Di era digital saat ini, teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Dunia pendidikan pun mulai memanfaatkan AI sebagai alat bantu pembelajaran yang inovatif dan menarik. Salah satu penerapannya adalah dalam pembelajaran mata pelajaran IPAS, khususnya pada materi konektivitas ruang dan waktu. Melalui eksplorasi visual dengan bantuan AI, siswa dapat menjelajah waktu untuk melihat gambaran sebuah kota di masa lalu, masa kini, hingga masa depan. Pembelajaran pun menjadi lebih hidup, kontekstual, dan menyenangkan.
Materi konektivitas ruang dan waktu mengajak siswa memahami bagaimana hubungan antarwilayah dan perubahan waktu memengaruhi kehidupan masyarakat. Biasanya, materi ini diajarkan dengan membaca teks, melihat peta, atau membandingkan foto-foto zaman dulu dan sekarang. Namun kini, dengan bantuan AI, pembelajaran bisa ditingkatkan ke level yang lebih imersif.
Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan aplikasi berbasis AI yang bisa merekonstruksi visualisasi sebuah kota dari waktu ke waktu. Misalnya, guru mengajak siswa menjelajahi kota Jakarta. Dengan bantuan AI, siswa bisa melihat gambaran Jakarta pada tahun 1950, bagaimana kondisi jalan, bangunan, dan aktivitas masyarakat saat itu. Kemudian, mereka membandingkannya dengan Jakarta masa kini, dan bahkan membuat prediksi visual bagaimana kota itu akan terlihat pada tahun 2050 berdasarkan data tren pembangunan, pertumbuhan penduduk, dan perkembangan teknologi.
Proses ini tidak hanya menyajikan pembelajaran visual yang menarik, tetapi juga mendorong siswa untuk berpikir kritis, menganalisis perubahan, dan memahami dampaknya terhadap masyarakat. Siswa dapat menjawab pertanyaan seperti: “Apa yang menyebabkan kota mengalami perubahan begitu pesat?” atau “Bagaimana hubungan antara perkembangan transportasi dengan kegiatan ekonomi masyarakat dari masa ke masa?”.
Namun, penggunaan AI dalam pembelajaran tidak cukup hanya pada aspek teknis. Siswa juga perlu dibekali dengan literasi digital dan etika penggunaan AI. Guru berperan penting dalam mengajarkan bagaimana menggunakan AI secara bijak, tidak hanya sebagai alat bantu belajar, tetapi juga sebagai teknologi yang harus digunakan secara bertanggung jawab. Misalnya, siswa perlu memahami bahwa tidak semua hasil dari AI sepenuhnya akurat atau objektif. Mereka harus belajar berpikir kritis terhadap informasi yang disajikan, serta memahami isu privasi, plagiarisme, dan dampak sosial dari teknologi tersebut.
Dengan memadukan teknologi AI dan pendekatan edukatif yang tepat, pembelajaran konektivitas ruang dan waktu tidak hanya menjadi lebih menarik, tetapi juga memperkaya pengalaman siswa dalam memahami sejarah, geografi, dan perubahan sosial. Lebih dari itu, siswa juga dilatih menjadi generasi yang melek teknologi, berpikir kritis, dan bertanggung jawab dalam menggunakan kecerdasan buatan.
Integrasi AI dalam pembelajaran bukan sekadar tren, tetapi sebuah peluang untuk membentuk karakter siswa yang adaptif terhadap masa depan. Pembelajaran tidak lagi terbatas pada buku teks, melainkan membuka jendela imajinasi yang luas — menjelajah waktu dan ruang secara visual dan interaktif, sambil tetap mengedepankan nilai-nilai kebijaksanaan dalam menggunakan teknologi.
“Ciptakan Inovasi, Tebarkan Manfaat”
“SMK Negeri 10 Semarang, dari Semarang untuk Indonesia”
Penulis: Hikma Nurul Izza, S.Pd., Guru Mapel IPAS
Penyunting: Tim Humas dan Literasi

Beri Komentar