Surakarta — Lima pendidik dari berbagai jenjang memaparkan praktik baik implementasi Pembelajaran Mendalam (PM) dalam Seminar Internasional Pendidikan yang diselenggarakan oleh BBGTK Jawa Tengah di Tjolomadu Surakarta. Seminar ini dihadiri oleh Staf Ahli Kemendikdasmen, Prof. Ali Syaukat, yang menegaskan bahwa PM merupakan jantung dari transformasi pembelajaran di Indonesia. “PM adalah ruh pembelajaran. Kita tak bisa lagi mengukur mutu pendidikan hanya dari angka partisipasi kasar. Selama masih ada fenomena ‘schooling without learning’, berarti ada yang harus dibenahi secara mendasar,” ujarnya saat memberikan keynote speech.
Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional 2025 itu menghadirkan praktik baik dari berbagai satuan pendidikan, mulai dari PAUD hingga SMA. Prof. Ali menekankan bahwa penerapan PM menjadi semakin relevan mengingat kompleksitas tantangan masa depan. “Indonesia tidak sedang berjalan ke masa depan yang sederhana, melainkan ke masa yang serbadinamis, penuh ketidakpastian, dan dipengaruhi perkembangan teknologi serta sains. Anak-anak harus kita siapkan agar adaptif, mandiri, dan berkarakter kuat,” jelasnya.
Menurutnya, terdapat sejumlah latar belakang yang membuat Pembelajaran Mendalam harus menjadi arus utama di sekolah. Mulai dari krisis pembelajaran—yang tampak dari rendahnya hasil PISA—hingga ketimpangan kualitas pendidikan antarwilayah, serta kebutuhan menghadapi bonus demografi 2035 dan Visi Indonesia Emas 2045. “Kita sudah mencoba berbagai pendekatan—CBSA, PAKEM, PAIKEM, CTL, Kurikulum Merdeka—namun sering kali implementasinya tidak sistematis. PM hadir untuk memperkuat sendi pembelajaran secara menyeluruh,” katanya.
Prof. Ali juga menyoroti pentingnya penguatan self-efikasi peserta didik. “Anak yang percaya bahwa dirinya mampu menyelesaikan tugas akan lebih ulet dan tidak mudah menyerah. Itulah inti pembelajaran mendalam: membangun kompetensi sekaligus keyakinan diri,” tegasnya.
Dalam forum itu, empat guru dan satu kepala sekolah mempresentasikan praktik baik mereka. Salah satunya Ardita Widyastuti dari TK PKH Guyangan, Pati, yang mengubah pembelajaran konvensional menjadi lebih bermakna dan kontekstual melalui siklus “Situasi–Tantangan–Aksi–Refleksi”. Ia mengungkapkan bahwa pembelajaran semula berlangsung monoton dan hanya 48,3% anak mampu menyebut huruf. Setelah intervensi berupa strategi PM, pengembangan KPM Mendalam, dan inovasi game interaktif, hasil belajar meningkat menjadi 91,7%. “Anak lebih aktif, lebih bahagia belajar, dan orangtua ikut terlibat mendampingi penggunaan game edukatif,” kata Ardita.
Praktik lain disampaikan oleh Febrian Ardiansa dari SDN 1 Tanjungrejo. Dengan mengusung tema MELKAT—Mewujudkan Pembelajaran Mendalam yang Menggembirakan dengan Teknologi Digital—ia merevolusi pembelajaran melalui PowerPoint interaktif, konversi materi ke HTML5 dengan Kipin School, hingga hosting materi di GitHub. “Teknologi bukan sekadar alat, tetapi jembatan untuk membuat pembelajaran menarik,” ujar Febrian. Hasilnya, antusiasme belajar siswa melonjak hingga 99%, dan nilai belajar meningkat dari 42,86% menjadi 76,57%.
Narasumber berikutnya, Wulan Dwi Aryani, memaparkan penerapan Model PBL yang dipadukan dengan media digital MAGIC-PAW pada mata pelajaran IPS. Media ini mencakup Mentimeter, Kahoot, Padlet, Canva, hingga Wigglyword. “IPS itu sering dianggap berat. Dengan MAGIC-PAW, siswa bisa belajar sambil bermain, sambil tetap memahami konsep secara mendalam,” tuturnya. Implementasi tersebut membuat partisipasi siswa mencapai 84,82% dan aktivitas guru dinilai “sangat baik” dengan skor 82%.
Sementara itu, Anu Muslihatin dari SMA Negeri 1 Jatisrono menampilkan praktik kemitraan antar guru PAI dan Bahasa Indonesia dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna. Kolaborasi ini menjawab masalah rendahnya keterlibatan siswa, kurangnya kepercayaan diri, serta minimnya kemampuan berpikir kritis. “Kami menemukan bahwa sinkronisasi antar guru membuat materi lebih hidup. Siswa lebih percaya diri dan mampu mengaitkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari,” jelasnya. Dampaknya, kreativitas siswa naik hingga 90%, kerja sama membaik, dan suasana kelas lebih dinamis.
Paparan terakhir datang dari Kepala SD Negeri 2 Karangnangka, yang menginisiasi komunitas belajar “Inovasi 2K” untuk menggerakkan budaya Pembelajaran Mendalam. Ia menerapkan siklus PDSA (Plan–Do–Study–Act), coaching guru, dan monitoring rutin untuk memastikan pembelajaran berjalan konsisten. “Perubahan ini menggeser pembelajaran dari teacher-centered menjadi student-centered,” jelasnya dalam presentasi tersebut.
Kepala SMK Negeri 10 Semarang, Ardan Sirodjuddin, M.Pd., yang hadir sebagai peserta, mengapresiasi seluruh praktik baik yang ditampilkan. “Aksi para narasumber sangat inspiratif dan bisa diterapkan oleh guru-guru kami di SMK Negeri 10 Semarang. Ini bukti bahwa Pembelajaran Mendalam bukan konsep abstrak, tetapi nyata, terukur, dan berdampak,” ujarnya.
Kegiatan ini menegaskan bahwa transformasi pendidikan tidak hanya bertumpu pada kebijakan, tetapi juga pada kreativitas, keberanian, dan kolaborasi para guru. Seperti disampaikan Prof. Ali Syaukat dalam penutupnya, “Pembelajaran Mendalam adalah investasi jangka panjang. Kita sedang menyiapkan generasi 2045, bukan sekadar mengejar nilai hari ini.”
Penulis : Muhammad Yunan Setyawan, Waka Humas SMK Negeri 10 Semarang.

Proses pembelajaran yang berpihak pada potensi murid seiring dengan perkembangan zaman, menjadi tantangan setiap guru yang menuntun murid pada kodratnya.
Terima kasih Pak Ardan.
Berharap praktik² baik tersebut bisa disaksikan guru-guru yang tidak mengikuti acara tersebut, sehingga bisa lebih memberikan gambaran nyata pada guru.
Beri Komentar