Bekerja keras tanpa arah bukanlah produktivitas. Ia hanya kelelahan yang dibungkus gaji bulanan, dibalut rutinitas, lalu dipuji sebagai ketangguhan. Banyak orang bangga pulang larut, bangun pagi dengan mata merah, dan mengukur keberhasilan dari seberapa sedikit waktu yang tersisa untuk diri sendiri. Dalam budaya kerja modern, sibuk telah menjadi identitas. Semakin penuh jadwal seseorang, semakin tinggi nilai sosialnya. Padahal, kesibukan tidak selalu berbanding lurus dengan makna. Ada jurang sunyi antara bekerja keras dan bekerja dengan sadar, antara aktivitas yang menguras energi dan aktivitas yang menghidupkan jiwa.
Sebuah studi dari Gallup pernah menunjukkan bahwa hanya sekitar 15 persen pekerja di dunia yang benar-benar merasa terlibat secara emosional dengan pekerjaannya. Gallup adalah sebuah organisasi riset dan konsultan global yang berbasis di Amerika Serikat, dikenal luas karena melakukan survei opini publik, penelitian sosial, dan analisis data tentang berbagai aspek kehidupan—termasuk politik, ekonomi, kesejahteraan, dan tempat kerja. Didirikan pada tahun 1935 oleh George Gallup, seorang pionir dalam metode polling ilmiah, Gallup awalnya terkenal karena akurasinya dalam memprediksi hasil pemilu. Seiring waktu, fokusnya berkembang ke bidang lain, termasuk keterlibatan karyawan (employee engagement), well-being, dan kepemimpinan organisasi.
Salah satu kontribusi terpenting Gallup di dunia kerja adalah pengembangan konsep “employee engagement“—yaitu sejauh mana karyawan merasa terhubung secara emosional, termotivasi, dan berkomitmen terhadap pekerjaan serta organisasinya. Melalui survei global seperti State of the Global Workplace, Gallup secara rutin melaporkan bahwa hanya sebagian kecil pekerja di seluruh dunia (sekitar 15–20%) yang benar-benar “terlibat”, sementara mayoritas berada dalam kondisi “tidak terlibat” atau bahkan “aktif tidak terlibat”.
Angka itu mencengangkan, namun sekaligus terasa akrab. Sisanya bekerja karena kewajiban, tekanan sosial, kebutuhan ekonomi, atau sekadar bertahan hidup. Mereka menjalani hari demi hari dengan pola yang hampir identik, seperti mesin yang terus bergerak karena tombolnya belum dimatikan. Ironisnya, banyak dari mereka tidak pernah berhenti sejenak untuk bertanya: mengapa aku melakukan ini semua? Pertanyaan itu terasa berbahaya karena ia mengguncang fondasi yang selama ini dianggap wajar. Lebih mudah melanjutkan rutinitas daripada menghadapi kemungkinan bahwa hidup sedang berjalan tanpa kompas.
Bayangkan seorang guru yang bangun pukul lima pagi. Ia terburu-buru menyiapkan sarapan, menyelipkan tubuhnya ke dalam kemacetan, menghadiri rapat yang sering kali terasa berputar-putar, mengejar tenggat administrasi, lalu pulang dengan sisa tenaga yang nyaris habis. Pola ini berulang lima hari seminggu, tiga ratus hari setahun. Hari-hari berlalu seperti halaman buku yang dibalik terlalu cepat. Sampai suatu pagi, ketika ia tengah menyeduh kopi dan menatap uap yang naik perlahan, sebuah pertanyaan sederhana menyeruak tanpa permisi: apa sebenarnya tujuan dari semua ini? Pertanyaan itu tidak meledak, tidak dramatis, tetapi ia menetap, menunggu jawaban yang tidak bisa lagi ditunda.
Kita hidup di tengah kebisingan karier yang dibungkus istilah ambisi. Ambisi dipromosikan sebagai bahan bakar utama kesuksesan, seolah tanpa ambisi hidup akan berhenti. Namun, jarang sekali kita bertanya: ambisi siapa yang sedang kita kejar? Apakah itu benar-benar keinginan personal yang lahir dari nilai dan makna yang kita yakini, atau hanya warisan budaya performatif yang menuntut validasi terus-menerus? Budaya yang memuja pencapaian sering kali lupa mengajarkan kehadiran. Kita sibuk mengejar tangga, tetapi lupa menengok tembok apa yang sedang kita sandarkan.
Di titik inilah penting untuk menawarkan cara berpikir alternatif sebagai pekerja, bukan untuk berhenti bekerja atau menolak tanggung jawab, melainkan untuk menemukan cara menikmati pekerjaan yang dilakukan. Menikmati bukan berarti bersantai tanpa usaha, melainkan hadir penuh dalam aktivitas yang dikerjakan. Salah satu konsep yang relevan untuk memahami kenikmatan yang lahir dari keterlibatan mendalam adalah konsep flow yang diperkenalkan oleh Mihaly Csikszentmihalyi, seorang psikolog Hungaria-Amerika yang dikenal sebagai pelopor psikologi positif.
Flow adalah kondisi psikologis optimal di mana seseorang sepenuhnya tenggelam dalam suatu aktivitas. Dalam keadaan ini, seseorang merasa “masuk zona”, mengalami fokus intens, keterlibatan penuh, dan kehilangan kesadaran akan diri serta waktu. Tindakan dan kesadaran menyatu, aktivitas terasa hampir otomatis, seolah-olah semuanya mengalir dengan lancar tanpa usaha sadar yang berlebihan. Csikszentmihalyi pertama kali mengidentifikasi fenomena ini melalui wawancara dengan seniman, atlet, musisi, dan pekerja kreatif yang sering menggambarkan pengalaman lupa waktu saat mereka bekerja. Ia menyadari bahwa kebahagiaan sejati kerap muncul bukan dari kesenangan sesaat, melainkan dari keterlibatan penuh dalam tantangan yang bermakna.
Dalam pengalaman flow, seseorang tidak sedang mengejar imbalan eksternal. Aktivitas itu sendiri sudah cukup memberi kepuasan. Inilah yang disebut sebagai intrinsic motivation, dorongan dari dalam diri yang membuat seseorang ingin terus terlibat karena aktivitas tersebut bernilai bagi dirinya. Csikszentmihalyi merumuskan bahwa ada beberapa ciri utama yang hampir selalu hadir dalam pengalaman flow. Aktivitas memiliki tujuan yang jelas sehingga seseorang tahu ke mana arah tindakannya. Ada umpan balik langsung yang memberi informasi apakah langkah yang diambil sudah tepat atau perlu penyesuaian. Tantangan yang dihadapi seimbang dengan keterampilan yang dimiliki, cukup sulit untuk menuntut usaha tetapi tidak terlalu sulit hingga memicu kecemasan.
Selain itu, flow ditandai oleh fokus mendalam tanpa distraksi. Pikiran sepenuhnya hadir pada aktivitas yang sedang dilakukan. Kesadaran diri berkurang; seseorang tidak sibuk memikirkan penilaian orang lain atau citra dirinya. Persepsi waktu pun berubah, terasa melambat atau justru berlalu sangat cepat. Ada perasaan kendali, meski bukan berarti mengontrol semua hasil. Dan yang paling khas, aktivitas dilakukan karena nilainya sendiri, bukan semata-mata demi gaji, pujian, atau status.
Untuk memudahkan pemahaman, Csikszentmihalyi sering menggambarkan flow dalam sebuah diagram dua dimensi dengan sumbu tingkat tantangan dan tingkat keterampilan. Ketika tantangan tinggi dan keterampilan tinggi, muncullah flow. Jika tantangan tinggi tetapi keterampilan rendah, yang muncul adalah kecemasan. Jika keterampilan tinggi tetapi tantangan rendah, seseorang jatuh ke dalam kebosanan. Ketika keduanya rendah, apati mengintai. Kunci untuk mencapai flow adalah menyesuaikan tantangan dengan kemampuan, lalu terus mengembangkan keterampilan seiring meningkatnya kompleksitas tugas. Dengan kata lain, flow menuntut pertumbuhan.
Pentingnya flow tidak hanya terletak pada peningkatan produktivitas dan kreativitas, tetapi juga pada kesejahteraan psikologis. Orang yang sering mengalami flow cenderung merasa hidupnya bermakna karena mereka aktif menciptakan pengalaman yang menantang dan memuaskan. Mereka tidak sekadar menjadi penonton dalam hidupnya sendiri. Seorang penulis yang lupa makan karena larut menulis novel, seorang programmer yang menyusun coding berjam-jam tanpa sadar waktu berlalu, atau seorang atlet yang merasa semua gerakannya berjalan otomatis saat bertanding adalah contoh klasik flow. Bahkan dalam aktivitas sehari-hari seperti memasak, berkebun, atau bermain alat musik, flow bisa terjadi jika keseimbangan antara tantangan dan keterampilan tercapai.
Dalam konteks era digital yang penuh distraksi, konsep flow menjadi semakin relevan. Notifikasi, pesan instan, dan arus informasi tanpa henti sering kali memecah perhatian. Namun, teknologi juga membuka peluang untuk mengejar minat secara lebih mendalam. Tantangannya adalah bagaimana merancang kondisi yang memungkinkan fokus dan keterlibatan, bukan sekadar reaksi impulsif.
Bagi seorang guru, flow memiliki makna yang sangat khusus. Flow terjadi ketika guru sepenuhnya tenggelam dalam proses mengajar atau mendidik, merasa bahwa tantangan di kelas seimbang dengan kompetensinya, dan aktivitas mengajar terasa bermakna, lancar, serta memuaskan secara batin. Dalam keadaan ini, kelas yang ramai tidak terasa sebagai beban, materi yang sulit justru memantik kreativitas, dan interaksi dengan siswa mengalir alami. Guru lupa waktu karena terlalu fokus pada dinamika belajar, merasa hadir penuh, efektif, dan terhubung secara autentik dengan siswanya.
Flow bagi guru muncul ketika dua syarat utama terpenuhi. Pertama, tingkat tantangan yang sesuai. Mengajar topik yang menantang namun masih dalam jangkauan penguasaan materi, atau mengelola kelas dengan dinamika unik yang memicu kreativitas pedagogis, dapat menjadi pintu masuk flow. Kedua, keterampilan guru yang memadai. Penguasaan materi, strategi mengajar, manajemen kelas, empati, dan kemampuan beradaptasi membuat guru mampu merespons situasi dengan percaya diri. Seorang guru yang merancang eksperimen sains interaktif untuk siswa SMK, lalu menyaksikan antusiasme siswa bertanya dan berdiskusi, bisa masuk flow karena tantangan membuat konsep abstrak menjadi nyata seimbang dengan keterampilannya dalam desain pembelajaran aktif.
Dalam konteks mengajar, ciri-ciri flow tampak sangat konkret. Tujuan pembelajaran jelas dan dipahami guru. Umpan balik hadir secara langsung melalui ekspresi wajah siswa, pertanyaan spontan, atau hasil diskusi. Fokus guru tidak terpecah oleh pikiran administratif atau kecemasan evaluatif. Kesadaran diri berkurang; guru tidak sibuk memikirkan citra dirinya, melainkan benar-benar hadir untuk proses belajar siswa. Waktu terasa berjalan cepat, dan energi mental justru terasa pulih setelah kelas selesai.
Manfaat flow bagi guru sangat signifikan. Kualitas pembelajaran meningkat karena guru lebih responsif dan kreatif. Kelelahan emosional berkurang karena flow bersifat restoratif. Risiko burnout menurun karena motivasi dipelihara dari dalam, bukan dipaksa dari luar. Ikatan dengan siswa menguat karena kehadiran guru bersifat autentik. Selain itu, flow mendorong pengembangan profesional karena ia muncul saat guru keluar dari zona nyaman dan terus belajar.
Menciptakan kondisi flow bukanlah kebetulan, melainkan proses yang bisa dirancang. Guru perlu mengenali kekuatan mengajarnya sendiri, memahami gaya yang paling alami dan efektif baginya. Tantangan perlu disesuaikan dengan level siswa agar tidak jatuh ke kebosanan atau frustrasi. Struktur kelas yang jelas memberi rasa aman, tetapi fleksibilitas tetap dibutuhkan untuk merespons dinamika. Gangguan non-esensial perlu diminimalkan agar fokus terjaga. Refleksi setelah mengajar menjadi alat penting untuk mengenali momen-momen ketika guru merasa paling hidup di kelas. Kolaborasi dengan rekan sejawat pun dapat memantik tantangan baru yang relevan dengan perkembangan keterampilan.
Perlu diingat bahwa flow tidak selalu hadir setiap hari, dan itu wajar. Namun, semakin sering seseorang, termasuk guru, merancang kondisi yang mendukung flow, semakin besar kemungkinan pekerjaan berubah dari sekadar rutinitas menjadi sumber makna. Menariknya, ketika guru berada dalam flow, siswa pun lebih mudah ikut masuk ke dalamnya. Energi fokus, antusiasme, dan kehadiran penuh bersifat menular. Pada akhirnya, bekerja dengan flow bukan hanya tentang bekerja lebih baik, tetapi tentang hidup dengan lebih sadar, di mana kerja tidak lagi sekadar cara bertahan, melainkan jalan untuk bertumbuh dan merasa utuh sebagai manusia.
Penulis : Ardan Sirodjuddin, M.Pd, Kepala SMK Negeri 10 Semarang

Marilah kita menikmati cara bekerja dengan bersungguh sungguh untuk bertumbuh dan bertanggung jawab
Agree👍👍👍👍👍💪💪💪💪❤️❤️❤️
Flow akan membuat rutinitas menjadi kreativitas, hal ini dikarenakan seseorang akan lebih melibatkan diri dalam peranannya pada sebuah pekerjaan, sehingga ide ide akan tercipta dan terus bertumbuh
Mantap , tanggung jawab seorang pendidik .
Bekerja keras tanpa arah sering kali hanya menghasilkan kelelahan, bukan produktivitas bermakna.
Mantaaabb’s……
S7…
Tetep semangat mantap Alhamdulillah
Ikhlas adalah kunci utama dalam menjalani apapun
Seni bekerja flow bisa diimplementasikan pada pembelajaran berbasis HOTS…
Insiratif
bekerja dengan flow bukan hanya soal produktivitas, tetapi tentang keselarasan diri dalam proses.
Bekerja dengan flow membuat energi tidak cepat habis, karena hati ikut terlibat,waktu terasa singkat
Terbaik
Pengembangan diri guru melekat dengan adaptasi yang sangat perlu dilakukan terhadap perubahan teknologi, kolaborasi, dan kebutuhan murid dalam proses pembelajaran yang bermakna.
Artikel yang inspiratif pendidik dalam hal ini pasti mempunyai rancangan pada saat pembelajaran dikelas dengan tepat agar siswa mempunyai motivasi dan mempunyai kesadaran untuk belajar berpola pikir berkembang
Guru harus responsif dan terus kreatif….
Semangat
Produktifitas bukanlah dari seseorang bekerja secara terus menerus tetapi bekerja dengan flow akan lebih dan lebih sadar dengan pekerjaannya
Luar biasa menginspirasi
Menginspirasi
Artikel yang sangat menginspirasi. Terimakasih pak ardan atas ilmunya
Menginspiratif banget
Bekerja bisa menjadi pengalaman bermakna bila dilakukan dalam kondisi flow—fokus penuh, tantangan seimbang dengan keterampilan, dan motivasi intrinsik. Bagi guru, flow meningkatkan kualitas mengajar, mengurangi burnout, serta menularkan energi positif kepada siswa.
Mantab
Setuju banget! Bekerja dalam kondisi flow memang bikin waktu terasa cepat berlalu tapi hasil tetap maksimal. Artikel yang sangat praktis dan relatable buat pejuang produktivitas. Nice share!
Menginspirasi 👍
Alhamdulillah bekerja dengan hati utk bertumbuh dan menjadi manusia yg utuh.
Konsep flow memberikan makna disetiap aktifitasnya..
Menginspirasi
Merancang kondisi yang mendukung flow, pekerjaan berubah dari sekadar rutinitas menjadi sumber makna.👍
Flow adalah kondisi psikologis optimal di mana seseorang sepenuhnya tenggelam dalam suatu aktivitas. Dalam keadaan ini, seseorang merasa “masuk zona”, mengalami fokus intens, keterlibatan penuh, dan kehilangan kesadaran akan diri serta waktu.
Bekerja dengan flow membantu menjngkatkan kualitas pembelajaran. Menginspirasi.
Menciptakan kondisi flow bukanlah kebetulan, melainkan proses yang bisa dirancang. Guru perlu mengenali kekuatan mengajarnya sendiri, memahami gaya yang paling alami dan efektif baginya. Tantangan perlu disesuaikan dengan level siswa agar tidak jatuh ke kebosanan atau frustrasi. Struktur kelas yang jelas memberi rasa aman, tetapi fleksibilitas tetap dibutuhkan untuk merespons dinamika. Gangguan non-esensial perlu diminimalkan agar fokus terjaga. Refleksi setelah mengajar menjadi alat penting untuk mengenali momen-momen ketika guru merasa paling hidup di kelas. Kolaborasi dengan rekan sejawat pun dapat memantik tantangan baru yang relevan dengan perkembangan keterampilan.
Seni kebekerjaan flow is good inspiratif and the best cois 👍🙏❤️
Semoga bermanfaat utk pemnelajaran ke depNnya.
Intrinsic motivation, atau dapat saya sebut ‘passion’ merupakan dorongan dari dalam diri yang membuat seseorang ingin terus terlibat karena aktivitas tersebut bernilai bagi dirinya. Inilah hal terpenting dalam konsep ‘flow’ ini.
Flow terjadi ketika guru sepenuhnya tenggelam dalam proses mengajar atau mendidik, merasa bahwa tantangan di kelas seimbang dengan kompetensinya, dan aktivitas mengajar terasa bermakna, lancar, serta memuaskan secara batin. Noted, Sir!
Luar biasa 👍👍
Menginspirasi 👍
Menginspirasi
Sangat inspiratif Semoga bermanfaat
Ilmu praktis yang patut dicoba.
Joss…..
Menginspirasi dan bisa di tiru.
Alhamdulillah..Menginspirasi & bermanfaat.
Beri Komentar