Info Sekolah
Senin, 02 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

Pengaruh Penggunaan Metode Pembelajaran Deep Learning Untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PSPTKR

Diterbitkan :

Pendidikan kejuruan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki peran krusial dalam mempersiapkan tenaga kerja yang kompeten sesuai bidang yang ditempuh. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa keberhasilan sebuah SMK dalam mendidik siswanya akan berpengaruh langsung pada kualitas sumber daya manusia yang siap bersaing di dunia industri. Di SMK, pembelajaran tidak hanya sebatas penguasaan teori, tetapi juga keterampilan praktis yang harus diinternalisasi siswa agar mampu diterapkan dalam situasi nyata. Jurusan Teknik Kendaraan Ringan misalnya, merupakan salah satu jurusan yang membutuhkan keseimbangan antara pemahaman pengetahuan dasar, konsep mekanika, dan keterampilan praktik di lapangan. Siswa dituntut memiliki skill yang mumpuni, baik saat berada di bengkel sekolah maupun ketika kelak menghadapi tantangan di dunia kerja.

Salah satu mata pelajaran yang sangat strategis di jurusan Teknik Kendaraan Ringan adalah Pemeliharaan Chassis dan Pemindah Tenaga Kendaraan Ringan. Mata pelajaran ini menuntut pemahaman mendalam karena berkaitan langsung dengan sistem kerja kendaraan yang cukup kompleks. Siswa tidak hanya harus menghafal teori, tetapi juga memahami alur kerja komponen, interaksi antarbagian, hingga implikasi teknis yang muncul ketika sebuah komponen mengalami kerusakan. Sayangnya, kenyataan di kelas sering kali berbeda dengan harapan. Tidak sedikit siswa kelas X atau XI yang merasa kesulitan ketika berhadapan dengan materi ini. Mereka menganggap pelajaran terlalu rumit karena banyak istilah teknis yang harus diingat dan cara kerja sistem yang abstrak jika tidak diperlihatkan melalui simulasi atau praktik langsung. Akibatnya, motivasi belajar menurun dan keterlibatan aktif siswa dalam pembelajaran pun berkurang.

Banyak guru mengakui bahwa tantangan terbesar dalam mengajar mata pelajaran ini bukan hanya pada kelengkapan sarana praktik, tetapi juga pada bagaimana membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa. Metode konvensional berupa ceramah dan penjelasan teknis kadang membuat siswa jenuh. Mereka hanya mendengarkan tanpa benar-benar memahami, lalu mencatat tanpa bisa mengaitkan informasi tersebut dengan realitas kendaraan yang mereka lihat sehari-hari. Kondisi ini membuat pembelajaran terasa sekadar formalitas, tidak memberi pengalaman bermakna yang menempel dalam ingatan siswa.

Untuk mengatasi hal tersebut, perlu sebuah pendekatan yang lebih mendalam, yang bukan hanya sekadar mentransfer informasi, tetapi juga membangun kesadaran, pemahaman, serta keterlibatan siswa secara aktif. Di sinilah metode deep learning hadir sebagai jawaban yang relevan. Deep learning dalam konteks pendidikan bukanlah istilah teknologi artificial intelligence yang kerap kita dengar, melainkan sebuah pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam terhadap materi, keterkaitan antara teori dan praktik, serta kemampuan mengaplikasikan konsep dalam berbagai situasi nyata. Seperti yang disampaikan Entwistle (2009), deep learning menuntut siswa untuk benar-benar memahami makna materi pelajaran, bukan hanya mengingat secara dangkal.

Melalui metode deep learning, siswa diajak untuk masuk lebih jauh ke dalam materi yang sedang dipelajari. Misalnya, ketika membahas sistem pemindah tenaga, guru tidak hanya menjelaskan fungsi transmisi, diferensial, dan kopling, melainkan juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk menganalisis hubungan kerja antar komponen tersebut. Diskusi kelas diarahkan pada pertanyaan-pertanyaan kritis: Mengapa kopling harus ditekan sebelum memindahkan gigi? Bagaimana konsekuensinya jika diferensial tidak berfungsi? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini melatih siswa berpikir analitis, menghubungkan teori dengan praktik, sekaligus membangun logika teknis yang kokoh.

Penerapan deep learning juga menekankan pentingnya pengalaman langsung. Materi yang sulit dicerna hanya melalui teks dapat menjadi lebih mudah dipahami dengan adanya video simulasi, media interaktif, atau praktik di bengkel. Siswa bisa mengamati bagaimana roda berputar ketika gigi dipindahkan, bagaimana tenaga mesin dialirkan ke roda penggerak, hingga bagaimana kerusakan kecil di salah satu komponen memengaruhi kinerja sistem secara keseluruhan. Dari sini, siswa bukan hanya mengingat alur kerja, melainkan juga memahami alasan teknis di balik setiap prosedur.

Dampak positif dari pendekatan deep learning sangat terasa dalam pembelajaran. Motivasi siswa meningkat karena mereka merasa materi pelajaran lebih masuk akal dan dekat dengan pengalaman nyata. Rasa ingin tahu muncul ketika mereka dihadapkan pada permasalahan yang membutuhkan analisis, bukan sekadar hafalan. Keterlibatan aktif juga tumbuh, karena siswa terdorong untuk bertanya, berdiskusi, bahkan berdebat secara sehat dalam mencari jawaban. Proses ini membangun dinamika kelas yang hidup, jauh dari kesan membosankan.

Dorongan motivasi dalam pembelajaran berbasis deep learning muncul dari dua sisi sekaligus: internal dan eksternal. Secara internal, siswa termotivasi karena merasa menguasai sesuatu yang penting dan relevan dengan masa depan mereka. Mereka tahu bahwa pemahaman mendalam tentang chassis dan pemindah tenaga bukan hanya untuk ujian, melainkan bekal yang akan mereka gunakan saat bekerja di bengkel atau industri otomotif. Secara eksternal, motivasi datang dari guru, teman sekelas, maupun lingkungan belajar yang mendukung eksplorasi. Kelas yang memberikan ruang bagi siswa untuk mencoba, bertanya, dan mengemukakan pendapat menciptakan atmosfer positif yang memperkuat motivasi tersebut.

Lebih jauh, deep learning juga membentuk keterampilan berpikir tingkat tinggi. Siswa dituntut untuk tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mengkritisi, menganalisis, dan merefleksikan pemahaman mereka. Mereka belajar mengaitkan konsep satu dengan yang lain, sehingga terbentuk jaringan pengetahuan yang lebih kokoh. Misalnya, pemahaman tentang sistem kopling tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan pemahaman tentang transmisi dan diferensial. Pemahaman semacam ini membuat siswa mampu menjelaskan secara logis mengapa urutan kerja tertentu harus dilakukan, serta apa dampaknya jika urutan tersebut dilanggar.

Keunggulan metode deep learning juga tampak dari hasil praktik siswa. Menurut penelitian Putra et al. (2022), penggunaan deep learning dalam pembelajaran menghasilkan tingkat kesalahan yang lebih rendah dalam praktik perbaikan kendaraan. Siswa lebih memahami urutan kerja, mampu menjelaskan alasan teknis dari setiap tindakan, serta lebih percaya diri dalam mengambil keputusan ketika menghadapi masalah nyata. Hasil belajar yang dicapai bukan hanya berupa nilai di atas kertas, tetapi keterampilan nyata yang siap digunakan di lapangan.

Selain itu, deep learning membantu siswa untuk mengatasi rasa bosan. Alih-alih merasa terbebani dengan tumpukan materi teknis, mereka justru merasakan kontrol atas proses belajar yang dijalani. Mereka lebih aktif karena terlibat dalam pencarian jawaban, bukan hanya menerima penjelasan pasif. Dengan cara ini, siswa tidak hanya belajar tentang mesin, tetapi juga belajar bagaimana belajar: bagaimana menggali informasi, menghubungkan pengetahuan, dan memaknai pengalaman.

Dengan segala manfaatnya, jelas bahwa metode deep learning menjadi salah satu strategi pembelajaran yang perlu terus dikembangkan dalam pendidikan kejuruan, khususnya di SMK jurusan Teknik Kendaraan Ringan. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, melainkan sebagai fasilitator yang membimbing siswa menemukan makna dari setiap pengetahuan yang dipelajari. Lingkungan kelas tidak hanya menjadi ruang transfer informasi, tetapi juga arena eksplorasi, refleksi, dan pembentukan keterampilan berpikir kritis.

Pendidikan kejuruan memang dituntut menghasilkan lulusan yang siap kerja, tetapi kesiapan itu tidak cukup hanya dengan hafalan prosedur. Dunia kerja membutuhkan tenaga yang mampu berpikir analitis, memahami sebab-akibat teknis, dan berani mengambil keputusan berdasarkan logika yang benar. Semua ini hanya bisa dibentuk melalui pembelajaran yang bermakna, mendalam, dan berorientasi pada penguasaan konsep yang utuh.

Akhirnya, deep learning bukan sekadar metode, tetapi sebuah filosofi belajar yang mengubah cara pandang siswa terhadap ilmu yang mereka pelajari. Dari sekadar rutinitas menghafal dan mengulang, menjadi pengalaman bermakna yang menumbuhkan pemahaman, keterampilan, dan karakter. Dengan mengadopsi pendekatan ini, pendidikan kejuruan di SMK tidak hanya mencetak lulusan yang kompeten secara teknis, tetapi juga cerdas secara intelektual, kreatif, serta memiliki motivasi kuat untuk terus belajar sepanjang hayat.

“Ciptakan Inovasi, Tebarkan Manfaat”

“SMK Negeri 10 Semarang, dari Semarang untuk Indonesia”

Penulis: Ahmad Nur Salim, Mahasiswa Lantip 5 Unnes

Penyunting: Tim Humas dan Literasi

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar