sahur tepat waktu, shalat tepat waktu, berbuka tepat waktu. Kalau ibadah saja bisa disiplin, masa masuk kerja atau masuk sekolah sering terlambat?” ucapnya yang disambut anggukan para siswa.
Selain disiplin, puasa juga menjadi sarana melatih kejujuran dan integritas. Menurutnya, di dunia kerja tidak setiap saat seseorang diawasi atasan. Integritas menjadi kunci utama agar seseorang tetap bekerja optimal meski tidak diawasi.
“Di tempat kerja nanti mungkin tidak selalu diawasi atasan. Integritas berarti tetap bekerja dengan baik meski tidak dilihat siapa pun. Sama seperti puasa — tidak ada yang tahu kalau kita minum diam-diam, tapi kita tidak melakukannya karena sadar Allah melihat,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya ketahanan mental. Dunia kerja, kata dia, tidak selalu berjalan mulus. Tekanan target, revisi pekerjaan, hingga komplain dari klien merupakan hal yang lumrah terjadi.
“Dunia kerja tidak selalu nyaman. Ada tekanan, target, revisi, dan komplain. Saat berpuasa, kita belajar tetap sabar meski lapar, haus, dan lelah. Ini latihan mental agar tidak mudah menyerah,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Mulyo juga memberikan pesan khusus kepada para siswa SMK yang identik dengan kesiapan kerja. Ia mengingatkan bahwa keterampilan teknis tanpa diimbangi karakter yang kuat akan mudah runtuh.
“Anak-anakku, SMK identik dengan kesiapan kerja. Tapi ingat, skill tanpa karakter akan mudah runtuh. Orang bisa pintar mengoperasikan mesin, ahli teknologi, atau mahir manajemen, tetapi tanpa kejujuran dan tanggung jawab, semuanya sia-sia,” katanya dengan nada penuh penekanan.
Ia mengajak para siswa memanfaatkan Ramadhan untuk membangun soft skill terbaik, seperti kesabaran, disiplin, tanggung jawab, dan kemampuan mengendalikan diri. Ia juga mengingatkan agar waktu luang tidak dihabiskan untuk hal yang kurang bermanfaat.
“Kurangi rebahan berlebihan, kurangi scrolling yang tidak bermanfaat. Isi waktu dengan hal produktif: membantu orang tua, membaca, memperdalam kompetensi, dan memperbanyak ibadah,” imbaunya.
Menutup kultumnya, Mulyo berharap Ramadhan kali ini benar-benar menjadi momentum transformasi diri bagi para siswa agar kelak menjadi tenaga profesional yang berakhlak mulia.
“Jadilah lulusan SMK yang bukan hanya siap kerja, tetapi juga siap dipercaya. Semoga Ramadhan ini membentuk kalian menjadi tenaga profesional yang berakhlak mulia dan sukses dunia akhirat,” pungkasnya.
Kegiatan sholat Dhuhur berjamaah dan kultum tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik dan keterampilan teknis, tetapi juga pembentukan karakter. Melalui pembiasaan ibadah dan penguatan nilai-nilai spiritual, sekolah berharap mampu melahirkan generasi yang profesional, berintegritas, dan memiliki ketahanan mental yang tangguh.
Semoga kegiatan ini benar-benar membawa manfaat untuk kita semua dan menjadikan Ramadhan sebagai momentum pembentukan pribadi yang disiplin, sabar, serta mampu menahan diri dengan luar biasa dalam setiap aspek kehidupan.
Penulis : Muhammad Suparjo, Guru PAI SMK Negeri 10 Semarang

Beri Komentar