Info Sekolah
Jumat, 27 Mar 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang mengucapkan Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan 1447 H

Data Akurat Jadi Kunci Revitalisasi, Direktorat SMK Gelar Webinar Pelatihan Pengisian Formulir Analisis Tingkat Kerusakan

Diterbitkan : - Kategori : Berita

JAKARTA-Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggelar Webinar Pelatihan Pengisian Formulir Analisis Tingkat Kerusakan pada Senin, 2 Maret 2026 mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini disiarkan langsung melalui kanal YouTube Direktorat SMK dan diikuti oleh pemangku kepentingan pendidikan vokasi dari seluruh Indonesia, khususnya pengelola sarana dan prasarana SMK.

Webinar tersebut diselenggarakan sebagai upaya meningkatkan kualitas pendataan kondisi bangunan sekolah yang menjadi dasar program rehabilitasi dan revitalisasi sarana pendidikan vokasi. Direktur SMK Arie Wibowo Khurniawan diwakili oleh Kepala Subdirektorat Fasilitasi Sarana dan Prasarana Direktorat SMK, Hernita, yang membuka kegiatan sekaligus memberikan paparan utama.

Dalam sambutannya, Hernita menegaskan bahwa formulir analisis tingkat kerusakan bukan sekadar dokumen administratif, melainkan instrumen strategis untuk menentukan arah pembangunan sarana SMK secara nasional. “Formulir Analisis Tingkat Kerusakan adalah dokumen strategis. Dari data yang masuk, Direktorat SMK bisa menyusun perencanaan teknis, menghitung kebutuhan anggaran, dan menentukan prioritas intervensi. Revitalisasi yang baik dimulai dari diagnosis yang benar,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa selama ini banyak program perbaikan bangunan sekolah kurang optimal karena data awal yang tidak akurat. Oleh sebab itu, pengisian formulir harus dilakukan secara teliti, objektif, dan sesuai pedoman teknis agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.

Webinar juga menghadirkan narasumber dari Direktorat Infrastruktur Dukungan Pendidikan Kementerian Pekerjaan Umum, yakni Yoseph Navrandinata dan Mikail Sahirul Alim, serta tenaga ahli Masferi Hamdi. Para pembicara memaparkan aspek teknis penilaian kerusakan bangunan sekolah, mulai dari metode pemeriksaan hingga klasifikasi tingkat kerusakan.

Yoseph Navrandinata menjelaskan bahwa analisis kerusakan bangunan sekolah dilakukan secara sistematis dan tidak selalu menilai keseluruhan kompleks sekolah sekaligus. “Penilaian dilakukan secara spesifik pada satu masa bangunan atau satu ruangan yang mengalami kerusakan. Pendekatan ini membuat hasilnya lebih akurat dan tepat sasaran untuk tindakan rehabilitasi,” katanya.

Ia menerangkan bahwa pemeriksaan dilakukan secara visual terhadap komponen utama bangunan, meliputi struktur, arsitektur, dan utilitas. Komponen yang dinilai antara lain pondasi, kolom, balok, pelat lantai, atap, dinding, plafon, pintu, jendela, hingga instalasi air dan drainase.

Menurutnya, setiap kerusakan diklasifikasikan menjadi beberapa kategori, yaitu ringan, sedang, dan berat, berdasarkan persentase kerusakan terhadap total komponen bangunan. Kerusakan ringan berada pada kisaran di bawah 30 persen, kerusakan sedang antara 30 hingga 45 persen, sedangkan kerusakan berat di atas 45 persen atau apabila terdapat komponen yang membahayakan keselamatan.

Sementara itu, Mikail Sahirul Alim menekankan pentingnya kompetensi petugas yang melakukan penilaian di lapangan. Ia menyebutkan bahwa survei idealnya dilakukan oleh tenaga ahli berlatar belakang teknik sipil atau arsitektur agar mampu mengidentifikasi kerusakan secara tepat.

“Penilaian tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Surveyor harus memahami struktur bangunan, membawa alat ukur, kamera dokumentasi, serta formulir standar sebagai instrumen penilaian,” jelasnya.

Masferi Hamdi sebagai tenaga ahli turut memberikan simulasi pengisian formulir serta contoh kasus nyata kerusakan bangunan sekolah di berbagai daerah. Ia menyoroti bahwa faktor penyebab kerusakan tidak hanya usia bangunan, tetapi juga bencana alam, beban fungsi berlebih, serta kurangnya pemeliharaan rutin.

“Kerusakan bangunan bisa terjadi karena penyusutan umur, gempa bumi, kebakaran, maupun penggunaan yang melebihi kapasitas. Oleh karena itu, identifikasi penyebab kerusakan juga penting untuk menentukan metode penanganan,” ungkapnya.

Selain aspek teknis, webinar juga menekankan pentingnya validasi data sebelum diajukan sebagai dasar penganggaran. Data yang telah diinput harus diverifikasi melalui dokumentasi visual, denah bangunan, serta status aset sekolah agar tidak terjadi kesalahan perencanaan.

Kegiatan ini mendapat respons positif dari peserta yang aktif mengajukan pertanyaan terkait kendala pengisian formulir di lapangan, terutama bagi sekolah di daerah terpencil dengan keterbatasan tenaga teknis.

Di akhir sesi, Hernita berharap pelatihan ini dapat meningkatkan kualitas pendataan sarana dan prasarana SMK di seluruh Indonesia sehingga program revitalisasi benar-benar tepat sasaran.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap rupiah anggaran digunakan untuk kebutuhan yang paling mendesak. Kuncinya adalah data yang valid dan dapat dipercaya,” tegasnya.

Melalui webinar ini, Direktorat SMK menegaskan komitmennya untuk memperkuat basis data infrastruktur pendidikan vokasi sebagai fondasi peningkatan mutu pembelajaran. Dengan kondisi bangunan yang layak dan aman, diharapkan SMK mampu menghasilkan lulusan yang kompeten serta siap bersaing di dunia kerja.

Penulis : Andhika Wildan Krisnamurti, M.Pd, Waka Sarpras SMK Negeri 10 Semarang

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar