Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Ditjen PAUD Dikdasmen) tengah mendorong percepatan digitalisasi pembelajaran di sekolah-sekolah seluruh Indonesia. Program ini ditegaskan sebagai salah satu prioritas Presiden sesuai dengan Asta Cita keempat, yaitu memperkuat sumber daya manusia, sains, teknologi, pendidikan, dan kesehatan.
Direktur Jenderal PAUD Dikdasmen, Gogot Suharwoto, menyampaikan bahwa digitalisasi pembelajaran tidak lahir tiba-tiba, melainkan merupakan bagian dari Program Strategis Nasional 2005–2029. “Program digitalisasi pembelajaran ini merupakan program prioritas Bapak Presiden sesuai dengan Asta Cita keempat. Selain itu, program ini juga sudah masuk dalam program strategis nasional tahun 2005–2029. Dasar hukumnya jelas, yaitu Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025,” ujarnya dalam Siniar Pendidikan, Jumat (13/9).
Salah satu fokus dari digitalisasi pembelajaran adalah penyediaan papan interaktif atau smartboard di sekolah. Menurut Gogot, perangkat ini akan membantu mengurangi kesenjangan mutu pendidikan, mempercepat penutupan learning loss akibat pandemi COVID-19, sekaligus menyiapkan siswa menghadapi keterampilan abad ke-21. “Dengan smartboard, interaksi antara guru dan siswa bisa lebih hidup. Anak-anak akan terbiasa dengan presentasi interaktif, gamification, bahkan augmented reality,” jelasnya.
Lalu, bagaimana praktiknya di lapangan? Haryanto, guru informatika di SMP Negeri 86 Jakarta, mengungkapkan perubahan besar yang terjadi di kelas sejak penggunaan papan interaktif. Menurutnya, murid yang biasanya pasif kini lebih berani tampil. “Murid dalam menggunakan papan interaktif menjadi lebih antusias karena format belajarnya variatif. Biasanya anak-anak agak malu untuk maju ke depan, tapi dengan adanya soal interaktif yang bisa digeser, mereka termotivasi. Bahkan, mereka cuci tangan dulu sebelum menyentuh papan, karena ingin mencoba langsung,” katanya sambil tersenyum.
Tidak hanya itu, Haryanto menambahkan bahwa siswa semakin tertarik karena materi bisa divisualisasikan lebih jelas. “Misalnya saat pelajaran IPA, kita bisa menampilkan jantung lalu memutarnya, memperbesar, mengecilkan, bahkan menambahkan pertanyaan interaktif. Anak-anak excited sekali. Mereka bilang, ‘Wah, bisa ya seperti ini ternyata.’ Itu membuat suasana kelas jadi hidup,” tuturnya.
Kementerian memastikan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada distribusi perangkat, tetapi juga dukungan pendampingan dan pelatihan guru. Gogot menegaskan, “Kita tidak hanya memberikan perangkat. Ada konten interaktif, bimtek untuk guru, dan platform belajar seperti Ruang Murid yang bisa diakses tidak hanya dengan papan interaktif, tetapi juga melalui gawai atau laptop. Bahkan orang tua pun bisa mendampingi anak belajar di rumah.”
Pemerintah juga menyiapkan solusi bagi sekolah di daerah 3T. Bekerja sama dengan PLN, sekolah yang belum terjangkau listrik akan dibantu dengan panel surya, sementara akses internet akan difasilitasi dengan perangkat tambahan. “Konten pembelajaran juga bisa diakses offline melalui hard disk eksternal, jadi tidak ada alasan sekolah di pelosok tidak bisa memanfaatkannya,” ujar Gogot.
Meski demikian, Haryanto mengakui tantangan tetap ada, terutama adaptasi awal guru terhadap teknologi baru. “Awalnya memang ada rasa takut. Papan besar ini kelihatan rumit. Tapi setelah dicoba, ternyata mudah sekali karena prinsipnya mirip dengan handphone. Kita geser, kita pilih menu, sudah bisa jalan. Guru-guru di sekolah saya cepat menguasainya karena user friendly,” jelasnya.
Kedua narasumber sepakat bahwa program ini menjadi tonggak penting untuk memastikan pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia. Gogot menutup dengan penegasan, “Digitalisasi pembelajaran bukan sekadar distribusi perangkat. Ini tentang pemerataan akses, peningkatan mutu, dan menyiapkan generasi masa depan yang adaptif terhadap teknologi.”
Sementara Haryanto berharap pendampingan terus dilakukan. “Kami guru tentu senang dengan inovasi ini, tapi dukungan berkelanjutan dan penambahan variasi materi sangat penting agar pembelajaran semakin menyenangkan,” pungkasnya.
Dengan target lebih dari 288 ribu sekolah sasaran, digitalisasi pembelajaran diharapkan tidak hanya memperkuat kualitas pendidikan nasional, tetapi juga mempersempit kesenjangan antara sekolah kota dan daerah. Program ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintah untuk menghadirkan pendidikan bermutu bagi semua.
Penulis : Muhammad Yunan Setyawan, S.Pd. Waka Humas SMK Negeri 10 Semarang

Beri Komentar