SEMARANG – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Baitul Iman SMK Negeri 10 Semarang pada Jumat, 12 September 2025. Ratusan jamaah yang terdiri dari guru, karyawan, dan siswa larut dalam kekhusyukan salat Jumat yang dipimpin oleh khatib, DR. HM. Faojin, M.Ag., M.Pd., Pengawas Pendidikan Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kota Semarang. Dalam khutbahnya, ia menyampaikan pesan mendalam tentang relevansi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di era globalisasi, ditinjau dari perspektif hukum Islam serta manfaatnya bagi kehidupan bermasyarakat.
“Peringatan Maulid Nabi bukan sekadar seremonial, melainkan momentum penting untuk memperkuat akhlak, persaudaraan, dan kepedulian sosial,” ujar DR. Faojin di hadapan jamaah. Menurutnya, Rasulullah SAW adalah teladan utama yang ajarannya tetap relevan meski arus globalisasi kian deras membawa perubahan dalam kehidupan manusia.
Dalam penjelasannya, ia menegaskan bahwa memperingati Maulid Nabi memiliki landasan yang kuat dalam hukum Islam. Hal tersebut, katanya, merupakan wujud nyata kecintaan umat kepada Rasulullah SAW sekaligus upaya menghidupkan syiar Islam di tengah masyarakat modern. “Cinta kepada Nabi tidak cukup hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam sikap dan tindakan sehari-hari. Globalisasi sering membawa budaya instan, individualis, dan materialis. Karena itu, umat Islam harus berpegang teguh pada nilai-nilai yang dicontohkan Nabi,” imbuhnya.
Khutbah yang disampaikan DR. Faojin juga mengaitkan momentum Maulid dengan pembentukan karakter bangsa. Ia menekankan pentingnya meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW sebagai modal sosial yang dapat memperkuat persatuan di tengah tantangan global. “Jika kita meneladani akhlak Nabi dalam kehidupan bermasyarakat, maka akan tumbuh sikap toleransi, kepedulian, dan keadilan. Itu modal sosial yang sangat penting agar bangsa ini tidak mudah tergerus pengaruh negatif globalisasi,” tuturnya.
Selain berbicara tentang masyarakat secara umum, DR. Faojin menyoroti peran dunia pendidikan dalam melanjutkan misi kenabian. Ia mengingatkan para pendidik agar tidak sekadar mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membimbing karakter siswa menjadi pribadi berakhlak mulia. “Guru bukan sekadar pengajar, tetapi juga teladan. Rasulullah SAW adalah pendidik agung yang sukses mengubah peradaban dengan akhlak mulianya,” jelasnya.
Pesan ini disambut positif oleh pihak sekolah. Kepala SMK Negeri 10 Semarang, Ardan Sirodjuddin, yang turut hadir dalam salat Jumat tersebut, menyampaikan apresiasinya terhadap materi khutbah. Menurutnya, pesan yang disampaikan khatib sangat relevan dengan kondisi peserta didik saat ini. “Kami merasa mendapat bekal yang sangat berharga. Pesan tentang meneladani Rasulullah di era globalisasi ini relevan dengan kondisi siswa kami yang hidup dalam dunia serba cepat dan penuh tantangan,” ungkap Ardan.
Ia menambahkan, khutbah tersebut menjadi pengingat bagi seluruh warga sekolah agar tidak melupakan nilai-nilai luhur yang diwariskan Rasulullah, sekalipun tengah menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang begitu cepat. “Kami berharap anak-anak didik dapat mengamalkan ajaran Nabi dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual,” ujarnya.
Acara salat Jumat di SMK Negeri 10 Semarang itu diakhiri dengan doa bersama. Para jamaah memohon agar diberikan kekuatan untuk mengamalkan nilai-nilai Islam dan meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam setiap aspek kehidupan. Doa itu dipimpin langsung oleh khatib, menutup rangkaian ibadah dengan suasana haru dan penuh kekhusyukan.
Melalui khutbah tersebut, DR. Faojin berhasil menjembatani pesan klasik dari sejarah Islam dengan tantangan modern yang kini dihadapi masyarakat. Ia menegaskan bahwa teladan Nabi Muhammad SAW tetap menjadi kunci agar umat Islam mampu menghadapi derasnya arus globalisasi tanpa kehilangan jati diri. “Selama kita menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai panutan, maka kita tidak akan kehilangan arah, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam bermasyarakat,” pungkasnya.
Pesan yang dibawa oleh DR. HM. Faojin dalam khutbah Jumat di SMK Negeri 10 Semarang menjadi pengingat kuat bahwa di era globalisasi, umat Islam tetap membutuhkan pegangan yang kokoh: akhlak Rasulullah yang mulia. Dengan meneladani Rasulullah, umat diyakini dapat menjaga keseimbangan antara kemajuan zaman dan nilai spiritual yang abadi.
Penulis : Muslim Anwar, Ketua Takmir Masjid Baitul Iman SMK Negeri 10 Semarang

Beri Komentar