Jakarta, 19 Agustus 2025 – Dalam suasana kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia yang penuh semangat, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Bapak Abdul Muti, secara resmi meluncurkan Gerakan Numerasi Nasional (GNN) di SD Negeri Meruya Selatan 04 Jakarta Barat. Peluncuran yang disaksikan oleh Ketua Komisi 10 DPR RI Hatifah Syaifudian, Walikota Jakarta Barat Bapak Usus Kuswanto, Deputi Bidang Pembangunan Manusia Bappenas, serta para pejabat kementerian dan undangan dari seluruh Indonesia ini bertujuan membangkitkan minat dan kemampuan numerasi anak-anak Indonesia melalui pendekatan holistik.
Gerakan Numerasi Nasional dengan slogan “Mahir Numerasi Majukan Negeri” ini menjadi jawaban atas tantangan rendahnya kemampuan numerasi siswa Indonesia yang terlihat dari skor PISA (Programme for International Student Assessment). Data rapor pendidikan menunjukkan skor rata-rata numerasi nasional masih berada pada tingkat menengah dengan kesenjangan signifikan antara daerah perkotaan dan pedesaan. “Kemampuan numerasi anak-anak kita kalau diukur dari skor PISA memang masih jauh dari harapan kita. Angka-angka itu bisa menjadi pemicu kita untuk berbuat lebih baik lagi,” ujar Menteri Muti dalam sambutannya.
Dalam arahannya, Menteri Muti menekankan pentingnya numerasi tidak hanya sebagai keterampilan berhitung, tetapi juga sebagai fondasi berpikir logis, analitis, dan kritis yang diperlukan dalam berbagai aspek kehidupan. “Numerasi tidak sekedar persoalan menghitung tapi juga persoalan logik. Seringkali kita berpendapat numerasi hanya soal disiplin ilmu tertentu, padahal dalam konteks agama sekalipun numerasi tidak dapat dilepaskan,” paparnya sambil memberikan contoh pembagian warisan dalam ajaran Islam yang memerlukan perhitungan matematis.
Gerakan Numerasi Nasional dirancang dengan pendekatan ekosistem yang melibatkan empat pilar pendidikan: sekolah, keluarga, masyarakat, dan media. Direktur Jenderal Guru Tenaga Kependidikan dan Pendidikan Guru, Prof. Nunuk Suryani, menjelaskan bahwa Kementerian telah menyiapkan berbagai program strategis untuk mendukung GNN. “Kami telah merancang pengembangan kompetensi guru mata pelajaran matematika dengan pendekatan Alur Gembira yang merupakan akronim dari Gali dan Eksplorasi, Muat Konten, Buat Aktivitas, Ikuti Pemikiran Murid, Rayakan, dan Akhiri dengan Apresiasi,” terangnya.
Selain itu, Kementerian juga telah membangun Taman Numerasi di 16 provinsi, 140 sekolah, dan 13 desa di berbagai wilayah Indonesia. Taman Numerasi ini dirancang sebagai ruang belajar yang inklusif dan menarik bagi anak-anak dan masyarakat sekitar. “Taman Numerasi hadir bawa rasa gembira dengan kolaborasi partisipasi semesta,” ujar Ibu Nunuk sambil memperagakan gerakan numerasi nasional dengan membentuk huruf ‘N’ menggunakan tangan.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komisi 10 DPR RI, Hatifah Syaifudian, menyampaikan dukungan penuh terhadap Gerakan Numerasi Nasional. “Numerasi itu bukan cuma hitung-hitungan di kelas ya anak-anakku semuanya tapi sehari-hari. Coba bayangkan apakah ada kegiatan kita yang tidak menggunakan hitung-hitungan? Kalau anak-anakku belanja pasti harus hitung ya,” ujarnya dengan semangat kepada para siswa SD yang hadir.
Hatifah juga menekankan bahwa numerasi membantu anak berpikir runut dan teratur. “Kalau kita itu menguasai numerasi, kita berpikirnya bisa runut, berpikirnya baik dengan logika ya, semuanya serba teratur, penuh perhitungan. Jadi anak-anakku kalau nanti menguasai numerasi pasti akan jadi anak yang sukses,” tambahnya.
Peluncuran Gerakan Numerasi Nasional juga diwarnai dengan berbagai kegiatan menarik yang melibatkan siswa SD Negeri Meruya Selatan 04. Para siswa mempersembahkan senam anak Indonesia hebat, tarian tradisional palang pintu, pantun numerasi, dan Mars Gerakan Numerasi Nasional yang dinyanyikan secara khusus untuk acara ini. Acara yang berlangsung meskipun dalam hujan deras ini juga menampilkan video testimoni dari berbagai daerah, termasuk dari Bupati Sumedang Doni Ahmad Munir yang menyatakan, “Saya merasa sangat bangga dan mendukung gerakan numerasi nasional karena numerasi adalah pondasi utama untuk masa depan bangsa.”
Menteri Muti juga mengungkapkan inisiatif-inisiatif kreatif untuk mendukung GNN, termasuk pengembangan Bincang Numerasi sebagai stimulus bagi guru, kepala sekolah, orang tua dan masyarakat dalam menumbuhkan budaya numerasi. Selain itu, Kementerian telah merancang strategi komunikasi terpadu dengan kampanye di media massa dan sosial media melalui inisiatif “Jumat Numerasi”. “Kami juga di kementerian sudah meluncurkan album kicau yang dengan album kicau itu juga ada lagu-lagu anak-anak yang di dalamnya ada unsur numerasi,” jelas Menteri Muti.
Dalam prosesi peluncuran yang penuh semangat, Menteri Muti bersama Ketua Komisi 10 DPR RI dan Dirjen GTK menekan tombol bersama sambil dihitung mundur oleh seluruh peserta: “Lima, empat, tiga, dua, satu.” Acara dilanjutkan dengan pengalungan tanda peserta bimbingan teknis calon fasilitator nasional matematika gembira kepada perwakilan guru dari berbagai daerah, sebagai simbol dimulainya pelatihan yang akan menyebarluaskan pendekatan Alur Gembira ke seluruh penjuru negeri.
SD Negeri Meruya Selatan 04 dipilih sebagai lokasi peluncuran karena telah menjadi percontohan pengembangan Taman Numerasi. Di sekolah ini, konsep perkalian diperkenalkan melalui papan berwarna-warni di lapangan yang memungkinkan siswa mempraktikkan langsung konsep matematika sambil bermain. “Kalau tadi puisinya Pak Menteri 4 * 4 sama dengan berapa? Tapi bisa langsung dipraktikkan di papan perkalian tersebut ya,” ujar salah satu MC acara ketika memandu rombongan Menteri meninjau Taman Numerasi.
Pendekatan yang digunakan dalam Gerakan Numerasi Nasional berfokus pada perubahan mindset bahwa matematika itu sulit dan menakutkan. “Mitos bahwa matematika itu bikin mumet harus kita lawan. Matematika itu harus gembira. G gali, E eksplorasi, M muat konten, B buat aktivitas, I ikuti pemikiran murid, R rayakan, dan A akhiri dengan apresiasi,” jelas Ibu Nunuk tentang filosofi Alur Gembira yang menjadi inti pendekatan GNN.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga menggandeng 10 mitra strategis dalam Gerakan Numerasi Nasional, termasuk Tanoto Foundation, Klinik Pendidikan MIPA, BLPT Pusdatin, YP MIPA, BBGTK DIY, Universitas Negeri Semarang, BSKAP, Gernas Tastaka, Direktorat Sekolah Dasar, dan BPGTK Jawa Barat. Para mitra ini menyediakan berbagai booth interaktif yang memperkenalkan konsep numerasi melalui permainan dan aktivitas menarik yang langsung diuji coba oleh siswa-siswi SD Negeri Meruya Selatan 04.
Bupati Sumedang dalam testimoni videonya menyatakan, “Saya merasa sangat bangga dan mendukung gerakan numerasi nasional atau GNN karena numerasi adalah pondasi utama untuk masa depan bangsa.” Pernyataan senada disampaikan oleh Bunda PAUD dari Riau yang mendukung program ini sebagai langkah membiasakan anak cinta matematika sejak dini. “Biar enggak dianggap sulit atau menakutkan tapi seru, bermanfaat, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Menteri Muti menegaskan bahwa Gerakan Numerasi Nasional merupakan respon strategis atas kondisi numerasi Indonesia yang masih perlu ditingkatkan. “Numerasi penting dan numerasi itu adalah bagian dari kemahiran, bagian dari kemampuan yang menjadi sarana kita agar kemampuan anak-anak kita di bidang ilmu-ilmu yang lain juga dapat ditingkatkan dengan matematika sebagai ilmu alatnya, dengan numerasi sebagai fondasinya,” tegasnya.
Dengan peluncuran Gerakan Numerasi Nasional, pemerintah berharap dapat membangun budaya numerasi sebagai bagian dari upaya menciptakan generasi Indonesia yang kuat, hebat, dan mampu bersaing di tingkat global. Seperti yang disampaikan oleh Menteri Muti dalam penutupan acara, “Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, pada hari ini saya luncurkan gerakan numerasi nasional. Mari kita bersama-sama bagaikan motonya. Mahir numerasi, majukan negeri.”
Penulis : Ardan Sirodjuddin, M.Pd, Kepala SMK Negeri 10 Semarang

Beri Komentar