Jakarta-Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi kembali menunjukkan komitmennya dalam membentuk lulusan vokasi yang siap menghadapi dunia nyata. Melalui kegiatan webinar bertajuk “Bisnis Model Kanvas untuk Pengembangan Inovasi Kewirausahaan Murid SMK”, Direktorat SMK mengajak siswa, guru, dan kepala sekolah untuk memperkuat budaya wirausaha berbasis strategi bisnis yang terukur dan sistematis.
Webinar yang digelar secara daring pada 04 Juni 2025 ini menghadirkan narasumber utama Asep Tariana, dosen dari Sekolah Bisnis Institut Pertanian Bogor. Kegiatan tersebut diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai SMK di Indonesia, baik melalui Zoom maupun siaran langsung di YouTube Direktorat SMK.
Dalam sambutannya, Direktur SMK Ari Wibowo Kurniawan menegaskan pentingnya penguasaan ilmu bisnis di era digital, bukan sekadar insting. “Kalau dulu kita bisa jualan pakai perasaan, sekarang harus pakai ilmu. Salah satunya ya model bisnis kanvas ini. Kalau ingin bisnisnya tertata dan berkelanjutan, jangan asal jalan, tapi harus dirancang secara ilmiah,” ujarnya.
Bisnis model Canvas (BMC) adalah alat strategis untuk merancang dan menganalisis model bisnis secara visual melalui sembilan komponen utama, antara lain segmentasi pelanggan, proposisi nilai, saluran distribusi, hubungan pelanggan, sumber pendapatan, aktivitas utama, sumber daya, mitra utama, dan struktur biaya. Konsep ini diperkenalkan dalam konteks pendidikan vokasi sebagai pendekatan kreatif dan aplikatif dalam membentuk jiwa entrepreneur siswa SMK.
Asep Tariana menekankan pentingnya membangun keunikan produk dan memahami kebutuhan pasar sejak dini. “Anak SMK jangan hanya bisa bikin produk, tapi harus tahu siapa yang mau beli dan kenapa mereka mau beli. Di situlah letak kekuatan model bisnis kanvas,” jelasnya.
Webinar ini juga menampilkan sejumlah testimoni dari siswa SMK yang telah berhasil menjalankan usaha mandiri. Salah satunya adalah Sahna, siswa jurusan Rekayasa Perangkat Lunak yang mengelola usaha kuliner dan berhasil meraih omzet lebih dari Rp100 juta dalam satu semester. Ada pula Salma dari jurusan Teknik Komputer dan Jaringan yang memilih bisnis fashion dengan sistem pre-order melalui media sosial.
Tidak hanya siswa, guru pembimbing pun turut aktif dalam mengarahkan siswa membangun usaha berbasis kompetensi mereka. Perkumpulan “Sahabat Teknik” misalnya, yang fokus di bidang reparasi alat rumah tangga, menjadi contoh nyata teaching factory berbasis kewirausahaan. “Anak-anak langsung praktik di lapangan, memperbaiki mesin cuci, AC, dan kulkas warga sekitar. Ini bukan simulasi, tapi bisnis nyata,” ujar salah satu guru pembimbing.
Menanggapi antusiasme peserta, Asep menjelaskan bahwa materi BMC sangat cocok diterapkan sebagai bagian dari pembelajaran di kelas kewirausahaan. “Silakan diadopsi dan dimodifikasi sesuai kebutuhan siswa. Direktorat SMK sudah memberi lampu hijau. Tidak perlu royalti, yang penting semangat berbagi ilmu,” katanya.
Selama sesi tanya jawab, peserta aktif menyampaikan pertanyaan seputar strategi penentuan harga, membangun loyalitas pelanggan, dan cara menumbuhkan jiwa bisnis pada siswa pasif. Menjawab hal ini, Asep menyampaikan, “Bisnis bukan hanya tentang jualan. Jiwa entrepreneur tumbuh dari keberanian mengambil keputusan, kesabaran membangun relasi, dan ketekunan memahami peluang. Mulailah dari yang kecil dan realistis.”
Salah satu strategi menarik yang dibagikan adalah bagaimana menjaga hubungan dengan pelanggan secara berkesinambungan. “Kalau sudah dapat nomor pelanggan, jaga relasinya. Kirim ucapan selamat, beri informasi bermanfaat, bukan hanya jualan terus. Ini yang bikin mereka loyal,” ungkap Asep sambil tersenyum.
Direktorat SMK menilai bahwa pendekatan inovatif seperti ini sangat penting untuk menjawab tantangan dunia kerja yang kian kompetitif. Dengan bekal ilmu wirausaha yang kuat sejak bangku sekolah, siswa SMK diharapkan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja.
“Kalau dari SMK bisa lahir startup, bisa buka lapangan kerja, kenapa tidak? Kami ingin siswa SMK tidak hanya lulus, tapi sukses. Ini cita-cita kita bersama,” tutup Ari dengan penuh optimisme.
Melalui webinar ini, Direktorat SMK tak hanya memberi inspirasi, tapi juga strategi konkret bagi sekolah untuk mendampingi siswa berwirausaha secara profesional. Langkah ini sekaligus membuktikan bahwa pendidikan vokasi bisa menjadi penggerak utama ekonomi lokal, asalkan didukung oleh visi, ilmu, dan kolaborasi yang tepat.
Paparan video bisa dilihat disini :
Penulis : Muhammad Yunan Setyawan, Ketua Pokja PK SMK Negeri 10 Semarang





Users Today : 798
Users Yesterday : 812
This Month : 20220
This Year : 132679
Total Users : 783761
Views Today : 2017
Total views : 3936533
Who's Online : 5





Beri Komentar