Info Sekolah
Minggu, 26 Apr 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang mengucapkan Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan 1447 H

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti Blak-blakan di KompasTV

Diterbitkan : - Kategori : Berita

Jakarta – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti tampil dalam program Rosi di KompasTV dan memberikan penjelasan terbuka atas berbagai keresahan masyarakat terkait dunia pendidikan di Indonesia. Kepada pembawa acara Rosianna Silalahi, Prof. Abdul Mu’ti memaparkan secara lugas tentang arah kebijakan pendidikan yang diusungnya. Salah satu isu utama yang dijawab adalah anggapan bahwa setiap pergantian menteri akan selalu diiringi perubahan kebijakan yang drastis.

Menjawab kekhawatiran tersebut, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa tidak semua kebijakan yang ada akan diubah. Ia mengutip prinsip fikih, al-mukhafadzatu ‘ala al-qadim al-shalih wa al-‘amalu bi al-jadid al-aslah, yang berarti mempertahankan yang lama yang baik dan mengadopsi yang baru yang lebih baik. Menurutnya, yang diterapkan bukan changing melainkan shifting, yakni penyesuaian dan penyempurnaan kebijakan tanpa meninggalkan hal-hal yang sudah terbukti bermanfaat.

Salah satu pendekatan baru yang disorot adalah deep learning atau pembelajaran mendalam. Ini bukan pergantian kurikulum, melainkan pergeseran cara pandang terhadap proses belajar. Proses ini lebih menekankan pada pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi, penguasaan konsep secara menyeluruh, serta keterlibatan aktif siswa dalam pembelajaran. Mu’ti menyebut bahwa pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada angka dan ujian, melainkan harus menyentuh aspek karakter dan pengalaman belajar.

Salah satu perubahan signifikan adalah dihapusnya Ujian Nasional. Sebagai gantinya, pemerintah menyediakan Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang sifatnya tidak wajib dan lebih digunakan sebagai alat ukur kemampuan individu, bukan penentu kelulusan. Sekolah memiliki wewenang lebih besar untuk menentukan kelulusan melalui penilaian holistik, termasuk nilai karakter, soft skills, serta partisipasi siswa dalam kehidupan sosial.

Dalam kebijakan baru, Abdul Mu’ti juga menekankan pentingnya growth mindset, yakni keyakinan bahwa kemampuan dapat terus berkembang melalui usaha. Siswa dinilai bukan hanya berdasarkan hasil, tetapi juga dari kemauan untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Dengan pendekatan ini, pendidikan tidak lagi memvonis siswa dengan angka mati, tetapi membuka ruang bagi pertumbuhan yang berkelanjutan.

Terkait kurikulum, Menteri Mu’ti menjelaskan bahwa Kurikulum 2013 (K13) dan Kurikulum Merdeka tetap dijalankan berdampingan. Keduanya bisa digunakan sesuai kondisi sekolah, dan pendekatan deep learning bisa diterapkan di kedua model tersebut. Ia juga menegaskan bahwa prestasi non-akademik kini mendapatkan tempat dalam sistem seleksi pendidikan lanjutan. Nilai kepemimpinan, keaktifan dalam organisasi, serta kemampuan seni dan olahraga diakui sebagai bagian dari potensi siswa.

Salah satu perubahan penting lainnya adalah fleksibilitas dalam sistem PPDB. Sistem zonasi kini diperhalus menjadi sistem domisili yang lebih fleksibel. Anak bisa diterima di sekolah yang geografisnya dekat, meskipun secara administratif berada di wilayah berbeda. Hal ini diharapkan memudahkan siswa dan mengurangi ketimpangan akses pendidikan.

Abdul Mu’ti juga menggarisbawahi pentingnya penguatan peran guru. Guru kini tidak lagi diwajibkan mengajar 24 jam tatap muka, melainkan melaksanakan 24 jam tugas profesional yang lebih beragam seperti pembimbingan siswa, pelatihan guru lain, atau kegiatan sosial kemasyarakatan. Beban administrasi guru dikurangi agar mereka bisa lebih fokus menjadi fasilitator pembelajaran.

Ia juga menyoroti urgensi revitalisasi sekolah-sekolah yang selama ini dianggap tertinggal. Fokus pemerintah adalah meningkatkan kualitas lembaga pendidikan yang masih lemah melalui pelatihan guru, penyediaan sarana, dan pembangunan ruang belajar cerdas. Selain itu, digitalisasi pendidikan didorong dengan tetap menjaga keseimbangan. Anak usia dasar tetap diajarkan menulis tangan dan membaca buku agar perkembangan motorik dan literasi dasar tidak terabaikan.

Mengenai program study tour yang sempat menjadi polemik, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa kegiatan itu tidak dilarang. Namun, regulasi akan diperkuat agar pelaksanaannya aman dan bermakna. Kerja sama dengan agen travel profesional dan pengawasan yang ketat menjadi syarat utama.

Mu’ti juga menekankan pentingnya integrasi sosial dalam pendidikan. Sekolah harus menjadi tempat pertemuan lintas budaya dan latar belakang sosial, sekaligus menanamkan kecintaan terhadap lingkungan dan budaya lokal. Dalam hal peningkatan mutu guru, program pelatihan kompetensi, sertifikasi, serta pemenuhan kualifikasi tetap berlanjut sebagai prioritas.

Pemerintah, kata Abdul Mu’ti, juga mulai membangun sinergi lintas kementerian. Misalnya, kerja sama dengan Kementerian Perhubungan untuk pelatihan siswa SMK kelautan atau pelibatan Balai Latihan Kerja untuk pelatihan vokasi.

Menutup wawancara, Abdul Mu’ti menegaskan visi utama kementeriannya: “Pendidikan bermutu untuk semua.” Ia menekankan bahwa pendidikan tidak boleh hanya mengutamakan angka, ujian, dan ijazah, melainkan harus memanusiakan manusia. Setiap anak, tambahnya, berhak memiliki ruang untuk tumbuh sesuai potensi masing-masing, dalam sistem pendidikan yang inklusif, fleksibel, dan penuh makna.

Video lengkap bisa diakses disini :

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar