Apa itu PISA?
Pendidikan menjadi salah satu bagian penting dalam memajukan peradaban suatu bangsa. Sebagai suatu proses evaluasi dan pengembangan dalam bidang pendidikan, Indonesia berpartisipasi dalam Program for International Student Assessment (PISA) yang dilakukan oleh Organisation Economic Co-operation and Development (OECD). PISA merupakan survei tingkat internasional untuk menilai sejauh mana siswa telah memperoleh pengetahuan dan keterampilan utama yang penting untuk berpartisipasi dan berkontribusi penuh terhadap kehidupan sosial ekonomi, serta menilai siswa dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan siswa di lingkungan yang tidak dikenal, baik di dalam maupun di luar sekolah (OECD, 2019:34).
Bagaimana hasil Indonesia pada PISA 2018?
Pada PISA 2018, Indonesia berpartisipasi dengan melibatkan 12.098 siswa dengan 399 sekolah, mewakili 3.768.508 siswa berusia 15 tahun atau 85% dari total populasi anak berusia 15 tahun (OECD, 2018:9). Pada hasil PISA 2018 dalam bidang matematika, Indonesia menempati level 1 yang termasuk pada level bawah dengan skor rata-rata 379, cukup jauh berada di bawah rata-rata OECD yaitu 489 (Schleicher, 2019:7). Sekitar 28% siswa di Indonesia mencapai level 2 atau lebih tinggi dalam matematika (rata-rata OECD: 76%). Sekitar 1% siswa di Indonesia mendapat nilai di level 5 atau lebih tinggi dalam matematika (rata-rata OECD: 11%). Terlihat pada level 5 Indonesia memiliki rentang yang cukup jauh dengan rata-rata negara OECD.
Secara keseluruhan pencapaian hasil matematika Indonesia masih berada pada level bawah atau rendah dalam PISA 2018. Tentunya terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi ketercapaian kinerja matematika Indonesia dalam PISA. Salah satunya tingkat pendidikan ibu menjadi salah satu variabel yang diukur dalam PISA 2018. Berdasarkan hasil penelitian (Reskia et al., 2014:82) menyatakan bahwa tingkat pendidikan orang tua mempengaruhi prestasi anaknya melalui cara yang diterapkan dalam membimbing atau mengarahkan anaknya dalam belajar. Penelitian Pakpahan (2016:339) menyatakan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan ibu maka semakin meningkat capaian peserta PISA 2012. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan ibu memiliki pengaruh yang cukup baik terhadap ketercapaian hasil skor matematika. Berdasarkan hal ini, tingkat pendidikan ibu menjadi suatu variabel penting untuk melihat bagaimana pengaruhnya terhadap pencapaian hasil skor matematika pada PISA 2018.
Selain prediktor tingkat pendidikan ibu, terdapat juga prediktor kegemaran dalam membaca yang menjadi prediktor yang berkaitan pada kepribadian siswa atau level siswa. Berdasarkan OECD (2019:33) terdapat pergeseran hakikat membaca pada PISA 2009 hingga 2018. Siswa cenderung lebih banyak membaca dalam format daring dengan konten bacaan yang mengarah pada jadwal, kiat-kiat, atau resep. Hal ini menarik dan penting untuk melihat bagaimana pengaruh prediktor kesenangan atau kegemaran dalam membaca terhadap pencapaian hasil skor matematika pada PISA 2018, setelah mengalami pergeseran hakikat dalam membaca atau yang cenderung dipengaruhi oleh teknologi. Dua faktor tersebut kami uji statistik untuk menentukan pengaruhnya terhadap capaian skor matematika
Bagaimana analisis data dan hasilnya?
Dari data PISA 2018 kami analisis berbantuan program R. Analisis pemodelan multilevel digunakan dalam program R untuk membantu peneliti menemukan hasil penelitian. Pemodelan multilevel yang pertama adalah model tanpa prediktor atau null model. Model ini hanya berisi variabel dependen yaitu skor kemampuan matematika siswa di Indonesia. Secara praktis, model tanpa prediktor ini digunakan sebagai model dasar untuk membandingkan hasilnya dengan dua model lainnya. Model lain yang dimaksud adalah model dengan dua variabel prediktor yaitu pendidikan ibu dan kegemaran membaca serta model dengan penambahan interaksi kedua prediktor.
Berdasarkan hasil penelitian ini, pencapaian matematika siswa dipengaruhi oleh tingkat pendidikan ibu dan kegemaran membaca siswa. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pentingnya kegemaran membaca dan tingkat pendidikan ibu dalam mencapai hasil matematika siswa yang optimal. Kegemaran membaca seharusnya ditanamkan kepada anak sejak dini dengan memberikan motivasi kepada anak tersebut. Kegemaran yang yang dapat menambah kualitas diri seseorang merupakan hal menguntungkan. Selain itu, tingkat pendidikan ibu akan berpengaruh pada bagaimana seorang ibu dalam mendidik anaknya ketika sedang dirumah. Ibu dengan tingkat pendidikan lebih tinggi cenderung memberikan motivasi dengan strategi yang lebih baik kepada anak agar anak tersebut dapat mencapai hasil belajar yang optimal.
Secara keseluruhan, temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pendidik dan orang tua harus mempertimbangkan strategi yang efektif agar anak dapat memiliki motivasi yang tinggi terhadap membaca dalam kaitannya sebagai faktor pencapaian skor matematika. Selain itu, tingkat pendidikan orang tua khususnya ibu juga perlu menjadi pertimbangan agar seorang siswa dapat mencapai hasil yang optimal dalam belajar khususnya matematika.
“Ciptakan Inovasi, Tebarkan Manfaat”
“SMK Negeri 10 Semarang, dari Semarang untuk Indonesia”
Penulis: Andhika Wildan Krisnamurti, S.Pd., M.Pd., Guru Mapel Matematika
Penyunting: Tim Humas dan Literasi

Sungguh luar biasa, semoga para calon ibu rumahtangga akan memahami PISA, Karena sangat berpengaruh terhadap kelangsungan CALISTUNG tidak hanya PIPOLANDO dalam pelajaran matematika Kepada anak anaknya dikelak kemudian hari nanti 👍💪👍
Beri Komentar