Info Sekolah
Senin, 02 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

Perjalanan Kesadaran Membangun SMK Negeri 10 Semarang

Diterbitkan :

Hari-hari ini saya sedang berjibaku mempersiapkan Lomba Anugerah Prestasi 2025 yang diselenggarakan oleh Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Provinsi Jawa Tengah. Di tengah tumpukan berkas, revisi data, dan simulasi presentasi, ada sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar lomba atau ajang penghargaan. Bagi saya, ini adalah ruang refleksi, tempat saya menengok kembali perjalanan kepemimpinan selama hampir empat tahun di SMK Negeri 10 Semarang — sebuah perjalanan yang penuh dinamika, pembelajaran, dan perubahan batin yang tak kalah penting dibandingkan perubahan sistem atau capaian kinerja.

SMK Negeri 10 Semarang, dengan segala kompleksitasnya, telah menjadi laboratorium nyata bagi kepemimpinan saya. Di sana, setiap keputusan selalu diuji oleh kenyataan: keterbatasan sumber daya, tantangan budaya kerja, dan keinginan untuk membawa organisasi ini menjadi lebih relevan dan berdaya saing. Dalam prosesnya, saya menyadari bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang mengarahkan orang lain, melainkan juga tentang memimpin diri sendiri melewati berbagai zona kesadaran.

Apa saja zona itu? mari kita bahas satu persatu :

Zona 1: Control Zone – Ketika Segalanya Harus Sempurna

Di awal masa jabatan, saya berada sepenuhnya dalam Control Zone. Saat itu saya percaya bahwa pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu memastikan setiap detail berjalan sesuai rencana. Saya ingin semuanya sempurna: laporan harus tepat waktu, program harus sesuai target, dan setiap kegiatan harus menggambarkan standar yang tinggi. Saya merasa bahwa dengan mengendalikan setiap aspek, hasil terbaik akan muncul.

Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Semakin banyak saya mengontrol, semakin kecil ruang yang tersisa bagi tim untuk tumbuh. Guru-guru mulai bergantung pada instruksi, staf menunggu arahan, dan inisiatif pribadi perlahan memudar. Saya seperti pusat gravitasi yang menyerap semua energi, hingga tim kehilangan momentumnya sendiri.

Di suatu titik, saya menyadari bahwa perfeksionisme yang saya banggakan justru menjadi jebakan. Ia menumbuhkan rasa aman semu, namun mengikis kepercayaan dan kreativitas tim. Saya mulai bertanya pada diri sendiri: apakah saya benar-benar memimpin, atau hanya mengatur? Dari sanalah pelan-pelan saya belajar melepaskan sebagian kontrol, walau dengan rasa cemas yang besar.

Zona 2: Fear Zone – Ketakutan Melepas Kendali

Transisi dari control menuju trust tidaklah mulus. Saya memasuki fase yang bisa disebut Fear Zone — masa ketika rasa takut dan keraguan muncul silih berganti. Saat mulai memberi ruang kepada tim untuk mengambil keputusan sendiri, saya dihantui pertanyaan: apakah mereka akan melakukannya dengan baik? Apakah hasilnya akan sesuai ekspektasi?

Saya belajar bahwa melepas kendali bukan berarti kehilangan arah, melainkan memberi kesempatan bagi orang lain untuk tumbuh. Namun, bagi seorang pemimpin yang terbiasa mengatur segalanya, membiarkan ketidakpastian menjadi bagian dari proses adalah hal yang menakutkan.

Ada momen-momen di mana keputusan tim tidak sejalan dengan bayangan saya. Saya tergoda untuk kembali mengontrol, memperbaiki, bahkan menggantikan. Tapi di situlah ujian sejati terjadi. Saya harus belajar mempercayai proses, bukan hanya hasil. Saya sadar, kepemimpinan sejati menuntut keberanian untuk menerima risiko dan kesalahan sebagai bagian dari pembelajaran bersama.

Zona 3: Reflection Zone – Menemukan Makna di Tengah Proses

Setelah melewati kecemasan dan ketakutan, saya mulai memasuki Reflection Zone — ruang hening di mana saya menengok kembali perjalanan, menganalisis keputusan, dan mencoba memahami pola yang selama ini saya jalani. Saya belajar bahwa setiap kegagalan memiliki pesan, dan setiap keberhasilan menyimpan pelajaran tersembunyi.

Dalam fase ini, saya berusaha jujur pada diri sendiri. Saya akui bahwa ada saat-saat di mana ego kepemimpinan membuat saya lupa bahwa tim bukanlah alat, melainkan mitra. Saya juga belajar bahwa rasa ingin mengendalikan sering kali berakar dari ketidakpercayaan, bukan ketegasan.

Proses refleksi ini mengubah cara saya memandang kepemimpinan. Saya mulai memimpin bukan untuk membuktikan kemampuan, melainkan untuk memahami makna. Dalam berbagai rapat dan diskusi, saya lebih banyak mendengarkan. Saya mulai menanyakan bukan “Apa yang belum kamu lakukan?”, melainkan “Apa yang bisa saya bantu agar kamu bisa melakukannya lebih baik?”

Perubahan sederhana dalam cara bertanya itu ternyata berdampak besar. Suasana kerja menjadi lebih terbuka, komunikasi lebih jujur, dan tim mulai berani menyampaikan gagasan tanpa takut dikoreksi. Saya belajar bahwa leadership is not about control, but about connection.

Zona 4: Trust Zone – Kepemimpinan yang Memberdayakan

Dari refleksi itu, saya perlahan memasuki Trust Zone. Ini adalah fase di mana saya benar-benar mulai percaya pada tim dan proses yang telah kami bangun bersama. Saya tidak lagi merasa harus hadir di setiap pengambilan keputusan, karena saya tahu nilai-nilai yang kami tanam sudah menjadi fondasi yang kokoh.

Di sinilah saya merasakan perubahan besar. Kolaborasi tumbuh dengan alami, tanggung jawab tidak lagi dibebankan tetapi dibagikan. Wakil Kepala Sekolah mulai mengambil peran sebagai inisiator, bukan pelaksana. Program-program sekolah lahir dari bawah, dari semangat kolektif, bukan dari instruksi.

Saya melihat bagaimana budaya kerja perlahan berubah. Ruang manajemen tidak lagi sunyi, melainkan dipenuhi diskusi tentang pengembangan sekolah. Saya merasakan energi baru yang tidak saya ciptakan sendiri, melainkan muncul dari rasa memiliki bersama.

Kepercayaan ternyata bukan hanya memberi ruang, tetapi juga memberi makna. Saya belajar bahwa ketika pemimpin berhenti berusaha menjadi pusat segalanya, justru di situlah organisasi menemukan kekuatannya.

Zona 5: Impact Zone – Kepemimpinan yang Meninggalkan Jejak

Zona terakhir dalam perjalanan ini saya sebut Impact Zone — fase di mana kepemimpinan bukan lagi tentang pengaruh pribadi, tetapi tentang dampak yang berkelanjutan. Di titik ini, saya melihat perubahan bukan hanya pada sistem, tapi juga pada ekosistem.

Program literasi yang dulu sekadar agenda kini tumbuh menjadi budaya. Guru-guru menjadi narasumber di luar sekolah, dan kolaborasi antarjurusan melahirkan inovasi yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Saya mulai memahami bahwa kepemimpinan sejati tidak diukur dari seberapa lama kita memegang jabatan, tetapi seberapa dalam nilai-nilai yang kita tanamkan terus hidup setelah kita pergi. Pemimpin di Impact Zone bukanlah sosok yang ingin dikenang, tetapi mereka yang meninggalkan sistem yang terus berkembang tanpa harus bergantung pada dirinya.

Saya belajar untuk rendah hati, untuk tidak selalu menjadi pusat perhatian. Kini saya melihat diri saya lebih sebagai penjaga nilai, bukan pengendali sistem. Saya bahagia ketika melihat orang lain berhasil, bahkan tanpa perlu nama saya disebut. Karena pada akhirnya, kepemimpinan bukan tentang kemegahan, melainkan tentang legacy — warisan nilai yang memberi makna jangka panjang bagi banyak orang.

Kepemimpinan sebagai Perjalanan Kesadaran

Jika saya menengok ke belakang, lima zona ini terasa seperti peta perjalanan batin seorang pemimpin: dari kontrol menuju kepercayaan, dari ketakutan menuju keberanian, dari ego menuju empati. Saya menyadari bahwa kelima zona itu bukan garis lurus, melainkan siklus. Setiap kali tantangan baru muncul, saya bisa saja kembali ke Fear Zone atau Reflection Zone — dan itu tidak apa-apa. Karena kepemimpinan sejati bukan tentang selalu berada di puncak, melainkan tentang terus belajar naik setiap kali jatuh.

Refleksi ini membuat saya lebih memahami bahwa kepemimpinan adalah perjalanan kesadaran yang tak pernah selesai. Ia tumbuh bersama waktu, pengalaman, dan terutama, kejujuran terhadap diri sendiri. Saya tak lagi menilai diri saya dari jumlah penghargaan yang diraih, melainkan dari seberapa banyak hati yang tersentuh dan seberapa besar dampak yang saya tinggalkan.

Di penghujung masa jabatan ini, saya hanya berharap satu hal: semoga apa yang telah saya tanam di SMK Negeri 10 Semarang bisa terus tumbuh dan memberi manfaat bagi banyak orang. Semoga semangat kolaborasi, refleksi, dan kepercayaan yang kami bangun tak berhenti di ruang kerja saya, melainkan menjalar ke setiap ruang kelas, setiap interaksi, dan setiap langkah kecil perubahan di sekolah ini.

Dan jika suatu hari nanti saya menengok kembali perjalanan ini, saya ingin bisa berkata dengan tenang: saya mungkin tidak sempurna, tapi saya telah berusaha menjadi pemimpin yang sadar — pemimpin yang belajar, tumbuh, dan meninggalkan jejak yang bermakna.

Semoga saya bisa memberikan yang terbaik untuk SMK Negeri 10 Semarang di akhir masa jabatan ini.

Penulis : Ardan Sirodjuddin, M.Pd, Kepala SMK Negeri 10 Semarang

Artikel ini memiliki

15 Komentar

Helmi Yuhdana H., S.Pd., M.M.
Minggu, 12 Okt 2025

Mantaaabb’s . . . 😎

Balas
Joko Suwignyo
Minggu, 12 Okt 2025

LEADER SMK N 10 yang inspiratif 👍👍👍

Balas
RIZKY TEGUH PRASTYA
Minggu, 12 Okt 2025

terima kasih pak ardan

Balas
Nindar
Minggu, 12 Okt 2025

Alhamdulillah

Balas
Digna Palupi
Minggu, 12 Okt 2025

Terima kasih Pak Ardan sudah menjadi pemimpin yang selalu berusaha mengembangkan SMKN 10 Semarang lebih hebat. 👍🏻👍🏻

Balas
Dyah Narwati
Minggu, 12 Okt 2025

Menginspirasi, sukses pak Ardan

Balas
Nanik
Minggu, 12 Okt 2025

Tidak terasa mata ini berkaca-kaca saat membaca tulisan pak Ardan ini bukan sekedar artikel tp ini nyawa, nyawa SMKn 10 semarang yg berproses dri tdak dipandang smpai akhirnya mnjdi yg terpandang🥹 teriamakasih pak Ardan saya bangga menyekolahkan Putra saya disana smoga sebelum putra saya lulus bapak masih ada disana mendampingi putra kami,
Sekali lagi terimakasih pak Ardan dedikasi yg anda berikan sudah mnjdikan smk.10 dan kelurga didalamnya smkin berprestasi dan berkembang sangat sangat baik🙏

Balas
Dian Primayanto
Minggu, 12 Okt 2025

Sukses selalu pak ardan..

Balas
Eni Supriyati
Minggu, 12 Okt 2025

Terimakasih saya telah dijinkan bergabung di SMK N10 Semarang dibawah kepemimpinan bapak Ardan , meskipun saya baru bergabung pada THN 2023 , tetapi saya sudah mengikuti perjalanan bapak sebagai seorang kepala sekolah pertama di SMK N1 atap Tuntang .
Saya belajar menjadi seorang pemimpin yang ideal dari beliau yang insya Alloh akan saya terapkan di organisasi kemasyarakatan di luar sekolah yang saya pimpin .
Secara pribadi saya berharap bapak masih memimpin di SMK N10 Semarang sampai mencapai puncak kesuksesan . Namun jika bapak harus pindah semoga naik ke jenjang yg lebih tinggi dan semoga tim manajemen sekarang bisa melanjutkan dan mengembangkan program dan kebiasaan baik yg sekarang sudah ada. Dan tidak berhenti jika bapak sudah TDK memimpin.
Sukses buat pak Ardan dan sehat selalu.

Balas
Digna Palupi
Minggu, 12 Okt 2025

Terima kasih Pak Ardan sudah menjadi pemimpin yang inspiratif dalam mengembangkan SMKN 10 Semarang lebih hebat. 👍🏻👍🏻

Balas
Nur Kholifah
Minggu, 12 Okt 2025

Terima kasih Pak Ardan sudah menjadi pemimpin yg menghebatkan SMKN 10 Semarang

Balas
SYAYAROH
Minggu, 12 Okt 2025

Alhamdulillah, sukses selalu Pak Ardan

Balas
Miftakhurrofi'i
Senin, 13 Okt 2025

Alhamdulillah…
Terima kasih pak Ardan..

Balas
Desy Pratiwi
Selasa, 14 Okt 2025

Terimakasih Pak Ardan.
Tulisan – tulisan Bapak memberi inspirasi dan motivasi dikala masalah datang menghampiri.
Menyadarkan bahwa kita tidak sendiri masih banyak tangan yang bersedia menolong, memberi dan berbagi.
Tidak ada kata untuk berhenti belajar.

Balas
Ririrn Masrikhah
Rabu, 15 Okt 2025

MAsyaAllah…. Luar Biasa… jangan berhenti untuk terus menginspirasi kami semua ya pak… SMK 10 monceerrr…. bersama KS yang selalu bergerak dan menggerakkan orang lain… Kereeenn

Balas

Beri Komentar