JAKARTA – Peningkatan mutu pendidikan vokasi terus menjadi fokus pemerintah dalam menghadapi tantangan global. Salah satu langkah nyata diwujudkan melalui kegiatan Koordinasi Mutu SMK untuk Penguatan Akses Kebekerjaan Luar Negeri Tahun 2025, yang digelar secara daring pada Kamis–Sabtu, 18–20 September 2025. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Subdirektorat Mitras DUDI, Direktorat SMK, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Kemendikdasmen ini menjadi wadah penting bagi kepala sekolah, guru, pengawas, hingga pemangku kepentingan SMK untuk menyamakan visi dalam menyiapkan lulusan yang tidak hanya terserap di dalam negeri, tetapi juga mampu berkompetisi di pasar kerja internasional.
Kegiatan berlangsung interaktif, menghadirkan narasumber nasional seperti Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., serta Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus, Dr. Tatang Muttaqin, S.Sos., M.Ed., Ph.D. Keduanya menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, pemerintah, dan dunia usaha industri untuk membuka akses kebekerjaan di luar negeri bagi lulusan vokasi.
Dalam pemaparannya, Prof. Abdul Mu’ti menegaskan bahwa peningkatan kualitas lulusan SMK harus menjadi prioritas. “Indonesia memiliki bonus demografi yang luar biasa. Jika lulusan SMK dibekali kompetensi yang sesuai dengan standar global, mereka tidak hanya siap bekerja di dalam negeri, tetapi juga bisa bersaing di pasar kerja internasional,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Tatang Muttaqin menyoroti perlunya strategi sistematis agar lulusan SMK lebih terhubung dengan peluang global. “Kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri, baik di dalam maupun luar negeri, adalah kunci. Melalui jejaring inilah, kompetensi siswa bisa benar-benar relevan dengan kebutuhan kerja,” tegasnya.
Materi pada hari pertama menyoroti peluang besar lulusan SMK untuk menjadi tenaga kerja profesional global. Para narasumber menegaskan bahwa kompetensi yang dimiliki lulusan harus benar-benar sesuai dengan bidang yang dibutuhkan di negara tujuan. “Saat ini banyak negara yang membutuhkan tenaga kerja vokasi, mulai dari sektor manufaktur, teknologi, hingga perawatan kesehatan. Lulusan SMK Indonesia memiliki potensi besar, asalkan dibekali keterampilan yang relevan dengan standar internasional,” ungkap Prof. Abdul Mu’ti.
Selain penguasaan kompetensi teknis, kemampuan bahasa asing juga ditekankan sebagai faktor penting. Sekolah didorong untuk membekali siswanya dengan mata pelajaran bahasa pilihan sesuai negara tujuan, misalnya bahasa Jepang, Korea, Mandarin, atau Jerman. Dengan bekal bahasa yang memadai, lulusan akan lebih mudah beradaptasi dan berkomunikasi di lingkungan kerja internasional.
Hal lain yang mendapat perhatian adalah pentingnya kemitraan dengan dunia usaha dan industri (DUDIKA), baik di dalam maupun luar negeri. Kerja sama ini dipandang strategis untuk memastikan kompetensi lulusan sesuai kebutuhan nyata di lapangan. Melalui kolaborasi yang erat, sekolah bisa menyusun kurikulum yang relevan sekaligus memberikan pengalaman kerja nyata kepada siswa.
Dari kegiatan ini, muncul sejumlah harapan. Dalam jangka pendek, sekolah diharapkan mulai mengintegrasikan bahasa asing dan standar global ke dalam kurikulum. Sedangkan dalam jangka panjang, SMK ditargetkan menjadi pusat lahirnya tenaga kerja profesional yang mampu bersaing di luar negeri. Jika konsistensi ini terjaga, dampak positif yang dirasakan tidak hanya pada meningkatnya kesempatan kerja bagi siswa, tetapi juga pada kesejahteraan keluarga serta citra positif pendidikan vokasi Indonesia di mata dunia.
Para narasumber juga menekankan pentingnya strategi sistematis dalam memperluas akses informasi mengenai lowongan kerja luar negeri. Dengan akses informasi yang lebih terbuka, siswa maupun alumni SMK dapat merencanakan karier mereka lebih baik. “Jangan sampai ada jurang informasi antara dunia pendidikan dan peluang kerja. Sekolah harus proaktif menjembatani siswa dengan dunia kerja internasional,” ujar Dr. Tatang Muttaqin.
Koordinasi Mutu SMK 2025 ini menjadi momentum penting untuk menyiapkan generasi vokasi yang berdaya saing global. Dengan kompetensi unggul, penguasaan bahasa asing, dan dukungan kemitraan DUDIKA, lulusan SMK diharapkan mampu meraih peluang emas di dunia kerja internasional. “Kami optimistis, jika semua pihak bergerak bersama, lulusan SMK Indonesia tidak hanya diterima, tetapi juga diakui kualitasnya di pasar kerja dunia,” pungkas Dr. Tatang Muttaqin.
Penulis : Muhammad Yunan Setyawan, Waka Humas SMK Negeri 10 Semarang

SMK N 10 Semarang The Best ..
Beri Komentar