Semarang — Suasana khusyuk menyelimuti Aula SMK Negeri 10 Semarang pada pelaksanaan Sholat Jumat, Jumat, 20 Pebruari 2026. Jamaah memenuhi aula sejak menjelang azan. Ibadah yang berlangsung di sekolah yang berada di Jalan Kokrosono 75 Kota Semarang ini dipimpin oleh Beni Legowo yang sekaligus bertindak sebagai khatib.
Pelaksanaan Sholat Jumat di lingkungan sekolah tersebut merupakan agenda rutin sebagai sarana pembinaan spiritual warga sekolah. Tepat pukul 12.00 WIB, azan berkumandang, diikuti dengan khutbah yang sarat pesan tentang pentingnya ketakwaan dan persiapan menyambut ibadah puasa Ramadan.
Dalam khutbahnya, Beni Legowo mengajak jamaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT sebagai fondasi kehidupan seorang muslim. Ia menekankan bahwa takwa bukan sekadar ucapan, melainkan sikap batin yang tercermin dalam setiap tindakan, baik saat dilihat orang lain maupun ketika sendirian.
“Takwa bukan hanya baik di hadapan manusia, tetapi tetap lurus ketika tidak ada seorang pun yang menyaksikan. Kesadaran bahwa Allah selalu melihat dan mengetahui isi hati itulah yang menjadi inti takwa,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia menjelaskan bahwa orang bertakwa menjalankan perintah Allah dengan harapan akan rahmat-Nya sekaligus menjauhi larangan-Nya karena takut akan murka-Nya. Menurutnya, kualitas iman seseorang dapat diukur dari konsistensi ketaatan dalam kondisi apa pun.
Beni Legowo kemudian mengaitkan tema takwa dengan ibadah puasa yang akan segera datang. Ia mengutip makna Surah Al-Baqarah ayat 183 yang menegaskan bahwa puasa diwajibkan agar manusia menjadi bertakwa, sekaligus menunjukkan bahwa ibadah tersebut telah menjadi tradisi para nabi dan umat terdahulu.
“Puasa bukan ibadah baru. Ia adalah metode ilahi untuk membersihkan jiwa dari dominasi hawa nafsu dan kecenderungan duniawi,” katanya.
Menurutnya, tujuan utama puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Jika dimaknai hanya sebagai menahan makan dan minum, puasa tidak lebih dari diet fisik sementara. Puasa sejati, kata dia, adalah yang mampu melahirkan pengendalian diri dan kedekatan dengan Allah SWT.
“Ketika seseorang mampu meninggalkan yang halal di siang hari karena Allah, seharusnya ia lebih mampu meninggalkan yang haram di luar Ramadan,” tegasnya.
Dalam bagian selanjutnya, khatib memaparkan syarat wajib puasa, antara lain beragama Islam, baligh, berakal, mampu melaksanakan, berada dalam keadaan mukim, serta suci dari haid dan nifas bagi perempuan. Ia juga menyinggung adanya keringanan bagi orang sakit atau musafir untuk mengganti puasa di hari lain.
Tak hanya itu, ia menjelaskan syarat sah puasa seperti niat, kemampuan membedakan baik dan buruk (tamyiz), serta kesucian sepanjang hari. Niat disebut sebagai pembeda antara kebiasaan dan ibadah.
“Seseorang bisa saja menahan lapar, tetapi tanpa niat karena Allah, itu bukan puasa dalam pengertian syariat,” ujarnya.
Beni Legowo juga menguraikan rukun puasa yang terdiri dari niat sebelum fajar dan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Menurutnya, pengendalian diri tidak hanya terbatas pada makan dan minum, tetapi juga seluruh perilaku yang merusak nilai ibadah.
Ia mengingatkan jamaah tentang hal-hal yang dapat membatalkan puasa, seperti makan dan minum dengan sengaja, muntah yang disengaja, haid atau nifas, hilangnya akal, murtad, serta hubungan suami istri di siang hari Ramadan yang memiliki konsekuensi berat dalam syariat.
“Penjagaan terhadap kesucian puasa menunjukkan betapa agungnya ibadah ini di sisi Allah,” katanya.
Kegiatan Sholat Jumat di Aula SMK Negeri 10 Semarang ditutup dengan doa bersama agar seluruh warga sekolah diberikan kesehatan dan kesempatan untuk menjalankan ibadah puasa dengan baik. Pihak sekolah berharap kegiatan keagamaan rutin ini mampu membentuk karakter religius, disiplin, dan berakhlak mulia di kalangan siswa.
Melalui khutbah yang disampaikan, pesan tentang pentingnya takwa dan makna puasa diharapkan tidak berhenti di ruang ibadah, tetapi terwujud dalam perilaku sehari-hari. Dengan demikian, Sholat Jumat tidak hanya menjadi kewajiban mingguan, melainkan juga sarana pendidikan moral dan spiritual bagi generasi muda.
Penulis : Muhammad Yunan Setyawan, Waka Humas SMK Negeri 10 Semarang

Beri Komentar